New Post

Rss

3 September 2014
Mau kemana setelah Wisuda?

Mau kemana setelah Wisuda?

"Mau kemana setelah wisuda, Men?"
"Hah? Duh, gue nggak mikir sejauh itu."
"Mau kemana setelah wisuda, Bro?"
"Hmmm. Ng..ngak tau."
"Mau kemana setelah wisuda, Sob?"
"Mau dilamar pengusaha kaya aja."
"Mau kemana setelah wisuda, Sam?"
"Mau ke akherat."
Begitulah kira-kira jawaban temen-temen ketika gue tanya ke mereka setelah wisuda mau gimana. Nggak usah protes, emang patut disadari dan diterima, keadaan kita saat kuliah itu kira-kira kayak gini: we study, we pass exams, we graduate, then we dont know what we have to do.

Bagi sebagian besar mahasiswa dan lulusannya, kuliah itu cuma jadi sarana buat gengsi-gengsian, alias cuma berpikir sebatas 'aman nyari kerja dengan ijazah kuliah'. Sayang banget, iya sayang banget sama mantan. Padahal, ijazah nggak bisa dijadiin persiapan yang cukup buat bisa survive di pasca kuliah. We already know that. Degree only enters you at interview section.

Cuma nggak perlu khawatir, rejeki udah ada yang ngatur. Teruslah berusaha setelah wisuda, yakin sampai ke cita-cita, asik.

---

Kuliah itu banyak mengajarkan tentang kemandirian, apa-apa sendiri: masuk kuliah sendiri, bayar SPP sendiri, bikin skripsi sendiri, lulus ngurus sendiri, nyari kerja sendiri.

Setelah wisuda, bersiap-siaplah mendapat pertanyaan, "Kapan kerja?"
Brace yourself.

Kemandirian dan kengenesan selama kuliah bisa dijadiin sebagai modal berguna untuk menentukan pilihan di kehidupan. Walau pun pendidikan tinggi nggak menentukan kesuksesan di masa depan, seenggaknya, ketika kita kuliah, mental dan pengetahuan kita punya kualitas yang lebih baik ketimbang yang nggak kuliah, seharusnya begitu.

Banyak tontonan atau bacaan yang inspiratif yang membuat diri sendiri selalu melihat diri gue di usia pensiun nanti, gue nggak mau ketika tua nanti hanya bisa menyesali kehidupan, terbaring sendiri di atas kasur sambil meratap, "Kenapa waktu muda gue nggak memperjuangkan cita-cita?"

"Gak papa salah jurusan, asal jangan salah pekerjaan.", mungkin penghasilan nggak akan sebesar orang yang memaksakan diri bekerja di bidang yang nggak disuka, cuma, kita bekerja kan nggak selamanya untuk uang.

Gue masih inget kalimat yang keluar dari mulut Farhan, salah satu karakter di film 3 idiots, katanya,
"Gak papa saya cuma digaji sedikit, punya mobil kecil, rumah sempit, tapi dengan pekerjaan ini, I will be truely happy."

"..."

"Ya nggak gitu juga keles.", kata gue.

Sebisa mungkin, kita bisa kaya dan bahagia dari pekerjaan yang kita suka. Yah, semua orang pengennya begitu. Cuma gimana cara mengawalinya, gue rasa nggak semua orang bisa sabar dan bertahan memperjuangkan impiannya.

Gue melihat sendiri, temen-temen gue, mau dulunya aktifis, agamis, idealis, bagi yang nggak kuat, ujung-ujungnya mereka akan terperangkap dengan desakan kebutuhan, "Kerja di mana dan apa aja, yang penting bisa makan."

Hidup ini emang nggak mudah, banyak di antara kita memilih menyerah, padahal bisa jadi esok hari jadi cerah. Kalo kita masih galau dengan urusan rejeki, artinya kita kurang yakin ada Tuhan Yang Maha Memberi.

Ganteng banget.


30 Agustus 2014
Early Teaser CAK The Movie

Early Teaser CAK The Movie

Beberapa bulan lalu, gue hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang ngejar-ngejar dosen pembimbing buat minta tanda tangan. Tapi pas kemaren gue ikutan open casting CAK The Movie di Bandung, gue kena karma, gue yang dicari buat diminta tanda tangan tagihan kas bon. Aduh jadi nggak enak gini.

Kemaren saat reece lokasi buat shoting di kampus juga sama, dulu gue yang dipandang sebelah mata sama dosen, pas kemaren gue mampir ke kampus, gue dipandang pake sedotan.

Anyway, mau update info nih, ada beberapa penampakan open casting di Bandung kemaren, orangnya banyak banget, kayak mahasiswa yang mau daftar wisuda. Alhamdulillah ya, semoga CAK The Movie laris dipasaran kayak bukunya, hehe.





Pihak Dari Hati Films bilang, kita bakal ngadain open casting di beberapa kota lain, so, update info kamu di twitter-nya @CAKTheMovie. Oiya, early teasernya juga udah keluar nih,


20 Agustus 2014
Nggak Cocok Satu Jurusan

Nggak Cocok Satu Jurusan

Semalem di twitter gue dan temen-temen main hashtag #GakCocokSejurusan...

Ide ini sebenernya terinspirasi dari kelinci temen gue yang kemaren baru aja ngelahirin. Setelah diulik-ulik, ternyata kelincinya itu kawin sedarah, dan mereka pun melahirkan anak haram. Diceritakan bapak kelinci itu marah besar sama anaknya yang kawin diam-diam sama sodara kandungnya. Parahnya lagi, anak dari hasil perkawinan sedarah itu cacat fisik. Kasian banget keluarga kelinci temen gue ini, mereka broken home, broken abis, kasian... kasian...

Dari cerita temen gue itu lah, gue berpikir gimana jadinya kalo perkawinan sedarah terjadi pada mahasiswa. Untuk mengantisipasi terjadinya hal itu, gue pun menyampaikan misi besar untuk menghindari terjadinya sebuah hubungan asmara dengan kerabat terdekat dengan main hashtag twitter #GakCocokSejurusan. Sebuah misi yang sangat mulia gue rasa. Gue emang hebat.

Nih beberapa petikan hashtag semalem:


Masih nyambung sama hubungan kerabat dekat, masih inget nggak postingan gue yang menyebutkan bahwa,
"Punya pacar satu jurusan itu tanda kurang gaul, cewek atau cowok di jurusan bahkan di kampus lain kan banyak, kenapa milih yang satu jurusan. Apa coba kalo bukan kurang gaul?"
Dalam konsep ilmu peternakan, hal ini bisa disebut dengan istilah biak dalam, yaitu suatu istilah yang terjadi apabila seseorang udah kebelet pup, nggak ketemu toilet, eh kelepasan keluar di dalam... oh oke, itu b*rak di dalam. Istilah yang benar adalah inbreeding.

Menurut berbagai sumber, inbreeding ini lebih banyak kerugiannya dibanding kelebihannya. Kelebihan inbreeding adalah dapat mempertahankan galur murni si indukan, namun kekurangannya lebih banyak lagi, salah satunya keburukan sifat induk akan lebih tinggi kemungkinannya diturunkan pada turunan biakannya.

Dari selayang pandang di atas, kita bisa membuat analogi seorang pasangan yang berkomitmen membangun hubungan dari satu jurusan kuliah yang sama. Kita ambil contoh permisalan, misal sarjana matematika inbreeding dengan sarjana matematika juga, maka dalam keluarga masa depan mereka, kira-kira beginilah percakapan yang terjadi,
"Mah, nanti kita berencana punya anak berapa ya?"
"Sebentar Pah, Mamah hitung dulu pake rumus phytagoras."
"&^%$#@#"
Mungkin begitu tuh sepasang sarjana matematika kalo berkeluarga, apa-apa pake rumus. Ada contoh lain, misal sarjana sejarah inbreeding sama sarjana sejarah juga,
"Pah, kamu tau gak masa lalu Mamah. Mamah punya mantan, namanya ..."
"Mah! Udah deh, jangan bahas yang dulu-dulu mulu."
"Iya Pah."
"Eh Mah, tau gak? Kemaren Papah ketemu mantan Papah yang pas di kuliah dulu loh."
"!@#$%^&" 
Kebayang nggak? Sarjana sejarah yang inbreeding, nggak lama mereka bakal dapet Guinness World Record sebagai Keluarga yang Paling Susah Move On.

---

Keluarga inbreeding pasti dalam kehidupan sehari-hari selalu punya pembahasan yang linier, bahasannya selalu seputar ilmu yang mereka pelajarin. Bahasannya, itu ituuuu mulu, akan sangat sedikit terjadi variasi pembahasan. Apalagi kalo lagi dapet masalah, pasti solusi antara keduanya hampir-hampir sama. Bakal ngebosenin nggak sih?

Nah, beda donk kalo seseorang berpasangan lintas jurusan, pastinya mereka punya variable pembahasan yang lebih beragam, wawasan mereka pun kayaknya lebih luas, kecuali kalo mereka dari sono-nya udah kutu kupret, jarang gaul. Susah juga.

Over all kira-kira kayak gitu lah ya.

Pasangan yg inbreeding juga lebih banyak risiko terhadap keturunannya, kebayang nggak kalo misal sarjana farmasi nikah sama sarjana farmasi, paling mungkin anaknya nanti disuruh jaga apotek. Apalagi sarjana ekonomi yang inbreeding, bisa-bisa anaknya nanti mata duitan.

Wah, kalo gue sih nggak mau ya kalo inbreeding, besar kemungkinan hidup dan keturunan kita bakal monoton. Soalnya kenapa, misal ada pasangan yg inbreeding sama-sama PNS, anaknya nggak jauh-jauh disuruh daftar CPNS. Atau kalo pasangan yang sama-sama keguruan, anaknya nggak jauh-jauh disuruh jadi dosen juga. Ya nggak ada salahnya sih.

Cuma kan asyik aja kalo ada keluarga yang out of the box. Misal sarjana peternakan nikah sama sarjana ekonomi, mungkin keluarga ini bakal menemukan cara gimana membuat duit biar bisa berkembang biak sendiri.

Atau sarjana komputer nikah sama sarjana pangan, nanti mereka bakal menemukan aplikasi yg bisa men-download makanan. Keren gak tuh?

Atau sarjana kehutanan nikah sama sarjana keuangan, nanti mereka bikin bibit pohon duit. Apa lagi? Apa lagi?

Ya intinya sih, kalo bisa, dihindari tuh berpasangan satu jurusan, selain karena kurang gaul, masa hidup kamu mau gitu-gitu terus?

Udah ah.
14 Agustus 2014
Life Time Friend

Life Time Friend

Persahabatan ...

Masih inget atau udah baca sebuah kalimat rima di salah satu BAB novel CAK? Yang bunyinya kayak gini,


Hmm.. dalem ya? Iya, kayak celana dalem,
Kalo kalian mau tau, ketika gue menulis itu, gue menulis dengan spontan. Sedih kan kalo punya temen deket, yang janji pengin berjuang bareng-bareng, eh di tengah jalan ditinggalin.

Kok jadi melow gini sih nyet!?

Jadi mau curhat nih. Lah emang tadi bukan curhat!?

Entah kenapa ya, mungkin kamu-kamu juga sering mengalami ini. Setiap kali punya teman dekat, lingkungan dengan sendirinya bakal menseleksi mereka: ada yang bertahan bersama, ada juga yang kemudian menghilang entah kemana.

Apalagi kalo bicara soal cita-cita bersama, di awal kita punya komitmen, sama-sama kuat, sama-sama semangat. Tapi, ketika kita jatuh tersandung di tengah jalan, kita berusaha saling merangkul untuk kembali bangkit, tapi di saat diri kita masih mau melanjutkan berjalan, satu yang lain memilih untuk tetap terjatuh.

Tulisan gue keren ya?

Anyway vroh, udah berapa kali kamu dikecewain teman PHP yang mengaku sahabat?
Udah hilang waktu, hilang energi, hilang pikiran, hilang ingatan, semuanya hilang. Sakitnya tuh ...


Mungkin Tuhan mempertemukan kita dengan orang seperti mereka, biar kita tau seseorang yang bisa jadi life time friend.

Mungkin di masa depan nanti, jika waktu mengizinkan kita bertemu lagi dengan mereka, hal yang ada hanyalah sebuah kecanggungan. Yang dulu sering sapa-sapaan, sekarang nyetor muka aja segan. Begitulah sebuah komitmen gadungan, seperti pisau bermata dua, kalo kita nggak kuat memegangnya, hanya akan memberikan luka.

Sedikit emang, sahabat yang bener-bener setia menemani saat susah, karena teman yg ada ketika kita senang saja, mereka itu sebenar-benarnya kampret. Mungkin di akherat, mereka barisnya di depan Dajjal.

Yang banyak itu, teman yang kerjanya cuma mentingin kepentingan sendiri. Banyak banget model temen yang begini. Manis di mulut, pait di congek, asin di upil. Kok jadi jorok.

Memang ada benernya nasihat lama, sebaik-baiknya teman adalah teman yang membantu kita karena Tuhan.

---

Ngomong-ngomong soal life time friend, agak susah nyari temen yang model begini. Temen yg ketika kita salah, dia nggak segan negur kita, temen yg nggak tersinggung kalo kita ngecengin dia, temen yg ketika kita makan ki-ef-si, dia nggak segen ngambil kulit ayamnya, temen yg ketika minjem motor atau mobil kita, suka males ngisiin bensin.

Life time friend mungkin satu-satunya temen kita yang paling kampret. Tapi dari ke-kampret-annya dia, dia masih tetep care dan stay aside ketika kita lagi banyak masalah. Dialah orang yg paling bijak ngasih solusi tentang urusan asmara kita, walaupun nyatanya dia jomblo. Dialah teman yang paling ngerti urusan financial kita, meski dompet dia juga jadi sarang laba-laba.

Life time friend bagi gue adalah temen yg nggak punya alasan untuk berteman dengan kita.

Love your friend. :)

[end]
13 Agustus 2014
no image

Tentang Teman, Usaha, dan Kerja

Beberapa bulan ini mungkin jadi bulan yang sibuk bagi gue, setelah sibuk bikin baliho "JANGAN TANYA KAPAN LULUS, KAPAN KERJA, DAN KAPAN MERIT!" pas lebaran kemaren, sekarang gue bisa ngerasain gimana sibuk-asik-nya belajar tentang dunia perfileman. Iya, kemaren gue abis ditawarin jadi model iklan sabun pembersih wajah, gue dapet peran sebagai jerawat.

Anyway, udah tau kan kalo buku Catatan Akhir Kuliah bakal difilemin?

Jadi, sampe tanggal 14 Agustus besok, casting masih berlangsung untuk peran-peran yang bisa diliat di link ini. Denger-denger dari produser film -namanya Om Dedy, setiap hari studio dipenuhi sama muda-mudi berbakat yang ngebet pengin jadi artis.

Fyi, kebanyakan casting pengin memerani gue loh, iya gue... gue yang ganteng ini. "Aku ingin jadi Sam! Aku ingin jadi Sam!", teriak salah satu peserta casting, dia cewek.

Lupakanlah peserta itu, tapi..
dengan penuh rasa bangga, kita mendoakan, semoga kalian sukses ya :)

---

Inget casting film, gue jadi keinget masa-masa ngerjain tugas kelompok (relevansi gue emang selalu nggak nyambung).

Setiap kita punya kelompok atau geng sendiri, dan setiap geng pasti dilengkapi dengan orang-orang yang stupid, good guy, assh*le, dan telat mikir. Nggak tau kenapa, kodratnya selalu begitu.


Tapi begitulah adanya, kalo di satu team orang-orangnya punya karakter yg sama, jadinya nggak asik.

Gue, Sobari, dan Ajeb, sekarang udah punya kehidupan sendiri-sendiri setelah lulus. Gue berwirausaha, Sobari bekerja, dan Ajeb abis resign dari perusahaan.

Keinget pas dulu masih bareng-bareng di kampus, gue ini tipe temen yang assh*le, Sobari tipe temen yang good guy, dan Ajeb tipe temen yang nerd dan telat mikir. Gue masih inget ketika dulu sering nge-bully Ajeb yang selalu ditolak gebetannya, di saat bersamaan, Sobari dateng nge-puk-puk Ajeb.

Ternyata karma itu emang bener ada, setelah kami lulus, gue susah banget nyari pekerjaan, sedangkan Sobari dan Ajeb, sebelum mereka lulus pun, mereka udah keterima bekerja di perusahaan.

Ya walaupun gue dapet kerja juga. Cuma ya gitu, dapet kerja itu mirip wisuda, kita jadi rada envy sama temen yang dapet kerja duluan.

Di antara kita bertiga, malah Ajeb -yang dulu sering kena bully, dapet gaji yang paling tinggi. Sedangkan gue, dapet jobdesk kerja yang ribet, digajinya juga ala kadarnya, kalo boss moodnya lagi jelek, gaji gue kecil, kalo boss moodnya lagi bagus, gaji gue tetep kecil. Boss gue emang kampret.

Dari temen-temen gue, gue jadi tau, "Jangan suka nge-bully temen, bisa jadi dia lebih sukses dari kita suatu hari nanti."

---

Ngomong-ngomong soal kerjaan, selama jadi fresh graduated, otomatis gue mencari tau gaji yang pantas untuk sarjana yang baru lulus. Dan setelah gue dapet informasi itu, ternyata nggak ada standar gaji untuk fresh graduated.

Beberapa minggu lalu bahkan, seorang S2 lulusan UI malah pengin bunuh diri karena lama menganggur, dan hari ini gue dapet bacaan lagi, doktor lulusan Australia lamaran pekerjaannya ditolak. Naas emang. Faktor keberuntungan sangat berperan, dan orang-orang yg beruntung adalah orang yg selalu dekat dengan Tuhan, tsah.

But, for your information, gaji pertama sebagai fresh graduated yang pernah gue terima adalah sebesar Rp. 1,600,000.

Betapa gondoknya gue ketika ngeliat berita tempo lalu, "Buruh-buruh menuntut gaji Rp. 3,700,000."

Cuma ya dari semuanya, gaji itu bukan segalanya, temen gue pernah bilang, "Di usia 30 tahunan nanti, bukan uang lagi yang kita cari, tapi waktu, kebersamaan dengan keluarga, quality time with family.", sebuah nasihat yang ngena banget bagi gue.

Untuk itu, gue memutuskan berwirausaha, walau di awal terseok-seok, gue tetep yakin, kita akan lebih menyesal karena tidak melakukan sesuatu, daripada gagal karena sudah pernah mencoba.

---

Closing statement:
"Temen-temen kita yang baru saja lulus, akan merasa bangga ketika mereka sudah mendapat kerja, tapi kita bisa lihat 2 atau 3 tahun ke depan. Mereka yang bangga, akan stres sendiri, karena masuk kerja itu persis kayak kuliah. Di awal-awal kita seneng bisa kuliah, ke sini-sini malah minta keluar. Belum kerja galau, udah kerja stress. Hidup ini sulit, brace urself."

[end]
16 Juli 2014
Konspirasi Ospek

Konspirasi Ospek

Gue pernah baca sebuah hipotesa populer dari sebuah literature psikologi, kalimatnya begini, "Ketika kita memikirkan si dia terus, maka kemungkinan besar si dia lagi mikirin kita juga."

Kamu percaya gak? Kalo kamu percaya, pasti kamu lagi banyak ngarep, hina sekali.

Gue curiga, jangan-jangan psikolog ini -nggak lain dan nggak bukan- hanyalah seorang jomblo yang sangat ngenes. Ckckck. Kesian dia. Tapi kalo hipotesa di atas ternyata ada benernya juga, duh Melody, maaf ya ngebuat kamu mikirin aku terus.

...
...

Muntahnya udah?

O..oke oke, ngomong-ngomong soal Melody, gue jadi inget ospek (emang nggak nyambung).

Sekarang-sekarang ini lagi musimnya ospek ya? Ckckck, masih ada aja ya yang begituan. Gue pernah ngobrol tentang asal usul ospek sama mbah gue,
"Mbah, tau gak siapa yang pertama kali ngelakuin ospek?" 
"Sam, sebenernya dulu itu ospek nggak ada, tapi... "
"Ya?" 
"Semua berakhir ketika negara api menyerang."
"..."
Mbah gue ini emang sangat terobsesi sama Avatar Aang, kesian dia, dulu nggak punya TV soalnya. Hmm.. abaikan mbah gue. Kembali ke topik. *topik mana topik


Ospek,
Kalo panitia yang bilang, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kampus ke mahasiswa baru (maba). Tapi menurut peserta, ospek ini lebih mirip kayak casting masal untuk model iklan produk kecantikan wajah, tentunya untuk peran sebagai jerawat.

Ada beberapa efek negatif dari ospek (yang kebanyakan dilakuin saat-saat ini),

Ospek,
Di sisi institusi, mereka berharap sejak dini akan tumbuh rasa cinta maba kepada kampus, salah kaprah, malah yang tertanam dalam diri mereka adalah api kebencian, alah.

Banyak modus yang tercipta dalam praktek ospek di mahasiswa, selain makin kentalnya suhu senioritas, dampak buruk dari ospek yang lainnya adalah siklus setan praktek balas dendam.

Biasanya, maba yang udah ke-bully abis-abisan di ospek, karena nggak punya nyali ngebales ke senior, maka dia cenderung akan melampiaskan kebenciannya kepada maba-maba selanjutnya. Begitu terus sampe kiamat.

Hmm.. mungkin ini sebab kenapa Indonesia susah maju, karena yang muda nggak boleh bicara, kalo bicara nanti bisa celaka, uhuk.

----

Hari itu hari Sabtu, gue lagi di kosan sambil ngutak-ngatik secarik kertas yang berisi tulisan tugas-tugas ospek yang hari Senin harus disiapin,
"Ini maksudnya apa ya? Clark Kent warna coklat?", tanya gue ke salah satu temen di kosan.
"Duh apa ya? Gue juga gak tau."
"Ah payah lo. Hmm.. apa ya.", otak jenius gue mulai berspekulasi.
Hari Senin saat ospek berlangsung,
Singkat cerita, saat itu sedang istirahat setelah peserta ospek disuruh lari keliling kampus. Kalo kata panitia, kegiatan ini bertujuan agar maba bisa mengenal kampusnya jauh lebih dalam, tapi bagi peserta -kegiatan ini lebih mirip kayak carnaval makhluk-makhluk dunia lain,
"Ayo sekarang waktunya istirahat. Keluarin Clark Kent kalian, silakan dimakan!"
"Hah?! Dimakan?!", gue dalem hati, mulai merasa ada yang nggak beres. 
Gue celingak celinguk ngeliat temen-temen yang lain pada ngeluarin sesuatu, sedangkan 'Clark Kent' yang gue bawa, nggak gue keluarin karena...
"..."
Ya, gue salah mengintrepretasikan maksud dari tulisan yang ada di kertas tugas. Sorry, bukan karena gue nggak paham sama maksud dari tugas itu, tapi ini karena imajinasi gue yang sangat tinggi.

Terang aja, ketika temen-temen pada ngeluarin sebuah batangan berwarna merah dengan gambar Supermen di dalamnya, dengan tampang jenius, gue melihat sebuah celana dalam berwarna coklat di tas gue dengan merk 'Clark Kent' sambil berteriak dalam hati,
"Bangke, ternyata wafer! Gue malah bawa sempak!"
"..."
"Heh kamu?! Mana Clark Kent kamu?!", teriak kakak tatib (semacam panitia ospek yang kerjaannya ngatur tata tertib, tapi bagi gue, mereka lebih mirip kayak hansip yang gagal.)
"..."
"Loh buruan keluarin!"
"A..anu Kak, saya lupa bawa.", jawab gue, nyari aman.
"PUSH UP!", dia teriak pake Toa.
"Ba..baik kak.", gue pun push up dengan 2 jari dan kaki di atas, gue emang jago kungfu, oke becanda.
Hari itu, gue lebih rela disuruh push-up daripada nanti malah jadi world wide trending topic gara-gara bawa-bawa sempak saat ospek. "Sial!"

Gue juga bingung, kenapa gue bisa mikir Clark Kent itu adalah sebuah celana dalem, dan kenapa gue nggak kepikiran kalo benda itu adalah wafer supermen?! Ckckck. 

Hal ini jelas gara-gara pikiran mesum gue belanja di hari Minggu.

Ketika gue pergi ke pasar kaget, gue ngeliat abang-abang lagi jualan celana dalem bermerk 'Clark Kent' (nggak aneh kenapa supermen identik dengan sempak). Karena saat itu gue masih bingung dengan tugas ospek, gue beli deh sempaknya, dan nggak lupa milih yang warna coklat. Hmm.. manusia itu emang lebih sering mengandalkan penglihatan daripada pemikiran, alah.

Ada alasan lain kenapa gue membeli benda 'hina' itu, terkadang kita suka ditipu sama prasangka baik. Awalnya gue juga mikir, "Ngapain ospek-ospek begini disuruh bawa-bawa sempak ya? Hmm, mungkin ini buat jaga-jaga, siapa tau gue kepleset nyebur ke danau. Kakak ospek emang pengertian. Okesip."

Gara-gara ospek sempak itu, gue bertekad ketika nanti jadi panitia ospek, gue mau jadi kakak pendamping yang baik hati, siapa tau ada adek kelas yang nyantol ke hati, eaaa, tetep.

----

Ospek,
Katanya sih bertujuan untuk mempererat persahabatan dan melatih daya juang, "Btch pls, kenapa ospek nggak diganti jadi liga FIFA aja, persahabatannya lebih bermakna, dan kompetisinya lebih nyata."

Apa sih esensi dari kostum-kostum aneh pas lagi ospek, mungkin yang begituan bisa diganti dengan hal yang lebih wajar dengan seragam yang lebih elegan, kayak jas eksekutif berdasi, busana casual, dan lain-lain (dikira catwalk kali). Kalo alasan panitia nerapin 'kostum-kostum dunia lain' begitu biar dilihat kompak, kenapa nggak sekalian aja pake kostum putih-putih biar kayak FPI?! pft *disweeping

Trus, apa sih esensi dengan adanya tebak-tebakan tugas ospek? Bagi gue itu lebih mirip kayak tebak-tebakan anak kecil, kalo panitia bilang biar melatih daya berpikir, kenapa nggak dikasih soal kalkulus aja?! *mati berbusa

Ja.. jangan-jangan, ospek ini adalah sebuah konspirasi.

Coba kita amati, peserta ospek disuruh berbusana kemeja dan celana bahan, abis gitu pesertanya akan terkesan kayak manusia teraniaya dengan kostum-kostum yang hina, mungkin ini sebuah bukti kalo institusi pengin mahasiswanya jadi karyawan atau jadi kacung-kacung perusahaan. Ini konspirasi men!

Hehe, gue cuma becanda. Gue nggak mau didemo sama pihak yang pro dengan ospek.

Tapi alangkah baiknya tradisi-tradisi yang nggak ada esensinya, buang aja lah, kayak panitia penertiban, nggak usah belaga kayak militer, anda udah terlihat gagal men! Dan yang begituan malah berpotensi memicu pem-bully-an. Trus tugas-tugas yang aneh-aneh, yang begituan malah ngerepotin mahasiswa, dan nggak jarang juga ngerepotin sodara dan orang tua.

Baiknya masa perkenalan kampus bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih positif (bagi yang belom menerapkan ini), misalnya diisi dengan motivasi-motivasi belajar, perkenalan minat dan bakat, pembekalan biar lulusnya nggak lama, tips-tips berprestasi, dan tentunya perkenalan tentang skripsi sejak dini, pft.

--------------
Belajar jadi pengusaha bareng gue dkk., klik http://bit.ly/ayo-jadi-pengusaha

[end]
1 Juli 2014
Open Casting Movie: Catatan Akhir Kuliah

Open Casting Movie: Catatan Akhir Kuliah

Gue masih inget ketika dulu lagi nentuin judul naskah, yang akhirnya sekarang udah terbit jadi novel. Alhamdulillah.

Dulu, ada beberapa ide judul yang keluar sebelum akhirnya judul 'Catatan Akhir Kuliah' menjadi pilihannya, yaitu: 1) Catatan Akhir Kehidupan, 2) AKU INGIN WISUDA MAMAH, 3) AQ0e3 G4gAL CEKLIPCI L4G1eE, dan beberapa judul jahanam lainnya.

Entah ini wangsit atau ide cemerlang, akhirnya gue memilih judul Catatan Akhir Kuliah sebagai judul naskah novel gue, sebuah judul yang pas, gue banget, komersial, easy spelling, gampang diinget, mewakili semua orang yang kuliahnya pengin berakhir, dan yang paling penting ... gue udah lulus kuliah. Ehm kamu, iya kamu yg lagi baca ini, kapan kuliahnya berakhir? pft.

Perjuangan biar naskah ini bisa terbit cukup berliku-liku, mengajukan naskah novel ke penerbit itu persis kayak mengajukan proposal penelitian ke dosen pembimbing: SERING DITOLAK!

Udah gitu, nunggu kepastian diterima atau ditolak itu mirip banget kayak ketika judul skripsi kita diPHP-in sama dosen pembimbing. Gue harus nunggu 4 bulan baru dapet konfirmasi dari penerbit, dan selama 4 bulan itu, kerjaan gue gelantungan di pohon beringin.

Satu, dua, tiga penerbit udah menolak, sampe akhirnya ada Bentang Pustaka yg menerima, asik. Thx to Bentang. *Tuh udah dipromosiin, oke fix, royaltinya nambah :v

Dapet penerbit yang mau nerbitin, otomatis gue ketemu sama editor, nah editor ini makin mirip banget sama dosen pembimbing, nanyain revisi naskah mulu, sampe gue lupa sama revisi skripsi sendiri, oke itu mah udah lupa dari sananya. But, so far, mungkin tanpa Nadia (editor), buku gue nggak bisa sebagus sekarang, ya... walaupun udah bagus dari sananya sih, tsah. *digaplok pake skripsinya Nadia

Nggak lama setelah buku gue terbit, amaze juga pas belum ada sebulan, udah dicetak ulang. Dan dua bulan setelahnya, gue dihubungi sama director sebuah production house,
"Sam, novel kamu mau difilmin di layar lebar nggak?"
"Hah? Oh, iya. Hmm.. mau nggak eaaa... "
"..."
---


Jeng-jeng, rencananya sih untuk pembuatan @CAKthemovie ini bakal banyak persiapannya dan kalo sesuai timeline, movie bisa dinikmati di layar lebar di awal tahun 2015. Salah satu persiapan kita adalah open casting di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan, dst.

Selain tour ke kota-kota di atas, bagi kamu yang berminat memerankan karakter gue, Kodok, Sobari, dan karakter lain tapi bermasalah soal jarak, open casting bisa dipermudah dengan casting secara online.

Informasi lengkapnya bisa kamu lacak di fanspage CAK The Movie, dan twitternya @CAKthemovie, atau bisa juga pantengin TL twitter gue di @maulasam.

Nanti, movie ini bakal diproduksi di bawah Dari Hati Films, dan disutradarai oleh Om Jay Sukmo.

Sebagai selayang pandang, berikut nih karakteristik dari setiap karakter yang bisa dijadiin pertimbangan kamu, termasuk juga foto tokoh aslinya, "Aku mau jadi siapa ya?"

1. Sam: 20thn, pintar, nggak begitu ganteng (asem emang), gampang gugup, jaim. Stress karena salah jurusan dan selalu ditolak cewek jadi malas malasan.

2. Sobari: 20thn, ganteng, dewasa, kalem, cool, study oriented.

3. Ajeb : 20thn, ramah, agak-agak gembul, culun, nggak jelas, suka ke ge-eran.

4. Kodok: 20thn, baik, ramah, pake hijab, smart, mempesona, dewasa, jaim.

5. Wibi: 20thn, manis, pake hijab, penyuka Voldemort - Harry Potter, expresif, dan hobby minta ditraktir.

6. WRP: 20thn, pake hijab biasa-biasa aja, suka selfie, kalem tapi ember.

7. Dosen Ibu Elly : 40thn, dosen pembimbing skripsi Sam, penyabar namun perfectionist, agak cerewet, bijaksana.

8. Mario Tegar: 45thn, wanna be a Mario Teguh, (postur tubuh, wajah, rambut, suara, gaya bicara menyesuaikan).

---

Nah, udah kebayang kan kira-kira kamu cocoknya jadi siapa? Makanya buruan ramein deh open casting ini, siapa tau kamu berpotensi dan punya passion di bidang seni peran. Mantep.

Ditunggu lamaran kamu, kirim biodata, kontak (HP, email), beserta foto close up dan seluruh badan ke cakthemovie@gmail.com. Bagi yang memenuhi kriteria, akan kami undang ke kantor Dari Hati Films dibulan Juli 2014.

Jangan lupa likes dan pantau perkembangannya di CAK THE MOVIE, juga follow twitternya di @CAKTheMovie dan @maulasam, untuk kamu yang berdomisili di luar kota yang disebutkan di atas, bisa lihat video Casting Online di Youtube di bawah,



Untuk pertanyaan bisa komentar di comment box di bawah :)