New Post

Rss

5 Februari 2015
Menganggur itu bukan Aib

Menganggur itu bukan Aib

Ceritanya kemarin gue baru baca koran Lampu Merah, iseng-iseng nyari info job fair, gue mau ikutan kalo ada. Niatnya bukan nyari lowongan kerja sih, tapi mau berdiri di depan meja registrasi sambil nampangin spanduk bertulis,
"SITU NGANGGUR? MALU SAMA NEGARA WOI!", kemudian gue dikejar-kejar, ketangkep, dibakar massa,
...

Ehem,
Begitulah, menganggur setelah melalui masa study yang lama memang menjadi salah satu masa sulit dalam hidup, kita akan menghadapi tekanan dari berbagai sudut: teman, saudara, bahkan orang tua, tapi yang paling menekan diri kita saat itu adalah diri kita sendiri, yaitu ego. Ngerti nggak? Gue nggak.

Jadi, bagi kamu yang lagi berbangga hati karena belum lama wisuda, selamat, kamu baru aja melewati fase hidup yang paling mudah,


Anyway, ketika kita melihat ada fresh graduate yang hanya baru beberapa hari wisuda kemudian mendapat kerja, kita selalu menganggap mereka adalah orang-orang yang beruntung, atau bisa jadi mereka main dukun.

Gue pribadi, harus cukup bersabar menanti panggilan interview berminggu-minggu dengan mengandalkan pencarian kerja online --gue nggak mau menyebut namanya, sebut saja jobstreet.com--, yang membuat gue makin envy dan emosi dengan orang-orang yang lebih cepat mencari kerja.

Memang agak menyulitkan ketika lulus, IPK kita nggak sampe minimal 3,00. Karena nggak bohong, gue tinggal serumah dengan sepupu yang kuliah diploma dengan lulus IPK di atas 3,00., setiap hari kerjaannya pergi interview kerja,
"Mau ke mana lo?"
"Interview."
"Buset, tiap hari interview?"
"Iya, sampe bingung nih banyak panggilan."
"Ada yang keterima nggak?"
"Nggak."
"Pfftt.", gue ketawa, dan kemudian digeplak pake ijazahnya.
Hampir setiap hari gue melihat dia pergi menggunakan blazer dan ijazahnya untuk pergi wawancara, sedangkan gue, hanya bisa duduk di depan TV main video game sambil ngemil membuncitkan perut.

Entah kenapa, ini aneh banget, walaupun berpuluh-puluh lamaran kerja udah gue masukin ke setiap perusahaan, kagak ada satupun panggilan wawancara, sedangkan sepupu gue, seperti tanpa perlu susah payah, dengan mudah dia dapet panggilan kerja, dan dengan semena-mena pula dia menolak tawaran itu.
"Bagaimana Mba dengan tawaran kami?"
"Maaf ya Mas, aku gak bisa, kita teman aja yah."
"Ta..tapi tapi... Mba."
"<tut tut tut tut>"
Begitulah sepupu gue, sudahlah, balik ke topik.

Hal berat lainnya ketika tak kunjung bekerja, adalah nggak nyamannya kuping dengan pertanyaan, "Kapan kerja?", "Kok masih nganggur?", "Tetangga udah kerja loh.", "Saudara kita baru lulus langsung kerja loh.", "Kok masih di rumah.", "Kapan kamu bahagiain orang tua?"

Lama-lama denger begituan, kuping gue jadi panas (siram paracetamol). Gue nggak rela kalo dipanggil pengangguran, dan nggak ada orang yang rela dipanggil begitu, kesannya terlalu negatif. Makanya setiap kali ada yang sewot sama gue -terutama orang tua, gue akan bilang,
"Heh, kapan kerja? Nganggur mulu."
"Mak, ini bukan nganggur, tapi lagi libur."
"...", dilempar ulekan.
Orang tua gue dan mungkin orang tua kalian, mereka punya ekspektasi lebih baik ketika kita bisa sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang tua, itu adalah prestasi. Mungkin dulu kita sering dielu-elukan orang tua, jadi kebanggaan mereka. Namun, ketika keadaan di mana kita menganggur begini, prestasi-prestasi itu udah nggak dianggap mereka lagi. Bagi mereka itu masa lalu, mereka udah move on.

Makanya, ketika orang tua melihat keponakan atau orang lain lebih mudah mencari pekerjaan dibanding anaknya sendiri, mereka seakan menganggap bahwa membiayai kita kuliah adalah hal sia-sia.

Menyedihkan memang, tapi seandainya orang tua tau, walau pun kita belum mendapat kerja dan lebih sering main video game, kita ini sangat berkontribusi bagi dunia dalam memproduksi gas CO2 yang sangat bermanfaat untuk tumbuhan. Mereka harus tau, kalau anak-anak mereka sangatlah go green dan peduli terhadap pemanasan global. Nggak penting juga sih.

Tapi gak papa, rasa galau sedikit terobati ketika tau kabar kalo temen gue yang lulus cumlaude, belum juga dapet kerja. Pffftt. Mungkin penderitaan dia lebih besar dari gue. Hari itu gue sadar, makanya, punya IPK nggak usah gede-gede, kalo susah nyari kerja kan ngenes. 

***

Kemarin gue membaca sebuah data, ternyata di tahun 2010, angka pengangguran nasional mencapai 8,3 juta orang (BPS). Dan di tahun 2012, data dari asisten deputi Bidang Kepeloporan Pemuda Kemenpora, angka pengangguran terdidik mencapai 41,81% dari total pengangguran nasional, yang tiap tahun terus bertambah. Nggak heran, bisnis job affair ada di mana-mana. "Ikut buka stand yuk?"

Gue nggak tau siapa yang harus bertanggung jawab atas masalah ini, tapi setelah gue pikir-pikir, orang yang paling bertanggung jawab atas masalah ini bukanlah Pak Jokowi, karena "Itu bukan urusan saya", melainkan para Sarjana Bisnis. Kenapa sarjana bisnis? Karena mereka bukannya buka bisnis, malah ikutan nyari kerja. Makanya, tolong bilangin anak BEM, jangan beraninya ngedemo presiden doank, coba itu sarjana bisnis yang lagi kerja dan juga sarjana pertanian yang kerja di bank tolong didemo juga.

Haduh, haduh,
Begitulah ya kondisi anak muda jaman sekarang, mereka lebih serius sama hal yang nggak penting, tapi susah serius sama hal yang penting.

Bukannya sok-sok ngoreksi sih, tapi ada benernya juga ketika paradigma orang untuk kuliah adalah biar mudah mencari kerja, padahal fakta udah ada di mana-mana. Dan makin parah ketika mereka berpikir, wisuda tepat waktu, kuliah semua mudah, skripsi tanpa revisi, lulus nilai bagus, nilai bagus kerja mulus.  

Hidup tidak sebercanda itu. (Eyang Sudjiwotejo).

Nah, bagi kamu yang belum bekerja, semoga segera dapet pekerjaan ya? Salah jurusan itu gak papa, asal jangan salah pekerjaan. Dan selalu ingat dalam diri bahwa, menganggur itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga, ppffttt.

*kabur

Kasih komentar menarik di kolom komentar untuk artikel ini, dan jangan lupa share artikel ini di twitter kamu dengan mention @CAKthemovie dan @joejuhdy untuk dapetin hadiah mulai dari merchendise menarik, tiket premier nonton bareng actress dan actor pemeran CAK The Movie, dan hadiah menarik lainnya.
31 Januari 2015
Pidato Mahasiswa Lulusan Terbaik

Pidato Mahasiswa Lulusan Terbaik

Ketika ada orang yang bilang, "IPK itu nggak penting",
Bisa dipastikan, mahasiswa yang setuju dengan kata-kata itu adalah mahasiswa yang IPK-nya nangkring. Iya kan? Udah ngaku aja lo?! Dasar cemen.

Sedangkan orang-orang yang nggak setuju dengan statement di atas, di antaranya; 1) Mahasiswa yang IPK-nya terlanjur gede, 2) Mahasiswa yang lagi berjuang nge-gedein IPK-nya, 3) Dosen, 4) Tukang fotocopy -yaiyalah.

Pun ketika ngebaca banyak artikel yang ngebahas tentang IPK dan persaingan di dunia kerja, kebanyakan artikel juga membahas bahwa, minimal untuk bisa bekerja di perusahaan bonafit seenggaknya IPK dijaga jangan kurang dari 3,00.

Terus gimana nasib sarjana yang IPK-nya kurang dari itu? Berarti sarjana-sarjana yang nganggur itu adalah sarjana yang IPK-nya kurang dari 3,00?

Dari statement begitu, muncullah keparnoan di lubuk hati para mahasiswa, yang berujung pada kerjaan mereka di kampus yang cuma kuliah, dapet nilai bagus, biar kerja di perusahaan bagus.

Hehe,
Bagi gue, mereka nggak salah, tapi kasian aja, kesannya mereka nggak bisa menikmati masa-masa indah di kuliah, hoek.

Gimana nggak, di kampus kerjaannya kuliah terus, nggak ada waktu untuk mengembangkan diri, nggak sempat punya cerita 'catatan-catatan kuliah'. Belum lagi kalo mahasiswanya salah jurusan -terus aja maksain diri berjuang di bidang yang nggak disuka. Mereka bukanlah mahasiswa yang pintar, tapi mahasiswa yang ketakutan.

---

Beberapa minggu lalu, gue menghadiri undangan kampus sebagai alumnus, di acara wisudaan adik kelas. Lumayan dapet snack gratis, nggak lupa gue bawa gerobak buat angkut nasi box yang nggak kemakan.

Hari itu, gue melihat wajah-wajah wisudawan yang begitu ceria dan bahagia, mereka begitu polos. Walau udah ketebak, paling besok udah pada melakukan praktek bunuh diri karena ditanya terus, "Kapan kerja?"

Seperti biasa, dalam acara seremonial seperti itu, selalu ada pidato dari mahasiswa lulusan terbaik. Biasanya isi pidato mereka seputar ucapan syukur, terima kasih, dan motivasi. Sangat formalitas. Mahasiswa lulusan terbaik, selalu mereka yang punya IPK paling tinggi. Entah penilaiannya memang hanya sekedar IPK, atau memang ada penilaian secara khusus dari kampus.

Apa yang disampaikan mereka selalu sama setiap tahun. Jarang ada yang berkesan, atau yang bisa bikin audience nangis-nangis kayak abis nonton pelem Korea. Padahal, di setiap undangan serupa, gue pengin ada mahasiswa lulusan terbaik yang lebih 'berani' dan 'jujur' tentang perasaan mereka yang sesaat lagi akan berhadapan dengan realita.

Saat-saat kayak gini, gue selalu menyesali diri, dan mulai berandai-andai.

Seandainya waktu wisuda dulu gue yang dikasih kesempatan berpidato, gue akan berusaha mewakili semua perasaan para wisudawan, gue akan berusaha lebih jujur tentang apa yang gue rasa, daripada hanya sekedar menyampaikan pidato formal belaka.

Mungkin pidato gue akan seperti ini,

"Yang terhormat, Dekan beserta jajarannya, dosen yang saya cintai dan tidak saya cintai, untuk temen saya, sahabat saya, dan mantan-mantan saya... oiya, saya nggak punya mantan,  

Assalamualaikum wr wb, dan salam sejahtera bagi kita semua. 

Hari ini saya berdiri di hadapan ratusan orang, di mana biasanya mahasiswa yang punya kesempatan berbicara seperti ini, pasti akan menyampaikan 3 hal umum, 1) terima kasih kepada dosen, orang tua dan kampus, 2) suka cita selama berkuliah, 3) dan kalimat motivasi, yang saya tau pasti dia copy-paste dari kata-kata Mario Teguh. 

Yang sayang sekali mereka lupa, kalau Google dan Wikipedia, lebih banyak membantu daripada dosen-dosen mereka, dan indomie telor lebih sering menemani saat skripsi daripada temen mereka sendiri. Dasar tidak tau terima kasih. 

Kali ini, saya akan mencoba lebih jujur pada diri saya sendiri, walau sebenarnya saya takut menyampaikan ini, bisa-bisa saya batal wisuda. Tapi saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa hal ini perlu dan penting saya sampaikan. Saya ingin menyampaikan tentang apa yang saat ini benar-benar saya rasakan.

Saya melakukan banyak hal untuk mempersiapkan diri ketika lulus nanti, terima kasih untuk dosen dan kampus yang mengajarkan saya banyak hal, saya menjadi pribadi yang rajin menulis, menghitung, merangkum, membuat laporan, dan hal lain yang bisa saya kerjakan agar nilai saya baik dan bagus untuk melamar pekerjaan bagus nantinya. 

Saya tidak berbeda dengan teman-teman yang lain, kita diajarkan pelajaran yang sama, kita punya skill yang sama, walau mungkin angka prestasi kita yang berbeda. Namun dari kesamaan itu, saya berpikir jika kita semua berkompetisi untuk satu bangku lamaran pekerjaan yang sama, apa bedanya kita seperti orang kelaparan yang berebut sepiring nasi, saya tidak suka kompetisi seperti itu, saya lebih mengharapkan agar saya diajarkan untuk saling merangkul. Tapi saat ini, saya bingung harus bagaimana.

Sejak awal saya kuliah, dosen, teman, orang tua, alumni, selalu mewanti-wanti saya agak mempertahankan nilai di batas standar tertentu untuk menjamin pekerjaan yang baik setelah wisuda. Seakan memaksa saya untuk berpikir bahwa, tidak ada karier yang baik apabila saya lulus dibawah nilai standar, yang membuat saya menjadi semakin takut, dan semakin giat masuk kuliah dan menghafal. 

Apakah nilai kuliah yang bagus itu menandakan kita lebih pintar? Tidak, karena ujian kuliah saat ini tidak berhubungan dengan kepintaran, tapi daya ingat.

Setiap kali saya menerima transkrip nilai saya, selalu muncul pertanyaan dalam benak, "Apakah angka ini adalah hal yang benar-benar harus saya perjuangkan?", saya mencoba acuh, saya harus belajar lebih giat lagi, agar aman mencari pekerjaan. Tapi sayang, sampai saat ini, rasa takut itu tidak hilang.

Mungkin perasaan yang saya alami saat ini, akan sama seperti kejujuran Erica Goldson saat dia berpidato dalam moment wisudanya, dia adalah lulusan terbaik di sekolahnya. Dia begitu menginspirasi saya sehingga saya berani berkata jujur seperti ini. Dan hal lain yang membuat saya kagum adalah, dia berpidato saat lulus SMA, masih sangat muda. 

Di akhir pidato saya kali ini, saya berharap kita semua sebagai wisudawan, bisa berpikir kembali di luar batasan pemikiran kita, bahwa keberhasilan tidak ditentukan dengan batasan angka, saya pun tidak akan menyerah, karena selalu ada harapan bagi yang berjuang. Itu saja. Maafkan atas kejujuran saya. Terima kasih. Wassalamualaikum wr wb.

Oiya, serius amat?"

---

Saat kemarin gue ngeliat mahasiswa berpidato, kasian banget dia karena audience -termasuk dosen-dosennya sendiri malah asik sendiri. Mahasiswa yang dicuekin begini nggak akan bisa marah, walaupun sering dimarahin ketika mereka juga cuek ketika dosen nerangin saat kuliah. Nggak adil ya.

Tapi gue yakin, seandainya gue (atau ada mahasiswa) yang berpidato kayak di atas, pasti orang-orang di auditorium yang tadinya ngobrol, main gadget, atau ngemilin snack, akan berhenti sejenak, hening dan focus mengamati gue yang berpidato dengan hikmat. Dan ketika selesai berpidato, gue yakin, mereka akan berdiri sambil memberikan standing applause (sebuah penghormatan tertinggi), dan tentunya juga ngelemparin gue dengan snack box. "Ngomong apa lo? Mati aja lo!?"

Tapi beneran, gue sangat berharap kepada mahasiswa yang ditunjuk sebagai mahasiswa lulusan terbaik nantinya, jangan sampaikan pidato yang biasa-biasa aja, karena udah terlalu hambar, tapi agar bisa mengeluarkan semua uneg-uneg tanpa ada rasa nggak enakan, sehingga menyampaikan pesan yang lebih jujur, tanpa dibuat-buat.

Bukankah negara ini sudah banyak yang berprestasi? Tapi sedikit yang berani jujur?

Ah udah ah,

28 Januari 2015
Catatan Akhir Kuliah The Movie Cooming Soon

Catatan Akhir Kuliah The Movie Cooming Soon

Mengutip sebuah kalimat yang juga gue tulis di novel (sampe sekarang gue nggak tau bedanya novel dan buku, yang jelas Catatan Akhir Kuliah itu bukan skripsi),

"Setiap mahasiswa yang mau jadi sarjana, pasti punya catatan masing-masing. Dan skripsi, hanyalah sebuah catatan akhir kuliah."

Alhamdulillah, jadi inget setahun yang lalu, tanpa disangka, baru satu bulan novel CAK rilis di toko buku -terima kasih untuk Bentang Pustaka, gue langsung dihubungi oleh produser film (DariHati Films) via facebook messanger.

"Dengan Sam? Pengarang novel Catatan Akhir Kuliah?"
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Sam.. mau nggak.."
"Sorry Mas, kita temenan aja yach."
"..."

So, lewat komunikasi yang hangat, gue pun diundang oleh pihak Production House (PH) untuk ketemuan dan berdiskusi perihal kontrak kosan yang belum dibayar. Gue ketemu sama Produser, Sutradara, dan Scriptwriter-nya. Setelah kita sepakat, proses shoting perdana pun dilakukan pada bulan November sampai selesai dengan lancar.

Bagi yang belum tau, CAK The Movie ini mengadaptasi cerita dari novel gue. Kalo kamu udah membaca, pasti kalian sudah mengimajinasikan kehidupan Sam (Muhadkly Acho) dalam aktifitas di perkuliahannya, tentang persahabatan dengan dua temen idiotnya: Sobari (Ajun Perwira) dan Ajeb (Abdur Arsyad), juga cerita komedi-romansa dalam mengejar pujaan hatinya: Kodok (Anjani Dina).

Dan cerita-cerita itu divisualisasikan dalam sebuah film.

Ngomong-ngomong soal novel yang difilemin, pengalaman kita ketika ada film yang based on novel, kebanyakan orang akan berkomentar, "Yah, kok ceritanya beda sama novelnya ya?", "Loh kok gantengan Sam yang asli daripada yang di film ya?", "Loh kok gue ada di sini ya?", atau "Loh kok gue lupa pake celana dalem ya?"

Komentar-komentar begitu pasti akan datang silih berganti, tapi kali ini (setelah kemarin diajak nonton rough preview-nya CAK The Movie), gue ngerasa sangat envy, karena secara jujur gue menyampaikan bahwa penyajian Mas Jay selaku sutradara dan Joe sebagai scriptwriter-nya telah membuat gue sangat terpesona sama film ini.

Baru aja beberapa hari lalu, CAK The Movie (yang masih dalam tahap editing), sudah lock-pic (Istilah dalam perfeleman kalo potongan-potongan scene sudah diedit menjadi rangkaian cerita, kira-kira gitu, gue juga nggak tau ngomong apa.)

PH pun mengundang gue ke studio editing untuk preview watch hasil edit scene-scene tersebut. Gue datang sekaligus mengajak salah satu temen gue, namanya Sastro. Temen gue ini kampret, gue suruh beli dan baca buku gue, tapi yang dia beli malah buku kama sutra.

Kita pun menonton preview tersebut, durasinya xxx menit, gue menonton dari jam 23 malam, dan selesai kira-kira jam 1.30 dini hari. Gue ngantuk banget. Karena undangan untuk nonton itu jam 19 malem, tapi baru bisa nonton jam 23, kampret juga nih orang pelem. Dan, kebetean gue makin menjadi setelah di akhir film ini selesai diputar, "Duh, kalo lebih laku pelem ini daripada novelnya gimana nih?", gue dalam hati, makin bete.

Preview tersebut adalah rangkaian scene yang belum ditambahin efek digital lain seperti soundtrack, CGI, transisi, dan lain-lain, tapi hasilnya udah membuat gue AMAZED banget. Yang tadinya gue ngantuk, setelah nonton itu malah jadi nggak bisa tidur, (ini solusi resolutif buat dosen ketika mereka menghadapi mahasiswa yang tidur di kuliah, yaitu nonton film CAK di kelas). (Terima kasih buat Mas Ryan, editor film-nya, yang juga ngedit film Assalamualaikum Beijing. Keren banget!)



Udah nonton mini teasernya?
Oke lanjut,

Baik dari cerita, karakter, acting, alur, dan lain-lainnya udah mantep banget. Kira-kira 60 menit pertama, gue nggak berhenti ketawa dengan ulah karakter Ajeb (Abdur) yang memang diposisikan sebagai orang gila di sini (aslinya emang udah gila sih), satu studio itu penuh dengan ketawa ngakak orang yang nonton, sampe-sampe gedungnya mau roboh karena gempa. Iya ini lebay.

Acho yang memerankan Sam (gue) juga keren banget, gue nggak tau, mungkin selama proses shooting, dia dengan diam-diam mengamati kehidupan keseharian gue untuk mendalami karakter, "Ja-jangan jangan pas gue mandi ... ", tapi di sini, mungkin ini hasil konspirasi Mas Jay dan Joe, Sam dibuat menjadi karakter yang ngenes banget kehidupannya, jelas gue nggak terima, kan aslinya lebih ngenes -lah?

Ajun sebagai Sobari juga memainkan perannya dengan mantap, yaitu sahabat Sam yang kutu buku dan selalu memberikan motivasi kepada Sam biar jangan menyerah dalam skripsi dan cintanya.

Arrg, nggak ada abisnya kalo gue ceritain satu per satu di sini, gue juga nggak mau ngasih spoilers, cukup sedikit sinopsis singkat aja biar kalian penasaran, penasaran kan? Penasaran donk, plis. Sastro aja (temen gue yang kagak beli dan baca buku gue), dalam perjalanan pulang kami dari studio, kagak berhenti ngasih komentar positif untuk film ini,

"Anjrit, keren banget filmnya. Itu beneran kisah elo, Sam? Gila juga."
"Serius keren?"
"Iya, gue aja nonton sekali masih pengin nonton lagi."
"Gitu?"
"Iya, tapi ada yang kurang."
"Apaan?"
"Elu kurang ganteng."
"...", setir mobilnya gue banting. 


Cooming Soon di bioskop kesayangan kamu. Follow twitter @CAKthemoive dan instagram-nya @Cakthemovieofficial untuk info, snapshots, promo, dan quiznya,

Kasih komentar menarik di kolom komentar untuk artikel ini, dan jangan lupa share artikel ini di twitter kamu dengan mention @CAKthemovie dan @joejuhdy untuk dapetin hadiah mulai dari merchendise menarik, tiket premier nonton bareng actress dan actor pemeran CAK The Movie, dan hadiah menarik lainnya.
13 Desember 2014
Sukses itu Lahir dari Sini ...

Sukses itu Lahir dari Sini ...

Barusan gue membaca artikel di sebuah website, artikelnya ngebahas tentang universitas di Indonesia yang masuk deretan world class university versi QS World University Rangkings; berikut urutannya,

Pic by: theguardian.com
1. Universitas Indonesia
Posisi dunia: 310
Skor: 40,9

2. Institut Teknologi Bandung
Posisi dunia: 461-470

3. Universitas Gadjah Mada
Posisi dunia: di atas 701

4. Universitas Airlangga
Posisi dunia: di atas 701

5. Institut Pertanian Bogor
Posisi dunia: di atas 701

6. Universitas Diponegoro
Posisi dunia: di atas 701

7. Institut Teknologi Sepuluh November
Posisi dunia: di atas 701

8. Universitas Brawijaya
Posisi dunia: di atas 701

Kalo peringkat nomer satu-nya? Seperti tahun-tahun sebelumnya, MIT (USA) masih kokoh di puncak klasemen (bola kali), disusul oleh University of Cambridge (Inggris), Imperial College London (Inggris), Harvard University (AS), dan University of Oxford (Inggris).

Bisa dibayangkan, urutan timnas sepakbola di jejeran dunia aja masih lebih mending ketimbang urutan universitas kita di atas,

Nah, kampus kamu ada di urutan ke berapa? :)

---

Sebelum kamu membaca artikel ini lebih jauh, biar maksud tulisan tersampaikan, kita semua harus sepakat bahwa, kesuksesan seseorang itu nggak dipengaruhi oleh lulusan kampus bagus ... ya apalagi kampus biasa ... ... "Kok elo kampret sih, Sam!?"

Selanjutnya, janganlah kamu selalu terstigma sama media, pendapat orang tua, atau saudara bahwa kalau mau sukses mesti sekolah tinggi, ke universitas bagus, dapet nilai bagus, dan seterusnya. Itu nggak terbukti, nggak ada penelitian yang ngebahas keberpengaruhan variabel-variabel itu.

Terus, kesuksesan itu yang kayak gimana donk, Sam? Kesuksesan itu ... lahir dari sini. *nunjuk ke lobang pantat kepala

Anyway, kenapa MIT atau Harvard bisa jadi universitas terbaik di dunia? Nggak usah banyak data, nggak usah banyak cerita, satu alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu adalah ... hmm, gue juga nggak tau. *dilempar dari gedung rektorat

Cerita punya cerita, tau Bill Gates dan Mark Zuck, kan? Iya, itu tuh, tukang gorengan di depan gerbang kampus.

Kita semua tau kalo kedua orang itu adalah DO dari Harvard. Tapi, pada tau nggak kenapa Bill dan Mark memutuskan untuk berhenti berkuliah? Atau orang-orang seperti Jobs yang juga berhenti dari Reed Collage? Richard Branson? Michael Dell? Lawrence Ellison? Alasannya, apakah karena mereka bego? Apakah karena mereka selalu ditolak cewek? Apakah karena mereka suka ngutang di warteg? Apakah karena mereka suka dikejar-kejar anjing kampus?, atau, Apakah karena mereka kurang ganteng? Jawabannya, nggak, justru itu gue. *merenungi nasib

Gue suka membaca majalah Playboy, setelah gue baca-baca, ternyata Bill dan Mark memilih keluar dari lingkungan kampusnya, (salah satunya) dikarenakan pemahaman dosen-dosen yang disampaikan ke mereka.

Pemahaman apaan tuh?

Kita paham donk, salah satu indikator akreditasi sebuah institusi pendidikan, salah satunya adalah kualitas tenaga pengajar. Nah, apa perbedaan antara dosen di Harvard dengan dosen di (maaf) Indonesia pada umumnya?

Satu hal yang bisa gue simpulkan adalah, ideologi.

Ternyata, dosen-dosen di universitas di atas, nggak hanya menyampaikan apa-apa yang udah ada di buku, tapi juga menyampaikan banyak hal yang 'nggak diajarkan' dan 'nggak dituliskan' di buku-buku diktat mahasiswa.

Beda sama kebanyakan dosen di Indonesia, yang kalo kuliah, hanya ngejelasin apa-apa yang ada di slide presentasi mereka doank, yang mungkin baru 10 tahun sekali mereka update konten materinya, itu pun kalo mereka inget. Mau bukti? Kalo kamu masih simpen slide kuliah tingkat pertama, dan sekarang kamu udah tingkat 5 ke atas (WOI LULUS WOI!), coba minta slide kuliah ke adek kelas kamu, pasti kontennya masih sama.

Oke, nggak semua dosen begitu. Ada juga dosen-dosen kita yang selalu 'niat mengajar' dan 'niat membimbing' kita. Dan kita semua mengidolakan dosen seperti mereka :)

Anyway, gue lanjutin ke topik.

Dari buku bacaan yang gue baca, dosen-dosen mereka (Bill & Mark), selain mengajarkan materi pokok kuliah (yang tentunya tidak membuat mereka tertarik), mereka juga menyampaikan ke mahasiswa, rencana apa yang akan mereka tempuh setelah kuliah, dan dengan terbuka hati menyampaikan bahwa, "Knowledge yang saya ajarkan di bangku kuliah, tidak menjamin masa depan kalian,"

Dosen-dosen mereka sangat honest, menggambarkan dunia kerja yang penuh persaingan, menyampaikan bahwa mahasiswa harus punya sikap dan knowledge khusus agar punya 'skill pembeda', tapi kemudian tidak menuntut mahasiswa harus bisa ini dan itu ketika di kampus, justru mereka menasihati agar keluar dari zona nyaman, menasihati mahasiswa untuk berani mengambil risiko hidup dengan "Do what you love to do."

Nah, gimana dengan kebanyakan kampus di negeri kita? Gue sih nggak mau men-generalisir, tapi bener nggak? Dosen kita itu kebanyakan tugasnya sangat kaku, yaitu, menuntut semua mahasiswa bisa menguasai knowledge yang sama. Jadi pas mahasiswanya lulus, ribuan mahasiswa yang punya knowledge yang sama tadi, 'dipaksa' bersaing untuk mengisi satu bangku lowongan kerja. Apalagi, sekarang kuliah wajib hadir 100%, bisa dibayangkan, gimana caranya mahasiswa punya waktu untuk mencari 'knowledge' yang lain? (Knowledge = waktu buat jalan-jalan ke mol)

Nggak heran kan, kalo kampus itu mirip mesin fotocopy.

---

Duh, daritadi ngebahas kampus mulu, takut dosa ah.
Ternyata, fyi, satu sikap yang dimiliki oleh orang-orang yang berhasil itu adalah tidak hanya think out of the box, melainkan berani untuk jump out of the box (R. Kasali).

Yups. mahasiswa juga harus bisa mengambil sikap, dan juga berani mengambil risiko. "Dimana ngambilnya, Sam? Di rektorat!"

Akhir dari posting ini, semoga bisa bermanfaat, tapi kalo kamu merasa terprovokasi dan marah, kamu boleh banting leptop kamu, aku ikhlas :)

29 Oktober 2014
Tips UTS/ UAS

Tips UTS/ UAS

Lagi ujian ea? Ye-elaaa, masih aja ngikutin begituan bro, pasti kamu belom baca tulisan gue yang ini ya -- UTS itu nggak penting!

Udah baca? Apa!? Belom!
Oke, nanti dibaca ya.

Anyway, kamu pasti sepakat dengan ini, ikutan ujian kuliah itu nggak sehat loh buat kesehatan ingatan. Nggak percaya? Faktanya, ketika kamu udah belajar banyak tentang materi ujian yang mau diujiankan, tapi pas berhadapan langsung dengan soal ujiannya, kamu langsung menderita amnesia? Iya kan? Ini bahaya loh, lama-lama kamu bisa lupa gimana caranya eek.

Tapi kalo kamu memang tetep mau memperjuangkan ujian kuliah kamu untuk menghabiskan duit mambanggakan orang tua, gue udah siapin nih tips-tips-nya. Ini dia!

Catatan: Mohon diperhatikan, penulis tidak bertanggung jawab atas nilai yang akan Anda dapat, efek samping mungkin terjadi. Jika sakit berlanjut, hubungi dokter.

1. Sugesti diri
Munurut literatur, sugesti adalah therapy stimulasi alam bawah sadar dengan stimulus persuasi sedemikian rupa, sehingga orang yg tersugesti akan menderita amnesia dan kemudian muntah-muntah. Oke, ini nggak bener.

Anyway, pernah ngeliat ketika Rommy Rafael lagi menghipnotis orang? Itu disebut hypno-therapy. Teknik ini bisa banget dipelajari dan caranya juga gampang, sangat bermanfaat untuk mensugesti diri sendiri biar siap menghadapi ujian kuliah, maka sesaat sebelum ujian, sugestilah diri kamu,
"Ujian itu enggak sulit, ujian itu enggak sulit, ujian itu bikin sembelit... "
Hal ini jika dilakukan dengan benar, pasti bakal berhasil, karena menurut pepatah lama, "You are what you think", apa yang kita focuskan dalam pikiran, akan sangat mendukung kepada hal yang akan kita lakukan.

Oiya, teknik ini punya efek samping, ada satu hal yang perlu kamu perhatikan -ini paling penting, biasanya kalo orang setelah dihipnotis Rommy Rafael, kemudian mereka ngapain? *tidur

2. Jangan lupa!
Nyesek adalah ketika kita sudah belajar banyak materi ujian, ternyata pas ujian soalnya nggak keluar. Lebih nyesek lagi, ketika apa yang sudah kita baca keluar di soal ujian, eh malah ingatan kita yang nggak bisa keluar. *ingatannya sembelit

Gue selalu curiga dengan keadaan seperti ini, ja...jangan-jangan,


Oke, ini masih menjadi konspirasi,

Terlepas dari hal di atas, begitulah cara otak manusia bekerja. Cara kerja otak manusia itu mirip hard-disk komputer, kalo kebanyakan muatan, bikin sering not responding. Untuk itu, biar otak nggak sering lupa, ini tipsnya,
"Banyak baca banyak lupa, sedikit baca sedikit lupa, tidak baca tidak lupa."
3. Jangan nyontek!
Sebagai mahasiswa intelek, sekali-kali kita nggak boleh nyontek! Itu perbuatan yang tidak terpuji, maka, menyonteklah dua kali, tiga kali, 4, 5, 6, atau 7 kali, karena menyontek sesekali itu nanggung.

4. Kerjakan soal yang gampang dulu
Biasanya guru, dosen, atau pengawas suka bilang, "Kerjakan soal yang paling mudah."

Itu bener banget. So, kerjakanlah soal yang bisa diisi dengan mudah, misalnya nama sama NIM. Setelah itu... terserah Anda.

5. Be smart!
Nah, biasanya ada aja soal yang dengan pernyataan kayak gini,
"Saya yang bertanda tangan di bawah ini berjanji dan bersumpah untuk tidak mencari dan memberi jawaban kepada sesama peserta selama ujian berlangsung. Seandainya saya melanggar, saya bersedia menerima konsekuensi sesuai peraturan yang berlaku."
Horror banget kan?
Santai santai. Gue menyarankan biar menandatangai pernyataannya pas mau selesai ujian aja. Jadi kalo ketahuan nyontek atau ngasih jawaban pas lagi ujian, kita punya alesan,
"Hei Sam, kamu nyontek ya? Kok kamu enggak tanda tangan pernyataannya?!"
"Oh belom Pak, saya tanda tangannya kalo nyonteknya udah selesai aja."
*dibuang ke jurang
6. Posisi menentukan prestasi
Nah, ini nih. Prinsip ini berlaku bagi seluruh mahasiswa di Indonesia, udah SNI. Posisi menentukan prestasi, ini bener banget!

Eits, SALAH BESAR kalo kamu berpikir gue akan memberikan saran biar kamu bisa di antara mahasiswa-mahasiswa pinter, atau duduk di bangku belakang biar lebih gampang buka contekan, atau duduk di depan di pangkuan dosen pengawas.

Kalo tujuan kamu mencari posisi duduk yang strategis hanya untuk bisa aman bertanya jawaban ke teman, trick itu udah terlalu mainstream. Cara itu udah lama ditinggalkan mahasiswa-mahasiswa gaul, karena jawaban dari teman sebelah belum tentu benar, malah kadang ngasih jawaban yang salah,
"Ssst, ssst, bro bro, jawaban nomer 1 sampe 40 donk."
"Gile kali lo Sam!? Itu nanya apa ngebetak!?"
"Yaudah, nomer 1-5 aja."
"Oke, dengerin baik-baik."
"Oke."
"Jawabannya: kanan-kiri-bawah-segitiga-kotak."
"KAMPRET!" *lempar PS3
Jangan tiru trick lama yang sering tidak berhasil ini, cobalah untuk mulai mempercayai diri kemampuan sendiri, percaya dirilah ... untuk bertanya jawaban ke dosen pengawas.

7. Baca soalnya dengan jelas
Pernah waktu ujian, gue merasa menjadi mahasiswa yang terdzolimi. Ada soal sebanyak 10 soal essay. Kemudian, gue kerjain semua soal dengan semangat, eh pas gue cek perintah soalnya, ada kalimat seperti ini, "Kerjakan nomer 9 dan 10 saja". *soalnya gua makan

Satu lagi jenis soal yang biasa ditemukan di ujian, "Bagaimana pendapatmu tentang... "

Nah, untuk jenis pertanyaan kayak ini, kita berhak mengarang bebas. Kalo pun jawaban kamu nanti disalahin, berarti bener bahwa negara ini tidak lagi menjunjung tinggi kebebasan berpendapat. *lapor Kak Seto

8. Bawa kamera
Bagi mahasiswa yg tetiba nge-blank ketika berhadapan dengan soal ujian, respon hormonal dalam tubuh menstimulasi organ tubuh sehingga terjadilah reaksi seperti pusing, bingung, cemas, deg-degan, bahkah depresi. Janganlah memaksakan diri.

Untuk itu, setiap kali kamu mau ujian, kamu disarankan membawa kamera, biar nanti ketika kamu nggak kuat dengan pertanyaan ujian, kamu bisa melambaikan tangan ke kamera,
"Mas, nyerah mas, nggak kuat mas! Mas? Mas? Tolong mas, tolong!!!" 
9. Bawa rumput
Gue menyarankan, ketika kamu UTS, UAS, atau sidang, bawalah selalu satu buah pot bersama rumputnya dari rumah. Hah? Rumput? Iya, tujuannya adalah, ketika kamu merasa bingung karena soal atau pertanyaan yang susah, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang, dudududuuuu...

Kalo rumputnya nggak bergoyang gimana Sam? Jangan panik, setel aja lagu dangdut.

10. Berdoa dan berusaha sebaik-baiknya
"Belajar tanpa berdoa itu ciri manusia sombong, berdoa tanpa belajar itu ciri manusia yang niat mau nyontek."

Nah, berdoa itu penting, libatkanlah Tuhan ketika ujian. Mungkin kita nggak sadar, ternyata ketika kita lupa dan diingatkan pas ngerjain soal, atau ketika soal ujian persis sama dengan apa yang kita pelajari, semua itu karena pertolongan Tuhan.

Kerjakan dengan upaya sendiri, karena walaupun nilai kita nggak tinggi, kita punya kebanggaan untuk mempertahankan kejujuran, tsah.

Bangsa ini udah banyak orang-orang yang pinter, tapi bangsa ini kekurangan orang-orang yang bener.



[end]
25 Oktober 2014
Pendidikan & Dunia Kerja

Pendidikan & Dunia Kerja

Yea, update blog lagi.

Sekarang lagi minggu-minggunya UTS ya? Ye-elah, ngapain ikutan UTS? UTS kan bikin stres, mending main PS. Problem?

Gue mau terang-terangan berbagi wawasan tentang sesuatu yang nggak lazim. Tulisan ini gue buat didukung dengan data, sehingga kita bisa meninjau ulang jawaban dari pertanyaan berikut: sebenernya UTS/UAS itu penting nggak sih? Atau bahkan, sebenernya kuliah itu penting nggak sih?

Sebagian besar orang akan mengatakan itu penting, tapi setelah baca tulisan ini, apakah kamu akan berubah pikiran?

Tulisan kali ini bakal menuai kontradiktif, tapi perlu gue sampaikan di awal, gue nggak bermaksud memprovokasi sebuah perdebatan. Ini murni sudut pandang gue dan sangat mungkin temen-temen punya pendapat lain. Bagi kamu yang nggak kuat, silakan minum iRex.

---

'Education these days'

, gue searching kata kunci ini di Google, dan dapet gambar kayak gini, not disappointed.


Agree with that? Kalo aku sih yes, nggak tau kalau Anang. *anang mana anang

Kalo gue bilang bahwa kuliah itu seperti mesin fotocopy yang mencetak lulusan dengan keahlian dan kemampuan yang sama, apakah temen-temen sepakat atau ngerasa?

Itu adalah pendapat Robert Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, dan gue sepakat, kuliah emang begitu. Dan mungkin ini adalah salah satu sebab kenapa event-event Job Fair selalu membludak dengan pengangguran-pengangguran yang nyari kerja, karena ribuan orang yang punya kemampuan sama tadi, saling bersaing mengisi satu posisi pekerjaan yang sama. Analoginya kayak gini, dalam satu kampus, ada 1000 cowok culun yang suka sama 1 cewek cakep, kemudian mereka semua saling bacok dan saling bunuh buat ngedapetin 1 cewek yang belum tentu cocok sama mereka. Cukup menyakitkan bukan?

Back to the pic,
Kalo ngeliat gambar di atas, kuliah jaman sekarang digambarkan persis kayak gitu, di mana setiap orang pada awalnya punya kreatifitasnya masing-masing, tapi ketika masuk ke sistem yang disebut universitas, kreatifitas mereka di-setting dan 'dibentuk' dengan shape yang sama untuk setiap orang. Gue jenius ya?

Dan entah kenapa, ketika kreatifitas mahasiswa tanpa sadar sudah dikotak-kotak-kan oleh mereka, dosen-dosen meminta kita untuk berpikir out of the box. Jebakan betmen banget nggak sih?

---
"Sam, besok UTS, ke perpustakaan yuk?"
"Ngapain? Belajar? Gue belajar di kosan aja deh."
"..."
"Sam, main futsal yuk?!"
"HAYUK!!"
*gue disepak
Gue adalah tipe mahasiswa yang ketika besok ada UTS, di saat bersamaan ada ajakan futsal, kemudian temen ngajakin main FIFA, dan gebetan ngajak belajar bareng, maka hal yang gue lakukan adalah: nyari gebetan baru, ngajak temen yang ngajakin main FIFA untuk main futsal, dan bersikap seolah-olah besok nggak ada ujian. Okesip.

Sorry to say, gue nggak pernah memprioritaskan UTS sebagai pilihan pertama ketika dihadapi pilihan sulit. Bahkan ketika besok gue harus sidang skripsi, malemnya gue main futsal. Gue seriusan. Gue serius udah sidang.

Futsal atau FIFA itu mengajarkan team work dan berpikir strategis, sedangkan ujian/skripsi mengajarkan kerja individu yang bikin stress, padahal untuk mencapai kesuksesan di masa depan, team work dan berpikir strategis itu jauh lebih dibutuhkan. Dan orang pintar, tau kesimpulannya apa.

Bagi yang belum percaya karena belum ngalamin, percayalah, nilai di atas kertas nggak jauh lebih penting daripada persahabatan.

Banyak yang bilang, networking itu lebih penting daripada nilai atau IPK, kurang lebihnya -itu betul, dan dengan begitu, sebaik-baiknya networking adalah persahabatan. Kenapa bisa begitu? Karena besar kemungkinan, satu atau dua dari banyak temen kita, di kemudian hari akan berhasil, dan jika kita bisa menjalin persahabatan yang baik dengan mereka, tentunya kita juga kecipratan kesuksesannya, entah itu rekomendasi kerja, atau sekedar ngutang duit, okesip. Dan selalu ingat, sahabat yang baik nggak pernah menjerumuskan satu dengan yang lainnya, tapi sepakat untuk menjerumuskan teman yang lain sama-sama. Iya, emang nggak nyambung.

Oke, lupakan sejenak bahasan gue di atas, balik lagi ke perihal UTS,

Entah siapa pertama kali yang nemuin metode UTS/UAS ini. Seandainya saat ini mesin waktu berhasil ditemukan, pasti gue akan pake mesin waktu itu untuk pergi ke masa lalu nyari penemu UTS/UAS, kemudian setelah ketemu, gue bakal ngajakin dia main FIFA, pasti dunia saat ini akan jauh lebih baik.

Kuliah itu seperti memperjuangkan cinta yang belum tentu terbalas, kalaupun berhasil, kemungkinannya kecil. Mmm, maksudnya begini,

Ada sebuah penelitian di Harvard, yang meneliti secara kualitatif tentang presentasi materi kuliah yang berhasil dipahami oleh mahasiswa, angka rata-ratanya adalah hanya 15%. Jadi, ketika kita belajar selama 4 tahun standar kuliah, dalam waktu selama itu, dari semua diktat kuliah yang kita pelajarin, dari semua bahan kuliah yang kita fotocopy, dari semua uang SPP yang kita bayarkan, ternyata cuma berefek 15% meningkatkan pemahaman kita terhadap ilmu pengetahuan. Sisa 85%-nya kemana? Ngebul bersama stres yang kita alami. (Data ini gue peroleh dari membaca buku di sebuah toko buku, yang sayang sekali nggak gue inget judul bukunya apa dan pengarangnya siapa. Bagi pembaca yang menemukan data ini dengan sumber yang lebih akurat, silakan sampaikan ke gue.)

Risetnya masih berlanjut, di dunia pasca kuliah, dari angka 15% materi yang kita pahami di atas, ternyata cuma 20% yang kepake saat kerja atau usaha.

Sekarang silakan ambil kalkulator, kemudian timpuk dosen pembimbing, eh maksudnya itung, dan kamu akan mendapatkan sebuah angka yang menunjukkan bahwa materi kuliah yang bakal bener-bener kepake di dunia kerja, ternyata cuma 3%. Wew, by all this time, we screwed up, right?

Mungkin alasan Bill Gates dan Mark Zuckenberg memilih DO dari Harvard, karena nggak sengaja membaca riset di atas di perpustakaan kampus mereka sendiri.
"Anjrit, jadi selama ini gue dikibulin?", kata Mark ngomong sendiri di perpus.
"Elo baca buku apaan, Mark?", tanya temennya.
"Oh kagak. Hehehe."
Mark kemudian meminjam buku riset itu, dia bawa pulang, kemudian dia bakar biar nggak ada orang yang tau, besoknya dia DO, dan jadi orang kaya. Beberapa tahun kemudian, ternyata buku tersebut nggak semua bagian hangus terbakar, tapi menyisakan beberapa lembar berisi riset seperti yang dibahas di awal.
"Oh, DAMN!", Mark menggerutu. TAMAT.
Sumpah! Cerita di atas kalo dibuat film, bakal box office abis. Semoga CAK The Movie juga box office, hehe.

Nah, kita udah tau ada data begituan, orang-orang sukses juga banyak yang bilang, dan kecenderungan orang dengan IPK tertentu, juga banyak membuktikan kalo:
1) Sarjana ber-IPK > 3,5 biasanya jadi dosen atau saintis.
2) Sarjana ber-IPK 2,8-3,5 biasanya jadi pegawai, dan
3) Sarjana ber-IPK < 2,8 biasanya jadi CEO. 
Itu adalah data subjektif, tapi coba kamu amati sekeliling kamu, temen-temen kamu, saudara-saudara kamu, tokoh-tokoh inspiratif kamu, dan lain-lain. Kebanyakan kayak gitu nggak? Kalo gue, iya.

Melihat kenyataan itu, gue masih ngerasa nggak habis pikir, tetep aja masih banyak mahasiswa yang menganggap IPK itu di atas segalanya, dan masih banyak yang menganggap mengejar nilai bagus pas ujian itu lebih baik daripada mengejar passion-nya. Dan jika kamu adalah orang seperti ini, atau kamu bertemu dengan temen yang seperti ini, bisa dipastikan kamu/mereka adalah mahasiswa yang kurang gaul, dan kurang wawasan.

Itulah kenapa gue mengibaratin kuliah seperti memperjuangkan cinta yang belum tentu terbalas. Maksudnya, daripada memperjuangkan sesuatu hal yang kamu nggak senang dengan itu, mending memperjuangkan sesuatu yang kamu senang dan kamu bahagia untuk itu. Ngerti nggak? Gue juga nggak.

---

Setelah lulus kuliah, kita akan diperlihatkan dengan berbagai kenyataan-kenyataan pahit. Mata kita akan benar-benar terbuka bahwa, apa-apa yang dulu kita perjuangkan, ternyata nggak penting.

Temen gue yang dulu lulus dengan nilai tinggi, setelah lulus pendapatannya masih lebih tinggi temen gue yang nilainya jongkok. Pesan moral: IPK nggak usah gede-gede, kalo penghasilannya kecil kan nyesek. 

Jaman sekarang juga masih banyak orang yang mendewakan gelar, kuliah macem-macem buat manjangin nama, tapi pas di dunia kerja, dia digaji sama besar kayak orang yang punya satu gelar. Kesian dia. Seandainya Mak Erot masih hidup, mungkin dia nggak perlu manjangin nama dengan segitunya. Kesian.

Gue nggak pernah bilang bahwa IPK itu nggak penting, IPK itu penting untuk mendaftar beasiswa atau melamar pekerjaan, karena IPK itu syarat yang susah ditoleransi. Tapi ketika kita nggak bisa mencapai IPK yang kita harapkan, nggak perlu membuang waktu atau uang untuk memperjuangkan, karena kalo kita berpikir bahwa IPK itu segalanya, itu termasuk syirik kecil, men-Tuhan-kan angka, dosa, tsah.

Selalu ingat, Tuhan udah menciptakan manusia sepaket dengan kelebihan dan kekurangan, dan tugas kita sebagai manusia di dunia, bukan untuk memperbaiki kekurangan, tapi mengoptimalkan kekuatan.

Sebentar, sebentar, mau batuk keren dulu, uhuk.

Saran: banyak-banyak baca buku yang menyenangkan dan bermanfaat, gue juga mau lakukan hal yang sama, kemudian jauhi perdebatan, karena berdebat adalah ciri-ciri orang yang kurang wawasan.

Ow yea,  I'll give you something, it tells everything, 



Happy learning! Selamat ujian, sukses selalu :)
17 Oktober 2014
3 Doa Mahasiswa Tingkat Akhir

3 Doa Mahasiswa Tingkat Akhir

Pernah tau nggak gimana rasanya kalo gebetan kita lulus duluan?

Gue pernah. Rasanya parno banget.

Bagi yang pernah ngerasain hal kayak gini, pasti ngerti keparnoan yang gue alami. Bagi yang belum ngerasain, buruan dukung gebetan kamu lulus, sementara kamu lama-lamain aja di kampus, okesip.

Semasa gue jadi mahasiswa tingkat akhir, selain takut gebetan lulus duluan, gue lebih takut lagi ketika kebayang sebuah pikiran yang 'nggak-nggak', apalagi ketika ada orang yang manas-manasin kayak gini,


Nggak dipungkiri, seseorang yang lulus duluan punya peluang yang lebih besar segera mapan daripada mereka yang nggak lulus-lulus. Karena peluang kemapanan yang tinggi, otomatis peluang untuk ngelamar orang juga akan sebanding lurus. Ini udah diteliti oleh cowok-cowok yg akhirnya bunuh diri setelah ditinggal nikah. (ANOVA <0,05)

Ketika dulu pas jadi mahasiswa tingkat akhir, ada tiga doa yang selalu gue panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu: 1) Ya Tuhan, luluskan aku segera, 2) Ya Tuhan, lindungi dia dari lamaran pria mapan, dan 3) Ya Tuhan, kalo dia udah dilamar orang, semoga jodohku Chelsea Islan. *troll

Anyway, ada sebuah siklus setan yang sering terjadi di kalangan mahasiswa tingkat akhir,


Siklus di atas ini bahaya banget kalo nggak diantisipasi, karena akan sangat berdampak buruk bagi kesehatan badan, psikologi, juga dompet. Nah, bagi kamu yg nggak ngerti gambar di atas, setelah paragraf ini, gue akan ngetik "pembahasan dari siklus setan di atas."

"pembahasan dari siklus setan di atas."

Ngerti nggak pembahasannya?

Mungkin ada benarnya ketika orang yang bilang, "1 hari menunda skripsi, 1 hari juga menunda menikah." Ya, walau beberapa orang bilang kalo kata-kata itu nggak benar, tapi satu yg bisa dipastikan benar, yaitu, orang yg ngomong begitu, pernikahan dia pasti udah ketunda-tunda. Kesian dia, kesian.

Intinya, siklus setan di atas itu sangat perlu di antisipasi biar kebanyakan mahasiswa tingkat akhir bisa lepas dari belenggu kegalauan yg nggak produktif. Nah, ada beberapa cara nih untuk memutus siklus setan di atas, antara lain: 1) buruan kerjain skripsi, lulus -terus mapan, 2) banyak-banyak berdoa biar gebetan nggak dilamar-lamar, 3) move on, dan 4) lompat monas.

Dan karena pilihan pertama dan ketiga itu terlalu susah, juga yg keempat itu kurang menantang, akhirnya, gue cuma bisa ngelakuin pilihan yang kedua. Tapi ketika kita harus pasrah dengan gebetan kita yang akhirnya dilamar orang duluan, setidaknya ada sisi positifnya, yaitu, kita menjadi pribadi yg lebih relijius.

Kita sama-sama tau, semua doa kita nggak selamanya dikabul oleh Tuhan (di dunia), tapi Tuhan selalu kasih pengganti yg lebih baik. Mungkin ketika di akherat nanti, saat disidang oleh Tuhan,
"Sam, sebenernya kamu itu ditakdirkan masuk neraka, tapi karena kamu sering berdoa kepada-Ku, kamu akan Ku-masukkan ke surga."
"Memang, doa apa yg bisa membawaku ke surga-Mu, Ya Tuhan?"
"Doa ketika kamu memohon supaya gebetan kamu nggak dilamar-lamar."
"Alhamdulillah. Terima kasih Ya Tuhan."
-udah ah, semoga postingan ini nggak ada manfaatnya/

Oiya! CAK The Movie lagi on-progress siap-siap buat shooting di bulan November, kepoin info updatenya dgn follow twitter @CAKTheMovie ya.
Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved