New Post

Rss

31 Juli 2015
Catatan Akhir Kuliah The Movie

Catatan Akhir Kuliah The Movie


Wah baru update artikel lagi neh,

Berhubung Catatan Akhir Kuliah The Movie #CAKthemovie sedang tayang di bioskop sejak 30 Juli kemarin, izinkan gue dalam postingan kali ini memberikan beberapa nasihat untuk kalian agar segera menonton film ini, supaya kalian tersesat ke jalan yang benar.

Hehe,

Bukan maksud gimana-gimana sih, mungkin artikel ini terkesan subjektif, berhubung movie ini diangkat dari kisah pribadi gue ketika kuliah dulu, tapi setelah ngelihat animo LUAR BIASA penonton yang udah nonton dan ngeshare pengalaman mereka di sosmed (twitter, facebook, tumblr, path, dll), gue jadi makin PEDE untuk mengimbau, kalo film ini nggak kamu tonton sekarang, kamu akan ketinggalan euforia-nya,



Kira-kira begitu komentar dari salah satu penonton, yaitu Mas Pandji Pragiwaksono, jeng-jeng. "Emang dia siapa, Sam?"

Coba deh liat testimonialnya, sampe-sampe gue dibilang 'baper' sama Mas Pandji, kampret juga orang ini, "Makasih banyak loh, Mas. Mas suka martabak manis, nggak Mas?", makasih banyak juga untuk penonton lain yang sudah memberikan review-nya, semoga review itu tulus darihati, sama kayak nama PH-nya.

-

Gue lanjutin,
Pada awalnya, jujur aja gue nggak ekspek banyak terhadap komentar yang akan muncul setelah menonton film ini, gue cenderung bersedih hati kalo misal banyak yang nonton, serius. Karena semua aib gue akan mendunia, imej gue bakal ancur, dan gue makin jomblo. Asem. Tapi... ketika gue ngecheck dan ngelihat betapa antusiasnya penonton terhadap movie ini, gue pun bisa berkomentar,
"Aku rela dengan nasib seperti ini, ya Tuhan."
"Sabar ya, Sam.", gue dipuk-puk sama Bang Acho (pemeran gue dalam movie ini).
Entah kenapa, gue malah jadi seneng kalo ada yang nge-bully gue di twitter. Gpp deh, yang penting kalian nonton, gue udah seneng banget. *happy *happy

Anyway, gue berusaha nggak ngasih spoilers, tapi rata-rata orang akan berkomentar seperti ini setelah menonton,
Siswa SMA: "Duh jadi pengin cepet-cepet kuliah."
Mahasiswa: "Duh jadi semangat ngerjain skripsi."
Anak IPB: "Duh jadi kangen IPB"
Anak non-IPB: "Duh jadi kangen kampus."
Friendzoned: BANGSAT!!!" (tweet dari @muhadkly)
Ketika Mas Joe (script writter) dan Mas Jay (sutradara) bilang di media,
"Film ini cocok ditonton semua kalangan. Untuk siswa SMA biar mereka tau kehidupan kuliah. Untuk mahasiswa biar mereka cepet lulus, dan untuk yang udah lulus kuliah bakal jadi masa-masa ngangenin ketika dulu ngekost, kuliah, wisuda, dan lain-lain.", kata-kata mereka nggak salah.
Gue sebagai penulis novelnya (yang kebanyakan para penulis suka kecewa dengan hasil adaptasi film dari buku mereka) mau berkomentar:

Mulai dari plot cerita, aktor dan aktris, soundtrack dan scoring (oleh Budhi Doremi), semuanya ngena banget! Walau gue akui, bobot film ini sangat ringan. Menurut gue itu positif, karena tujuan awal film ini agar mudah dicerna oleh penonton biar diare.

Alhamdulillah, mungkin ini berkat koordinasi yang kooperatif antara beberapa pihak, gue bahkan tanpa diminta, selalu berusaha standby mengikuti proses shoting movie ini, biar dapet makan gratis gitu.

Kita butuh support.

Secara pribadi, gue berterima kasih sama PH Darihati Films atas terlaksananya kerja sama ini, mereka orang-orang yang baik, dan mereka membuat karya ini bukan sekedar untuk kepentingan bisnis, mereka juga bilang dengan rendah hati bahwa Catatan Akhir Kuliah The Movie ini mereka kerjakan atas dasar motivasi ingin berkarya. Gue pikir itu retorika, tapi selama bekerja sama, gue melihat dan merasakan kegigihan, determinasi, dan perjuangan mereka. Gue jadi makin tau,
"Ini lah orang-orang yang ingin berkarya, yang nggak mau ngasal, yang terus mau evaluasi, mereka emang pekerja seni sejati. Sudah selayaknya, mereka mendapat support yang tulus dari publik, yaitu dengan menonton karya mereka di bioskop.", backsound: *YUUUU RAISE ME UPPPPP!!!
Jujur, kemarin malem dan beberapa hari sebelumnya gue selalu ikut meeting dengan mereka (lagi-lagi biar dikasih makan gratis), dan mereka terlihat deg-degan dengan jumlah penonton yang Senin nanti (3 Agustus) akan direview, kalau hasilnya tidak memenuhi target, layar Catatan Akhir Kuliah The Movie akan ditutup.
"Duh Sam. Gue deg-degan banget nih sama jumlah penonton.", kata Mas Joe.
"Sabar ya Mas? Minum white coffe dulu biar gak deg-degan.", gue disiram.
Duh, sayang banget kan? :((
Kenapa sangat disayangkan? Karena movie yang pure mengambil tema sangat mahasiswa, baru kali ini muncul lagi bukan?

Gue turut prihatin dengan kekhawatiran mereka, mungkin kalo gue menggalang koin untuk #saveCAKthemovie, koinnya bakal banyak kekumpul, lumayan buat bayar SPP, apasih.

Nah kira-kira begitu preview testimonials dan curhatan-nya, gue akan sangat berterima kasih jika teman-teman mau mengajak semua teman, kolega, dosen killer, dosen yang nggak killer, dosen pembimbing, gebetan, mantan gebetan, mantan pacar, mantan yang udah merit, keluarga, keluarga mantan, dan semuanya untuk nonton movie ini.

Insya Allah, kamu nggak akan nyesel, mungkin yang nyesel adalah cewek-cewek yang dulu menolak gue. Lah curcol?

Catatan Akhir Kuliah mulai di bioskop tanggal 30 Juli 2015, di jaringan Cinema 21, Cinema XXI, Blitz Megaplex, dst.

Share foto ticket beserta review kamu dengan mention kami di twitter @maulasam, @cakthemovie, @muhadkly, @ajundangerous, @natashachairani, @anjanidinavdw, @nikenayu, dan twitter cast and crew Catatan Akhir Kuliah. Kalo mau bikin review di blog pribadi juga boleh banget! Itu artinya, kamu peduli sama kami. :))

-









Karena banyak banget testimonialsnya, lebih lengkap temen-temen bisa nge-check favorite twitter di twitter.com/maulasam/favorites. Ada juga review dari Riza Pahlevi http://www.rizapahlevi.com/2015/07/review-film-catatan-akhir-kuliah-2015.html, dan D. Brahmantyo http://dbrahmantyo.tumblr.com/post/125473907778/semalam-nonton-catatan-akhir-kuliah-yang-ternyata, dan review lainnya (bisa ditemukan di Google dengan keywords: Catatan Akhir Kuliah). Atau ngecheck hashtag #cakthemovie, #cakthemovie30juli, #catatanakhirkuliah, di twitter.

Terima kasih semuanya. Yuk ramaikan bioskop, dan dukung kami :))

#savecakthemovie
10 Juli 2015
no image

Sikapi Hidup dengan Sederhana

Cuma mau curhat, 

Dulu sering banget ngeliat timeline sosmed isinya status temen yg ngepost wisuda, sering banget. Biasanya posting pertama wisudanya, banyak yg ngelike dan comment. Eh makin sering aja dia ngeposting euforia-nya. Sampe beberapa posting terakhir, yg ngelike dan comment jadi sedikit banget. Pada akhirnya, nggak lagi ngeposting apa-apa di sosmed-nya, sama-sama jenuh.

Setelah wisuda, lagi-lagi suka sering ngeliat temen ngeposting aktifitas pertama mereka ketika dapet kerja. Berseragam kantor, traveling, jalan-jalan ke luar negeri, dst. Euforia di timeline sosmed-nya kurang lebih sama kayak di atas, sampe nggak ada kabarnya lagi.

Ada juga temen yg ngeposting moment pernikahan mereka, pada awalnya semua ikut seneng karena mereka bahagia. Tapi temen-temennya mungkin jadi jenuh, kalo gue pribadi jadi ngerasa, "apaan sih?" karena dia terus-terusan upload moment mesranya ke publik. Sampe akhirnya, berakhir seperti kasus di atas.

--

Mungkin status ini lebih tepat ke status curhat. Tapi juga pengin sama-sama berbagi rasa kalo hidup ini nggak selalu berjalan bahagia, untuk itu, di setiap fase hidup kayaknya nggak usah lebay menyikapinya. Tetep sederhana dan apa adanya,

Toleransi. Kalo wisuda, ya biasa aja, mungkin banyak juga temen yg udah berusaha lebih baik, tapi kurang beruntung.

Kalo dah dapet kerja, yaudah biasa aja. Karena mungkin masih banyak temen yg udah bekerja dengan pekerjaan yg lebih baik, tapi tetep low profile karena sadar banyak yg belum sibuk dengan pekerjaannya.

Dan kalo udah nikah, yaudah biasa aja. Cukup orang tau kalau kalian udah bersama. Karena mungkin masih banyak yg masih sendiri, tapi dia terus berdoa yg terbaik, atau mungkin kamu menikahi orang yg dia cintai, tapi berusaha bahagia untuk kamu. Ini nggak mudah (lah jadi curhat).

Intinya, apapun yang terjadi, baik atau buruk dalam hidup, sikapi dengan sederhana dan yang paling penting ... berusaha menjaga perasaan yang lain.
26 Mei 2015
Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Kabar gembira. Kata Menristek, skripsi nantinya bukan menjadi syarat wajib lulus jadi sarjana. Ke depan wacananya, untuk jadi sarjana, mahasiswa nggak harus bikin skripsi, tapi dikasih pilihan lain seperti bunuh diri atau lompat dari gedung rektorat. Maksudnya milih antara skripsi, laporan penelitian, atau pengabdian masyarakat.

Denger-denger alasan kenapa skripsi nggak diwajibin nantinya karena banyak oknum jual beli skripsi, jadi skripsi yang kalian liat setiap hari di perpus, bisa jadi bukan bikinan mahasiswa, tapi bikinan dukun.

Selain itu, mungkin ada evaluasi kalo bikin skripsi itu yang tujuan awalnya untuk menambah wawasan ilmiah, nggak terlalu ngefek sebagai solusi secara langsung atas masalah yang ada di masyarakat. Bahkan mungkin semakin memicu pemasanan global, secara makin banyak skripsi, makin banyak pohon tereksploitasi. BAKAR!

Bagi gue pribadi -yang udah lulus, skripsi itu nggak ada efek nyata dan langsung untuk kita setelah lulus kuliah, kecuali bagi mereka yang pengin kuliah lagi di bidang yang sama atau bekerja di bidang yang sama -jadi dosen atau praktisi. Dan sangat tidak ngefek bagi mereka yang kemudian kerja di bank, atau jadi agen asuransi.

Kalo nggak percaya, coba tanya kakak kelas kamu yang udah lulus dan bekerja, apa ketika mereka interviu kerja ditanyakan skripsinya apa? Jawabannya pasti nggak, karena gue juga yakin, pewawancaranya pasti nggak mau ngungkit-ngungkit dirinya sendiri pas dulu ngerjain skripsi. HINA!

Skripsi bagi institusi tentunya bermanfaat selain untuk ngisi pajangan di rak-rak buku, juga untuk menambah kekhasanahan dunia ilmiah. Tapi dari sisi mahasiswa, skripsi itu lebih banyak sia-sianya gue rasa, dan kayaknya yang membaca ini 90% setuju, bagi yang nggak setuju, coba cek diri kamu sendiri, jangan-jangan kamu zombie.

Walaupun memang, secara bawah sadar bagi orang yang membuat skripsi, mereka akan lebih pintar berpikir analitik. Seenggaknya salah satu sisi positifnya itu, yang lainnya salah semua.

Balik lagi soal wacana oleh Menristek, ada yang sepakat, ada juga yang nggak sepakat ketika skripsi bakal nggak diwajibin bagi yang mau jadi sarjana. Kalo mahasiswa pada sepakat, itu udah lumrah. Cuma gue rada curiga sama mahasiswa atau orang yang nggak sepakat dengan usulan skripsi yang bakal diganti ini. Mungkin kalo skripsi udah nggak diwajibin, mereka bakal kehilangan bisnis perdukunan skripsi-nya.

Tapi gue nggak mau suudzon, siapa tau mereka emang pengin mempertahankan sistem skripsi sebagai syarat lulus, karena orang yang nggak bisa bikin skripsi, nggak bisa dibilang 'gentle', katanya. Bener memang, pressure makes you stronger.

---

Gimana donk solusi terbaiknya?

Kebayang kalo gue jadi rektor, gue akan lebih santai meluluskan mahasiswa-mahasiswanya, "Kalo lulus ya lulus aja, kenapa harus gue yang repot?!", kemudian lompat dari rektorat.

Seandainya kejadian mahasiswa yang mau lulus dikasih pilihan skripsi, penelitian, atau pengabdian masyarakat; gue rasa jatohnya akan jadi sama aja, yaitu mahasiswa yang lulusnya karena terpaksa.

Selama selalu ada patokan untuk lulus, akan ada aja cara mahasiswa untuk ngakalin jalan pintasnya, mahasiswa kan jenius. Dan ada alasan kenapa mahasiswa bisa berperilaku seperti ini, yaitu karena desakan.

Logikanya, mahasiswa kuliah sendiri, biaya sendiri, ngurus lulus sendiri, setelah lulus nyari kerja sendiri. Apa nggak gila?! Belum lagi ketika mereka harus dihadapi dengan kenyataan hidup: 12 tahun sekolah, 4 tahun kuliah, kemudian kerja seumur hidup.

Nah, harus ada solusi win-win antara mahasiswa dengan kampus sebagai pintu terakhir untuk bisa berkarier dalam hidup, salah satunya adalah mahasiswa dikasih kebebasan untuk milih jalan kelulusannya sendiri: sesuai dengan minatnya apa, passionnya apa, dan potensinya apa.

Instagram: @maulasam

Karena nggak semua mahasiswa seneng penelitian atau pengabdian, ada aja mahasiswa yang suka bisnis, arahin lah mahasiswa itu untuk bikin bisnis plan dengan modal kecil. Ada juga mahasiswa yang suka jurnalis, bisa diarahin ke dunia jurnalistik. Ada juga mahasiswa yang seneng main game, bikinin mereka kompetisi game: yang menang lulus - yang kalah ngulang. Ini baru kompetisi sehat!

Hmm, jadi kepikiran. Kenapa dulu sekolah siswa-siswi masuknya bareng dan lulusnya bareng, sedangkan kuliah mahasiswa masuknya bareng tapi lulusnya sendiri-sendiri? Ini kan hal simple tapi ajaib. Satu alasannya, karena guru sekolah itu lebih perhatian sama murid-muridnya, lah kalo kuliah, jangankan perhatian, dosen yang inget nama mahasiswanya aja udah terancam punah.

Jangankan wacana skripsi yang dijadi pilihan, sebenernya -imho, sistem yang dipake saat ini pun masih bisa efektif, asalkan peran dosen sebagai 'pengganti orang tua di kampus' bisa dimaksimalin. Dimana mereka mampu memprioritaskan mahasiswa bimbingannya di atas semua kesibukan dan project-project mereka: mahasiswanya dibimbing dengan sabar dan asik, ramah dan baik, untung-untung SPP mahasiswanya dibayarin, dibayarin juga uang bulanannya, atau dijodohin sama anaknya yang cakep.

Gue rasa, apapun syarat kelulusan seorang sarjana, seandainya dosen bisa lebih perhatian, semuanya akan baik-baik aja. Ya gak?

Itu pendapat gue, gimana pendapat kamu? Tulis di komen ya, untung-untung kamu bisa kasih opini sendiri di blog kamu, kemudian share link-nya ke gue dan @bentangpustaka di twitter, selain opini kamu dibaca ribuan orang, kamu juga berkesempatan menangin hadiah dari Bentang lewat Kompetisi Bercerita. Yuk ikutan, posternya bisa dicek di bawah.


22 Mei 2015
Dilema Aksi Mahasiswa

Dilema Aksi Mahasiswa

Temen-temen udah ikutan Kompetisi Bercerita dari Bentang? Kalo kalian punya opini atau cerita tentang dunia kuliah dan kerja, boleh tuh diikutsertakan di Kompetisi Bercerita, liat posternya ya,


---

Oke, lanjut ke tulisan kali ini, gue mau beropini tentang aksi mahasiswa yang kemarin ramai diperbincangkan.

Langung aja ya. Gue, yang dulu juga aktifis kampus, punya pendapat bahwa aksi mahasiswa itu lebih banyak absurdnya daripada konkretnya, mengatasnamakan suara rakyat, alih-alih cuma sekedar enggak enak sama temen organisasi, nggak sedikit yang bikin macet sana-sini, penginnya mencuri hati rakyat, tapi malah melukai hatinya -lah kok melow.

Beberapa mahasiswa juga nggak ngerti apa yang mereka aksi-in. Beberapa yang lain udah mantep motivasi ikut aksi, berteriak mengkritisasi kebijakan pemerintah, tapi minim gagasan solusi yang progesif. Nggak ngerti kan? Sama, gue juga.
"Sam, ikut Aksi yuk, massa-nya kurang nih. Wah gak sohib lo!?"
"Duh, gimana ya. Gue ada kelas nih, gue juga gak ngerti aksi."
"Jadi elu lebih milih kuliah daripada nasib bangsa ini?! Udah ikut aja!"
Kemudian gue make almamater dan ngasah bambu runcing.
Gue juga yakin, salah satu motivasi mahasiswa yang menggerakkan aksi itu juga karena pengaruh tradisi, "Masa', tahun-tahun lalu ngadain aksi besar-besaran, di angkatan gue nggak ada aksi?", makanya ketika mereka 'disenggol' tentang aksi mereka, mereka selalu ngungkit-ngungkit yang lalu-lalu (move on donk), berambisi banget biar bisa dikenang kayak mahasiswa angkatan 98 yang menurunkan presidennya, alih-alih gagal, yang turun malah IPK-nya.

Nah biar fair, gue juga nggak sependapat dengan beberapa kebijakan pemerintah, well, sering kali gue juga menjadi pihak yang dirugikan, seperti BBM naik, harga pangan naik, harga ongkos angkutan naik, harga pomade naik, sedangkan IPK nggak naik-naik. Iya gue curhat.

Tapi, apakah respond kita sebagai kaum intelek harus selalu dengan cara berteriak di jalan tanpa aksi nyata? Seakan-akan aksi itu menjadi cara paling mudah untuk mengatasi masalah bangsa. Ehem.

Anyway, gue nggak mau membahas pro kontra aksi/gerakan mahasiswa saat ini, udah banyak yang ngebahas, karena gue juga sepakat bahwa mahasiswa itu bertugas sebagai kontrol pemerintah.

Tapi jaman sekarang, aksi mahasiswa itu udah kayak MLM, gue yakin keduanya punya niat baik, tapi stereotip di masyarakat, keduanya udah punya makna yang kurang positif, mahasiswa harus cari cara kreatif lain untuk menyuarakan suara rakyatnya, dan tentunya didampingin dengan aksi nyata yang berkelanjutan.

After effect.

Di sini inti tulisan gue, yaitu bagaimana kehidupan mahasiswa yang suka aksi setelah menghadapi kehidupan pasca kuliah? Jeng-jeng. Serius ini seru, dan gue harus buka-bukaan soal ini. *buka baju

Gue masih tergabung dalam komunitas sesama teman organisasi, kita sering chit-chat banyak hal di grup WhatsApp, ngebahas ini dan itu. Dan kemaren saat aksi mahasiswa marak di media, terjadi percakapan kayak gini,
"Liat deh mahasiswa sekarang, masa aksinya kayak gitu."
"Hello guys!? Dulu kita juga kayak gitu keles."
"Hah? Iya ya? Hahaha.", kita semua ketawa dan ngebanting hape masing-masing.
Bagi temen-temen mahasiswa, seriusan, mungkin ini sebab kenapa sedikit rakyat yang bersimpati dengan gerakan mahasiswa, padahal simpati itu penting untuk meraup masa rootgrass agar sebuah gerakan makin berpengaruh. Semakin berpengaruh, semakin besar efeknya.

Dilema.

Beberapa temen mahasiswa gue yang dulu nggak pernah absen ketika aksi, dulu sangat anti dengan Amerika, setelah lulus dan berhadapan dengan kejamnya dunia, sekarang dia ngejualin produk MLM dari Amerika, niat banget lagi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan kebijakan pemerintah tentang eksploitasi sumber daya alam, sekarang kerja di perusahaan eksploitasi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan pemerintah, sekarang nggak pernah ketinggalan ikutan CPNS. Belum lagi yang kerja di bank, lebih lebih lagi. Malah mereka nawarin gue pinjaman nasabah.

Ini gimana?! Posisi gue saat ini ada di antara pengin nangis dan ketawa. Ketika gue bertanya ke mereka, mereka menjawab, "Ini rejeki dari Tuhan.", segampang itu kah bawa-bawa nama Tuhan.

Ini memberikan citra general bagi diri gue sendiri kepada mahasiswa saat ini, bahwa apa yang mahasiswa lakukan sekarang, yang begitu idealis, begitu keras, begitu panas, hanya sekedar membawa paradigma yang sporadis dan pragmatis. Sedangkan konsistensi dan komitmen masih dipertanyakan.

Intinya, apakah idealisme mahasiswa akan terus dibawa setelah lulus nanti? Bicara soal idealisme, jangan menjadi orang yang naif. Toh sangat mungkin sekali, petinggi-petinggi negara ini yang mahasiswa kritisasi, dulunya juga mahasiswa yang ikut beraksi. Bagi gue, aksi itu bukan hanya berdemo di jalanan, aksi itu lebih kepada kemantapan pola pikir yang konsisten dengan diiringi aksi nyata positif yang walaupun sedikit, tapi berkelanjutan. Gue juga nggak ngerti lagi ngomong apa.

---
Tulisan ini untuk memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Semoga kita menjadi pribadi yang konsisten antara mulut dan aksi nyatanya. Sorry for this late post.
2 Mei 2015
Catatan Akhir Kuliah 2.0

Catatan Akhir Kuliah 2.0

HORE!

Alhamdulillah, Buku Pertama gue Catatan Akhir Kuliah 1.0, udah terbit satu tahun lalu, dan sekarang Catatan Akhir Kuliah 2.0 ikutan terbit lagi!


Penerbitnya tetep sama, Bentang Pustaka. Terima kasih Bentang, udah sudi menerbitkan buku yang hina ini. Tapi tetep keren kan? Ya kan?

Anyway, langsung aja bercerita sedikit tentang CAK 2.0. Bisa dikatakan isi cerita dari buku kedua ini adalah sequel dari buku pertama. Kamu akan tau cerita kelanjutan gue dengan Kodok, nasib tiga sahabat idiot: Sam, Sobari, dan Ajeb setelah mereka lulus kuliah. IYA, KITA UDAH LULUS?!

Bagi kamu yang masih kuliah dan pengin banget lulus, gue sarankan membaca buku kedua ini, karena apa? Karena kalian pasti akan mengurungkan niat untuk lulus buru-buru, dan segera mendaftarkan diri ke komunitas KB, Kuliah Berencana: Hindari kelulusan dini, IPK 2 lebih baik.

Alhamdulillah, karya yang kedua ini gue mendapat apresiasi yang bagus banget dari beberapa pembaca, dan tentunya editor gue sendiri di Bentang, "Tulisan kamu berkembang Sam. Buku kedua ini jauh lebih baik secara konten dan teknik menulis. Kamu juga makin ganteng."

Terima kasih sekali lagi kepada Bentang yang terus men-support, bisa kali royaltinya dinaikin? Pft.

Okedeh, nggak berlama-lama. Bagi kamu yang mau tau kehidupan seorang fresh graduated yang baru aja lulus kayak gimana, atau bagi kamu yang mau adu apes-apesan sama gue, kamu wajib beli buku ini.

Tersedia di Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dan mas-mas bertoga lainnya. :)

--

APA? KAMU NGGAK PUNYA DUIT BUAT BELI!?

Santai, karena gue dan Bentang Pustaka anak yang baik, kami lagi bikin Kompetisi Bercerita Catatan Akhir Kuliah 2.0 nih, bagi kalian yang mau ikutan, buruan ikutan dan menangin hadiah kece dari Bentang Pustaka dan Ositmen, lagi-lagi Ositmen! Iyalah, kaos-nya keren-keren, kamu bisa cek IG-nya di @ositmen.

Ini dia ketentuannya, happy quiz-ing.


7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

Siapa bilang telat lulus itu aib pribadi? Telat lulus itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga.

Galau ya kalo kuliah kelamaan lulus? Iya, rasanya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. Kan bete.

Banyak yang nanya ke gue, "Kak Sam, gimana caranya ngatasin perasaan ketika banyak temen yang lain udah lulus duluan?" Sebenernya jawabannya simple, siapa bilang orang yang lulus duluan itu lebih bahagia, siapa juga yang bilang kalo orang yang nikah duluan menjamin bahagia. Bahagia itu sederhana, nggak usah terlalu mikirin kehidupan orang. Iya, sesimple itu. Rasa cuek itu penting.

Ambil sisi positif dari pengalaman yang ditinggal wisuda duluan, karena wisuda telat itu mengajarkan kita membedakan mana yang sekedar teman, mana yang mengaku sahabat, dan mana yang bener-bener sahabat, karena sahabat setia wisuda bersama.


Sebagai motivasi, mungkin sebagian dari kalian masih sulit melihat sisi positif dari pengalaman wisuda yang telat. Beberapa udah dijabarkan di atas, detailnya seperti berikut,

1) Status
Status mahasiswa itu lebih bergengsi dari pengangguran, banyak calon sarjana jaman sekarang yang ngebet mau lulus, tapi nggak siap bekerja. Mumpung masih mahasiswa, ada baiknya kita belajar gimana bekerja, biar ketika lulus nanti, kita punya alasan yang tepat. Karena lulus tepat waktu dan di waktu yang tepat, akan kalah sama lulus yang dipersiapkan dengan tepat.

Kebanyakan sarjana salah kaprah, mendaftar kerja cukup bermodal IPK, padahal pengalaman kerja itu jauh lebih dibutuhkan. Coba kita liat dari sudut pandang pemilik usaha; misal kamu pengusaha, dan lagi butuh pegawai, mana yang akan kamu pilih sebagai recruitment:
a) IPK gede tapi kerjanya nggak bener.
b) IPK seadanya tapi terampil bekerja.
c) IPK gede, kerja terampil, dan cakep.

Kalo gue, gue akan pilih (b) untuk jadi pegawai, dan (c) untuk dijadiin istri.

2) Nggak punya beban
Nyebelin itu ketika temen yang baru aja wisuda atau wedding, kemudian mereka ngepost moment-moment bahagia mereka di facebook. Bolehlah sekali dua kali, tapi ini sebulan ngeposting begituan terus.

Coba amatin, posting pertama yang ngelike dan ngecomment akan banyak banget, tapi seiring berjalannya waktu, jumlah likes and comments akan berkurang. Hal ini disebabkan, karena kita semua tau, bahwa sikap mereka itu bikin eneg, atau jangan-jangan, jumlah likes dan comments yang banyak itu adalah mereka sendiri yang bikin akun cloning. Ngelikes posting sendiri, comment posting sendiri. Gila.

Ini kok gue curhat.

Anyway, tau kah kalian perasaan temen yang wisuda duluan tapi nggak kunjung dapet kerja, mereka itu kayak kemakan omongan sendiri, mereka punya beban sendiri, dan rasanya itu nggak enak, ibaratnya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. KOK UMPANYA KAYAK DI ATAS!?

Intinya, lulus nggak usah cepet-cepet, kalo nggak cepet dapet kerja kan nyesek.

3) Terkenal
Telat lulus itu akan membuat kamu terkenal. Selain terkenal oleh mahasiswa, kamu juga akan dikenal dosen-dosen, mba-mba warteg, satpam, tukang parkir, tukang fotokopi, dst. Nah, kalo kamu terkenal, follower twitter dan instagram kamu akan bertambah, nanti kalo udah banyak, kamu bisa jualan. Kamu akan kaya sebelum wisuda, kamu akan KAYA! KAMU AKAN KAYA!

4) Banyak yang ngedoain
Jangan remehin doa-doa orang yang ter-aamiin-i, waktu gue telat lulus dulu, banyak orang yang prihatin, jadi banyak orang yang ngedoain.
"Lama banget lulusnya Kak? Cepet lulus ya, Kak?" Aamiin.
"Semoga segera nyusul, Sam. Sukses ya?" Aamiin.
Walaupun mereka cuma berkata-kata, tapi gue yakin bahwa kata adalah doa. Kalo mereka niatnya ngejekin atau gimana, selama kata-kata mereka positif, aamiin-in aja. Siapa tau kekabul.

5) Gampang nyari jodoh
Telat lulus itu asyik, karena adek kelas mahasiswa baru setiap tahun akan bertambah. Ini asyik banget ketika kamu udah berhasil nggak terpengaruh dengan 'keharusan lulus tepat waktu'. Karena apa? Mungkin kita bosen dengan wajah temen-temen seangkatan, untuk itu, Tuhan menurunkan rahmat-Nya dengan mendatangkan wajah-wajah baru berupa maba-maba.

Kalo wajah kamu termasuk yang nggak terlalu terlihat tua, anggaplah menjadi senior di kampus sebagai kesempatan mencari jodoh, ini hadiah dari Tuhan, tapi bbagi kamu yang emang tampangnya udah ketuaan, saran gue sebelum ngedeketin maba, kalian beli krim anti-aging satu kontainer, tuangkan di kolam renang, dan mandilah di sana 3 kali sehari.

6) Downline semakin banyak
Ini khusus bagi kamu yang menggiati aktifitas MLM, menjadi terlalu tua di kampus bisa dijadikan ajang mencari network yang lebih luas, biasanya maba-maba tuh gampang dipengaruhi, terutama mahasiswi-nya. Cobalah dekati mereka, tawarkan produk kecantikan dan pembalut. KAMU AKAN KAYA!

7) Kamu akan mendapat pahala yang besar
Pernah nggak ngebayangin, ketika kamu nggak kunjung lulus, tanpa sadar kamu sedang mendukung pembangunan kampus kamu. Kamu bayar SPP untuk fasilitas kampus dan gaji dosen, fasilitas kampus bermanfaat untuk ribuan orang, dosen punya keluarga yang dikasih makan, begitu terus siklusnya, betapa bermanfaatnya mahasiswa yang telat lulus. Enak kan? Iya, emang enak ...


Seperti biasa, setiap ada postingan baru, akan ada #QuizChallenge berhadiah t-shirt keren dari Ositmen, caranya gampang: 1) Kasih komentar kamu di blog ini, komentar terbaik yang akan menang. 2) Follow IG @Ositmen di instagram.com/ositmen karena pemenang akan diumumkan di sana.

Jangan lupa sertakan email kalian di akhir komentar ya :)

10 April 2015
Kapan?

Kapan?

Cewek,

Mungkin kalo ada mahasiswa yang membuat topik skripsi tentang 'mengerti perempuan', maka mahasiswa itu akan dipastikan lulus ratusan tahun.

Btw, rasanya nggak fair kalo misal cuma Ada Band yang menyanyikan lagu Karena Wanita Ingin Dimengerti, karena pada dasarnya laki-laki juga pengin dimengerti. Tapi dari zaman lagu Ada Band itu keluar sampe tahun sekarang, belum ada lagi yang nyanyiin tentang perasaan cowok yang kayak gini.

Makanya gue sempet berpikir, mungkin setelah CAK The Movie rilis, gue akan banting setir jadi penyanyi, dengan debut single yang berjudul 'Emang Cuma Wanita Doank yang Ingin Dimengerti, Laki-laki juga Keles", nanti video klip-nya ada seorang cowok yang lagi sidang skripsi dan tiba-tiba gila kesurupan minta lulus, karena nggak ngerti sama skripsinya sendiri. "Lulusin AKU! LULUSIN AKU GAK!? WOOOH!"

Anyway, jelek-jelek begini, gue sering ditolak cewek. Secara kebetulan, dosen pembimbing gue juga cewek. Udah dosen pembimbing, cewek lagi. Lengkap. Dosen cewek itu sama halnya kayak cewek kebanyakan, penginnya dimengerti, penginnya di-SMS duluan, penginnya dicariin duluan, kalo nggak digituin dia bakal ngambek. Persis. Sering kali juga, ketika kita SMS dengan seksama, mereka suka ngebales dengan kata sesingkat-singkatnya. Ini SMS Bu, bukan proklamasi.
"Kapan mau bimbingan?"
, dosen pembimbing nggak pernah seperhatian ini, jangankan nanyain kapan mau bimbingan, masih untung mereka inget kalo punya bimbingan. Di sisi lain, justru temen sendiri yang kelewatan perhatian dengan nanyain, "Kapan lulus? Kapan wisuda? Kapan bayar utang? Kapan nraktir gue? Kapan? Kapan?", dan pertanyaan kapan lainnya. Temen yang kayak gini emang susah dihadepin, bisa jadi mereka emang bener-bener perhatian, atau bisa jadi mereka emang pengin mulutnya disumpel pake pembalut.

Bener kata orang, hidup ini ujian, dan soalnya kebanyakan pertanyaan "Kapan", orang yang lulus ujian adalah orang yang berani menjawab dan membuktikan pertanyaan kapan.

--

Ngomong-ngomong soal kapan, gue ada cerita,

Beberapa waktu lalu, gue mendapatkan kehormatan untuk memberikan pidato kelulusan untuk para wisudawan, tepatnya wisuda bulan Maret kemarin sebagai perwakilan alumni. Udah lama nggak ngasih pidato di acara formil seperti itu, gue tegang, entah bagian yang mana.

Karena permintaan memberi pidato ini datang sehari semalam sebelum hari-H, gue nggak ada persiapan banyak, kaos kaki aja beda sebelah, bau lagi, hanya orang jenius yang bisa mencium keharuman kaos kaki gue. Gue sempat menciumnya, dan wangi, gue emang jenius, sedangkan temen gue, jarak 2 meter, dia terlihat mengeluarkan busa dari mulutnya, dia nggak jenius. Ini kok ngebahas kaos kaki yang bau.

Seperti biasa, pidato dari alumni datang setelah pidato pertama dari lulusan terbaik. Mengawali pidatonya, dia berpuisi, puisinya seperti ini ...

Oke sorry, gue lupa.

Setelah berpuisi, dia berterima kasih kepada dosen dan orang tua, institusi, dan kemudian memberikan motivasi bersama untuk mengamalkan ilmu untuk masyarakat, nusa dan bangsa. Applause.

Berikutnya, gue.

Gue berjalan menuju podium, di depan ratusan audience, di depan dosen gue dulu, di depan adik kelas, dan di depan temen sendiri (yang kelewatan lama lulusnya). Gue hanya membawa sebuah buku catetan, yang saat tadi lulusan terbaik lagi mengoceh, gue sempet membuat beberapa bahan untuk jadi pembicaraan.

Gue perlahan membuka catatan itu, sialnya nggak gue tandain, bahan materi gue bolak-balik nggak ketemu, yang ada catetan utang di warteg. Apalah daya, gue pun mulai bicara materi yang absurd. Biar nggak terlalu canggung, gue membuka pidato juga dengan puisi, seperti ini ...
"IPK tinggi jangan tinggi hati, IPK rendah jangan menyerah, udahgituaja."
Audience bengong, merasa aneh, kemudian tertawa, ada beberapa yang tepuk tangan, gue sambut,
"Yang mau tepuk tangan, gak usah setengah-setengah.", tepuk tangan mereka makin kenceng. 
Pidato gue lanjutkan dengan menyambut dosen, guru besar, orang tua, dan wisudawati yang gue cintai, semoga dibalas cinta gue, sedangkan wisudawan-nya gue lupakan, biarin aja.

Berpikir mau bicara apa, akhirnya gue menceritakan perjuangan gue ketika wisuda dulu, "Bahagia ya, akhirnya temen-temen bisa menjawab dengan lantang kalo masih ada yang nanya 'Kapan wisuda?', padahal pertanyaan itu dulu, rasanya sakit banget.", wisudawan tersenyum.
"Saat mahasiswa dulu, saya aktif di organisasi, saya mengikuti program KB, kuliah berencana, hindari kelulusan dini, IPK 2 lebih baik.", sambil menunjuk 2 jari. Audience tertawa. 
Gue menyampaikan pula bagaimana perjuangan seorang fresh graduate dalam dunia kerja, "Bagi yang ber-IPK tinggi jangan seneng dulu ya, karena IPK tinggi tidak menentukan kesuksesan... apalagi IPK rendah.", wisudawan yang tadinya kesenengan, kemudian terlihat keluar dan melompat dari gedung.

Iya memang, pidato formil ini malah jadi stand up comedy. Tapi bodo amat, gue nggak suka dengan aturan yang kaku, pula wisudawan-wisudawan ini terlihat haus hiburan. Gue pun melanjutkan.
"Jangan pula berbangga diri dengan status sarjana terbaik kalian, karena bagi saya, sarjana terbaik itu adalah sarjana yang ketika ditanya setelah wisuda mau ngapain, mereka nggak bingung.", mereka semua terenyuh.
--

Banyak hal yang gue sampaikan saat itu, dengan keadaan kikuk karena masih ada rasa takut ketika dipandangi oleh dosen-dosen dengan tatapan sinis, jelas gue salah tempat membawa materi ini, tapi gue hanya mencoba jujur, bahwa memang akademik tidak selalu menjadi kunci keberhasilan di dunia pekerjaan. Maksud gue hanya ingin menyampaikan bahwa semua orang punya kesempatan sukses yang sama.

Tapi sering kali, institusi hanya mengikuti pola dan tradisi dari waktu ke waktu, yang secara implisit memberikan wawasan bahwa, raihlah IPK bagus, biar bisa kerja di perusahaan bagus. Selalu begitu, padahal nggak selalu benar, dan nggak semua lulusan selalu punya kemampuan dan potensi yang sama.
"Saya sebenernya nggak sepakat kalau misal mahasiswa berprestasi selalu identik dengan IPK tinggi. Ini deskriminasi."
Ruangan membisu, audience hening, ini adalah hal yang sensitif. Beberapa orang (terutama dosen) mengernyitkan mata mereka, beberapa wisudawan ada yang terlihat mengangguk sepakat. Gue pun melanjutkan,
"... lulusan terbaik yang identik dengan IPK itu nggak fair, seakan-akan IPK makin tinggi itu makin baik, kasian yang IPK-nya nggak tinggi, sedangkan mereka punya skill, potensi, passion yang berbeda-beda, bagi saya, predikatisasi ini semacam discouragement. Seharusnya biar fair, mahasiswa terbaik ada versi keduanya, yaitu dengan jumlah semester yang paling tinggi, itu baru antimainstream.", audience makin menggila. *) discouragement: semacam pematah semangat
"... terlepas terbaik atau tidak, kalian semua adalah lulusan terbaik kampus ini, berbanggalah.", semua wisudawan tersenyum.
"... berbanggalah hari ini, karena mungkin besok kalian akan galau berbulan-bulan.", mereka nggak jadi senyum. 
"Nah, bagi bapak-ibu orang tua, saya menyarankan, jangan terlalu sering nanya kapan kerja ya? Sakitnya tuh di sini... ", wisudawan tertawa lagi. 
"Berbahagialah dengan waktu kosong kalian nanti, karena banyak orang yang sudah bekerja merindukan waktu libur. Welcome to the jungle, have a dream, make it come true, and never give up. Oiya, silakan para wisudawan bisa berdiri sejenak...", mereka seperti termotivasi, dan kemudian berdiri.
"Sekarang kalian boleh tepuk tangan. Terima kasih standing applause-nya."
Gue pun mengacir ke bangku tamu, sambil ditimpukin snack tentunya. Tak disangka, gue melihat ke arah bangku dosen dan guru besar, mereka memberikan senyuman ke gue, entah karena melihat mahasiswanya yang begitu membanggakan, atau mungkin mereka mulai ada rasa.


Silakan temen-temen share artikel ini di twitter dengan mention @maulasam & @ositmen, juga tinggalin komentar di bawah ya, komentar terbaik bakal dapet 1 buat t-shirt dari Ositmen, free! (Cantumin email kamu di akhir komentar)Wajib juga follow instagramnya di instagram.com/ositmen. Info: 08567777039 (Whatsapp), 2B1B0B80 (PIN).

Quiz ditutup! Pemenang udah diumumkan di instagram.com/ositmen. Silakan berpartisipasi di kesempatan berikutnya ya.
Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved