New Post

Rss

26 Februari 2016
Kenapa Nilai A jadi Karyawan, tapi Nilai C jadi Boss

Kenapa Nilai A jadi Karyawan, tapi Nilai C jadi Boss


Tau nggak?
IPK > 3,5 biasanya jadi dosen atau saintis.
3,5 > IPK > 2,5 biasanya jadi pegawai.
IPK < 2,5 biasanya jadi CEO.
Oiya satu lagi, IPK = 2,75 biasanya jadi PNS, hehehe.

Jangan tersinggung, pada awalnya gue juga agak emosi ngebacanya. Apalagi dulu pas ke Gramed nemuin buku, "Why A Student Work for C Student, and B Student Work for Government"¹. Bukunya gue banting. *dikejar-kejar orang Gramed

Agak kesel dan keki sih, orang-orang pinter itu emang mudah tersinggung kalo bicara soal beginian, ehem.

Emm.. kayaknya hampir setiap mahasiswa di tingkat pertama emang pada masuk golongan A student deh, baru ketika menjelang tingkat 2 dan 3, seperti terseleksi alam, baru keliatan mana yang A beneran, sama yang A KW super. Gue juga termasuk golongan A student di tingkat-tingkat awal, pas tingkat kedua, ternyata gue masuk ke golongan KW 3.

Pas tingkat awal, gue nggak tertarik sama buku (yang dibahas) di atas, cuma pas menjelang tingkat akhir, karena kepalang depresi sama IPK, gue beli dah itu buku.

Setelah gue baca, isinya... W-O-W.

**

Buku yang tebelnya ngelebihin make up Sihrini itu, terdiri dari beberapa BAB yang ngebahas tentang 'kenapa' bisa mahasiswa A dipekerjakan sama mahasiswa C?

Ternyata setelah gue baca, semua itu lebih kepada kecenderungan cara berpikir dan bekerja. Nih, kira-kira begini perbedaannya;

Mahasiswa A cenderung;
Mengandalkan logika
Mengambil keputusan berdasarkan hasil yang pasti
Individual
In of the box, bekerja pada system
Bekerja berdasarkan keteraturan
Bekerja pada zona aman 
, sedangkan mahasiswa C cenderung;

Baca kelanjutannya di: http://maulasam.id/kenapa-nilai-a-jadi-karyawan-tapi-nilai-c-jadi-boss/
4 November 2015
Nilai Kuliah bukan Jaminan Masa Depan

Nilai Kuliah bukan Jaminan Masa Depan

Setelah wisuda langsung dapet kerja?
"Hidup nggak sebercanda itu.", kalo kata Mbah Tedjo.
Mungkin nyari kerja akan lebih sulit kalo kamu itu bukan anak pejabat perusahaan, nggak deket sama dosen, IPK nya nangkring, atau tampangnya ancur. Kayak gue.

Nggak muna, bagi gue yang nggak punya kelebihan seperti di atas, kehidupan pasca kampus terasa begitu pahit, seperti ngejilat congek sendiri (rasanya pahit loh).

IPK kecil membuat gue sulit bersaing dengan lulusan dengan IPK lebih besar. Orang tua gue juga bukan pejabat perusahaan, cuma seorang pedagang nasi rames di sebuah kantin. Deket sama dosen juga nggak, gue lebih deket sama mba-mba warteg karena selalu ngutang di akhir bulan. Soal tampang? Ah sudahlah.

Tapi dengan segala kekurangan itu, mungkin Tuhan punya tujuan lain bagi kaum-kaum seperti ini, yaitu agar banyak berdoa dan berusaha, kalo kata-kata itu dibuat meme, mungkin jadinya gini,
"Gue bukan anak orang kaya, makanya gue harus lebih berusaha."
Keren nggak?


30 September 2015
Mahasiswa jangan Muna

Mahasiswa jangan Muna

Jangan jadi mahasiswa yang kayak (maaf) anjing.

Anjing itu, mau maling yang lewat digonggongin, ustad yang lewat digonggongin, pastur yang lewat digonggongin, dosen lewat dia minta tanda tangan. "Pak? ACC dong Pak."

Kemaren lagi heboh wakil ketua DPR kita yang keliatan lagi ikutan tim kampanye Trump di USA, beserta para puluhan jajarannya yang juga keliatan lagi field-trip ke Amerika, entah lah itu pake duit sendiri apa pake duit rakyat, atau jangan-jangan pake duit SPP kuliah anak-nya.

Foto mereka menebarkan ekspresi bahagia, sedangkan rakyat mereka sendiri lagi sakit tenggorokan karena polusi udara di negeri sendiri. Bisa dibayangkan dosa mereka seperti apa ketika di neraka nanti, mungkin ketika mereka disiksa di neraka, rakyatnya ngeliatin mereka sambil minum capuccino cincau, "Panas coy di neraka? Sini gue kipasin. Bentar bentar, ngabisin ini dulu. Sruput."

Cuma kali ini gue nggak mau ngebahas itu karena udah banyak tulisan yang ngebahas betapa tega-nya mereka berbahagia di atas penderitaan rakyat sendiri. Tapi kali ini, gue mau bahas tentang masa lalu mereka yang juga pernah menjadi mahasiswa: yang pernah nyontek, yang pernah ditolak gebetan, yang pernah keluar WC gak bayar, juga yang telat lulus, dan lainnya.

DAN MEREKA JUGA NGEDEMO PEMERINTAHAN YANG DULU!

Gambar dari Republika.co.id

Ehm,
Emang nggak semua anggota dewan kita kayak begitu, tapi emang beneran munafik kalo ternyata mereka dulunya mahasiswa yang berdiri paling depan pengin memberantas pemerintahan yang bejat, eh ketika mereka berhasil duduk di bangku jabatan, mereka juga jadi kayak tai. Mau dibayangin gimana mereka nanti di neraka? Gak usah.

Makanya, jangan jadi mahasiswa yang gitu, yang kerjanya teriak teriak, tapi ketika dikasih makanan sama yang diteriakin, diem.

"Tapi anjing gue nggak gitu, Sam.", nah berarti masing mendingan anjing elu.

Maap, tulisan ini emang terbaca sangat sarkas, hehe. Oke, gue ngadem dulu.

-

Anyway, sekali lagi gue berpendapat bahwa gerakan mahasiswa yang melakukan aksi (turun ke jalan) itu banyak non-sense-nya kalo dilihat dari sudut pandang objektif, sorry no offence.

Pastinya temen-temen yang suka aksi akan kecewa membaca ini, tapi percayalah, gue dulu juga mahasiswa yang suka aksi turun ke jalan, orasi? Bukan, tapi jualan cimol.

Ketika mahasiswa, gue juga berpendapat bahwa turun ke jalan itu penting, titik. Penting karena aksi -bagi mahasiswa pergerakan- dianggap sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dan sebagai kontrol kebijakan pemerintah. Coba aja tanya ke mahasiswa sekarang, pasti jawabannya masih begitu.

Statement kayak gitu masih berlaku kalo kamu hidup di angkatan 98. Demo atau aksi ketika di masa itu, bisa dikatakan gerakan yang ngefek pada masanya, tapi kalo jaman sekarang masih juga pake metode kayak gitu, itu ibarat kamu hidup di jaman orang udah make iOs 9 atau Andoid Marsmellow, tapi kamu masih pake hape Java.

Masih banyak juga sih orang yang make hape Java, but come on, katanya mahasiswa itu kaum intelek. Seharusnya wawasan aksinya selain harus kritis, juga harus kreatif, fun, update, inovatif, dan konkret. Mau contoh? Bikin komik, bikin aset digital, atau masih buanyak lagi, kan sekarang jamannya melek teknologi.

Ironi

Gue punya temen yang dulu selalu rajin orasi dalam menentang kebijakan pemerintah, udah gitu bawa-bawa anti-Amerika lagi. Tapi setelah lulus, dia kerja jadi agen MLM produk pelangsing badan Amerika. WTF?!

Temen gue juga banyak yang jadi PNS dan bahkan masih menunggu test CPNS setiap tahun, padahal dulu mereka sangat menentang pemerintah. Itu kan sama aja kayak elu marah-marahin orang tua, tapi pengin dapet duit jajan.

Belum lagi mahasiswa yang dulu nasionalis, pas lulus malah kerja di perusahaan asing.

Mahasiswa dalam menghadapi dunia sebenernya, memang harus membenahi niat dan tekad, karena idealisme ketika dihadapi dengan dunia yang real nggak jarang akan bertolak belakang. Sarjana-sarjana yang dulu sangat idealis pengin membuat negeri ini lebih baik, semangat itu akan ditantang dengan tuntutan psikologis dan kebutuhan ekonomi ketika lulus nanti.

Makanya, bagi temen-temen yang sekarang sangat panas pengin aksi dan menentang pemerintah, coba berpikir panjang, apakah nanti ketika lulus dan berkiprah di dunia kerja, masih tetap bisa idealis? Atau aksi-nya saat ini cuma ikut-ikutan aja dan cuma pengin aktualisasi diri?

Kalo memang begitu, ya masih mending mahasiswa yang kerjaannya kuliah-pulang-repeat, seenggaknya mereka nggak muna. Ada juga yang beranggapan akan lebih baik jika kita mau 'menentang' pemerintah dengan membuat karya dan prestasi. Itu baik juga, tapi dari semuanya masih ada satu hal yang lebih penting, yaitu..

kemantapan mental, kenapa? Karena banyak mahasiswa kita yang pintar, sayangnya kurang peduli dan lemah motivasi, contohnya? Mahasiswa yang kuliah dan lulus di luar negeri tapi nggak mau pulang, alasannya karena pemerintah nggak mendukung. Pemerintah lagi, pemerintah lagi, hehe. Lebih parah lagi mahasiswa yang nggak punya prestasi dan ikut-ikutan biar dikira peduli, contohnya, mahasiswa yang aksi, tapi setelah lulus jadi agen MLM, pft.

Maaf banget kalo gue disangka sotoy atau omdo, tapi izinkan gue berpendapat, kalo temen-temen mau berkontribusi, sebaiknya tanpa harus mengharapkan orang lain, jalan aja dulu, konkret aja dulu, apresiasi nanti juga akan dateng sendiri, mau contoh? Contohlah eyang Habibie, kita tau beliau yang nggak didukung pemerintah jaman dulu, tapi tetap nasionalis dan idealis yang berujung pada kontibusi nyata :)

Kalo kamu merasa belum bisa berkontribusi nyata, kontribusi nggak harus turun ke jalan, ngeluarin donasi, membuat karya atau bikin segudang prestasi, seenggaknya menjadi orang baik yang peduli untuk sekeliling kita dan nggak merusak suasana, itu udah lebih baik daripada menjadi orang-orang muna :)
31 Juli 2015
Catatan Akhir Kuliah The Movie

Catatan Akhir Kuliah The Movie


Wah baru update artikel lagi neh,

Berhubung Catatan Akhir Kuliah The Movie #CAKthemovie sedang tayang di bioskop sejak 30 Juli kemarin, izinkan gue dalam postingan kali ini memberikan beberapa nasihat untuk kalian agar segera menonton film ini, supaya kalian tersesat ke jalan yang benar.

Hehe,

Bukan maksud gimana-gimana sih, mungkin artikel ini terkesan subjektif, berhubung movie ini diangkat dari kisah pribadi gue ketika kuliah dulu, tapi setelah ngelihat animo LUAR BIASA penonton yang udah nonton dan ngeshare pengalaman mereka di sosmed (twitter, facebook, tumblr, path, dll), gue jadi makin PEDE untuk mengimbau, kalo film ini nggak kamu tonton sekarang, kamu akan ketinggalan euforia-nya,



Kira-kira begitu komentar dari salah satu penonton, yaitu Mas Pandji Pragiwaksono, jeng-jeng. "Emang dia siapa, Sam?"

Coba deh liat testimonialnya, sampe-sampe gue dibilang 'baper' sama Mas Pandji, kampret juga orang ini, "Makasih banyak loh, Mas. Mas suka martabak manis, nggak Mas?", makasih banyak juga untuk penonton lain yang sudah memberikan review-nya, semoga review itu tulus darihati, sama kayak nama PH-nya.

-

Gue lanjutin,
Pada awalnya, jujur aja gue nggak ekspek banyak terhadap komentar yang akan muncul setelah menonton film ini, gue cenderung bersedih hati kalo misal banyak yang nonton, serius. Karena semua aib gue akan mendunia, imej gue bakal ancur, dan gue makin jomblo. Asem. Tapi... ketika gue ngecheck dan ngelihat betapa antusiasnya penonton terhadap movie ini, gue pun bisa berkomentar,
"Aku rela dengan nasib seperti ini, ya Tuhan."
"Sabar ya, Sam.", gue dipuk-puk sama Bang Acho (pemeran gue dalam movie ini).
Entah kenapa, gue malah jadi seneng kalo ada yang nge-bully gue di twitter. Gpp deh, yang penting kalian nonton, gue udah seneng banget. *happy *happy

Anyway, gue berusaha nggak ngasih spoilers, tapi rata-rata orang akan berkomentar seperti ini setelah menonton,
Siswa SMA: "Duh jadi pengin cepet-cepet kuliah."
Mahasiswa: "Duh jadi semangat ngerjain skripsi."
Anak IPB: "Duh jadi kangen IPB"
Anak non-IPB: "Duh jadi kangen kampus."
Friendzoned: BANGSAT!!!" (tweet dari @muhadkly)
Ketika Mas Joe (script writter) dan Mas Jay (sutradara) bilang di media,
"Film ini cocok ditonton semua kalangan. Untuk siswa SMA biar mereka tau kehidupan kuliah. Untuk mahasiswa biar mereka cepet lulus, dan untuk yang udah lulus kuliah bakal jadi masa-masa ngangenin ketika dulu ngekost, kuliah, wisuda, dan lain-lain.", kata-kata mereka nggak salah.
Gue sebagai penulis novelnya (yang kebanyakan para penulis suka kecewa dengan hasil adaptasi film dari buku mereka) mau berkomentar:

Mulai dari plot cerita, aktor dan aktris, soundtrack dan scoring (oleh Budhi Doremi), semuanya ngena banget! Walau gue akui, bobot film ini sangat ringan. Menurut gue itu positif, karena tujuan awal film ini agar mudah dicerna oleh penonton biar diare.

Alhamdulillah, mungkin ini berkat koordinasi yang kooperatif antara beberapa pihak, gue bahkan tanpa diminta, selalu berusaha standby mengikuti proses shoting movie ini, biar dapet makan gratis gitu.

Kita butuh support.

Secara pribadi, gue berterima kasih sama PH Darihati Films atas terlaksananya kerja sama ini, mereka orang-orang yang baik, dan mereka membuat karya ini bukan sekedar untuk kepentingan bisnis, mereka juga bilang dengan rendah hati bahwa Catatan Akhir Kuliah The Movie ini mereka kerjakan atas dasar motivasi ingin berkarya. Gue pikir itu retorika, tapi selama bekerja sama, gue melihat dan merasakan kegigihan, determinasi, dan perjuangan mereka. Gue jadi makin tau,
"Ini lah orang-orang yang ingin berkarya, yang nggak mau ngasal, yang terus mau evaluasi, mereka emang pekerja seni sejati. Sudah selayaknya, mereka mendapat support yang tulus dari publik, yaitu dengan menonton karya mereka di bioskop.", backsound: *YUUUU RAISE ME UPPPPP!!!
Jujur, kemarin malem dan beberapa hari sebelumnya gue selalu ikut meeting dengan mereka (lagi-lagi biar dikasih makan gratis), dan mereka terlihat deg-degan dengan jumlah penonton yang Senin nanti (3 Agustus) akan direview, kalau hasilnya tidak memenuhi target, layar Catatan Akhir Kuliah The Movie akan ditutup.
"Duh Sam. Gue deg-degan banget nih sama jumlah penonton.", kata Mas Joe.
"Sabar ya Mas? Minum white coffe dulu biar gak deg-degan.", gue disiram.
Duh, sayang banget kan? :((
Kenapa sangat disayangkan? Karena movie yang pure mengambil tema sangat mahasiswa, baru kali ini muncul lagi bukan?

Gue turut prihatin dengan kekhawatiran mereka, mungkin kalo gue menggalang koin untuk #saveCAKthemovie, koinnya bakal banyak kekumpul, lumayan buat bayar SPP, apasih.

Nah kira-kira begitu preview testimonials dan curhatan-nya, gue akan sangat berterima kasih jika teman-teman mau mengajak semua teman, kolega, dosen killer, dosen yang nggak killer, dosen pembimbing, gebetan, mantan gebetan, mantan pacar, mantan yang udah merit, keluarga, keluarga mantan, dan semuanya untuk nonton movie ini.

Insya Allah, kamu nggak akan nyesel, mungkin yang nyesel adalah cewek-cewek yang dulu menolak gue. Lah curcol?

Catatan Akhir Kuliah mulai di bioskop tanggal 30 Juli 2015, di jaringan Cinema 21, Cinema XXI, Blitz Megaplex, dst.

Share foto ticket beserta review kamu dengan mention kami di twitter @maulasam, @cakthemovie, @muhadkly, @ajundangerous, @natashachairani, @anjanidinavdw, @nikenayu, dan twitter cast and crew Catatan Akhir Kuliah. Kalo mau bikin review di blog pribadi juga boleh banget! Itu artinya, kamu peduli sama kami. :))

-









Karena banyak banget testimonialsnya, lebih lengkap temen-temen bisa nge-check favorite twitter di twitter.com/maulasam/favorites. Ada juga review dari Riza Pahlevi http://www.rizapahlevi.com/2015/07/review-film-catatan-akhir-kuliah-2015.html, dan D. Brahmantyo http://dbrahmantyo.tumblr.com/post/125473907778/semalam-nonton-catatan-akhir-kuliah-yang-ternyata, dan review lainnya (bisa ditemukan di Google dengan keywords: Catatan Akhir Kuliah). Atau ngecheck hashtag #cakthemovie, #cakthemovie30juli, #catatanakhirkuliah, di twitter.

Terima kasih semuanya. Yuk ramaikan bioskop, dan dukung kami :))

#savecakthemovie
10 Juli 2015
no image

Sikapi Hidup dengan Sederhana

Cuma mau curhat, 

Dulu sering banget ngeliat timeline sosmed isinya status temen yg ngepost wisuda, sering banget. Biasanya posting pertama wisudanya, banyak yg ngelike dan comment. Eh makin sering aja dia ngeposting euforia-nya. Sampe beberapa posting terakhir, yg ngelike dan comment jadi sedikit banget. Pada akhirnya, nggak lagi ngeposting apa-apa di sosmed-nya, sama-sama jenuh.

Setelah wisuda, lagi-lagi suka sering ngeliat temen ngeposting aktifitas pertama mereka ketika dapet kerja. Berseragam kantor, traveling, jalan-jalan ke luar negeri, dst. Euforia di timeline sosmed-nya kurang lebih sama kayak di atas, sampe nggak ada kabarnya lagi.

Ada juga temen yg ngeposting moment pernikahan mereka, pada awalnya semua ikut seneng karena mereka bahagia. Tapi temen-temennya mungkin jadi jenuh, kalo gue pribadi jadi ngerasa, "apaan sih?" karena dia terus-terusan upload moment mesranya ke publik. Sampe akhirnya, berakhir seperti kasus di atas.

--

Mungkin status ini lebih tepat ke status curhat. Tapi juga pengin sama-sama berbagi rasa kalo hidup ini nggak selalu berjalan bahagia, untuk itu, di setiap fase hidup kayaknya nggak usah lebay menyikapinya. Tetep sederhana dan apa adanya,

Toleransi. Kalo wisuda, ya biasa aja, mungkin banyak juga temen yg udah berusaha lebih baik, tapi kurang beruntung.

Kalo dah dapet kerja, yaudah biasa aja. Karena mungkin masih banyak temen yg udah bekerja dengan pekerjaan yg lebih baik, tapi tetep low profile karena sadar banyak yg belum sibuk dengan pekerjaannya.

Dan kalo udah nikah, yaudah biasa aja. Cukup orang tau kalau kalian udah bersama. Karena mungkin masih banyak yg masih sendiri, tapi dia terus berdoa yg terbaik, atau mungkin kamu menikahi orang yg dia cintai, tapi berusaha bahagia untuk kamu. Ini nggak mudah (lah jadi curhat).

Intinya, apapun yang terjadi, baik atau buruk dalam hidup, sikapi dengan sederhana dan yang paling penting ... berusaha menjaga perasaan yang lain.
26 Mei 2015
Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Kabar gembira. Kata Menristek, skripsi nantinya bukan menjadi syarat wajib lulus jadi sarjana. Ke depan wacananya, untuk jadi sarjana, mahasiswa nggak harus bikin skripsi, tapi dikasih pilihan lain seperti bunuh diri atau lompat dari gedung rektorat. Maksudnya milih antara skripsi, laporan penelitian, atau pengabdian masyarakat.

Denger-denger alasan kenapa skripsi nggak diwajibin nantinya karena banyak oknum jual beli skripsi, jadi skripsi yang kalian liat setiap hari di perpus, bisa jadi bukan bikinan mahasiswa, tapi bikinan dukun.

Selain itu, mungkin ada evaluasi kalo bikin skripsi itu yang tujuan awalnya untuk menambah wawasan ilmiah, nggak terlalu ngefek sebagai solusi secara langsung atas masalah yang ada di masyarakat. Bahkan mungkin semakin memicu pemasanan global, secara makin banyak skripsi, makin banyak pohon tereksploitasi. BAKAR!

Bagi gue pribadi -yang udah lulus, skripsi itu nggak ada efek nyata dan langsung untuk kita setelah lulus kuliah, kecuali bagi mereka yang pengin kuliah lagi di bidang yang sama atau bekerja di bidang yang sama -jadi dosen atau praktisi. Dan sangat tidak ngefek bagi mereka yang kemudian kerja di bank, atau jadi agen asuransi.

Kalo nggak percaya, coba tanya kakak kelas kamu yang udah lulus dan bekerja, apa ketika mereka interviu kerja ditanyakan skripsinya apa? Jawabannya pasti nggak, karena gue juga yakin, pewawancaranya pasti nggak mau ngungkit-ngungkit dirinya sendiri pas dulu ngerjain skripsi. HINA!

Skripsi bagi institusi tentunya bermanfaat selain untuk ngisi pajangan di rak-rak buku, juga untuk menambah kekhasanahan dunia ilmiah. Tapi dari sisi mahasiswa, skripsi itu lebih banyak sia-sianya gue rasa, dan kayaknya yang membaca ini 90% setuju, bagi yang nggak setuju, coba cek diri kamu sendiri, jangan-jangan kamu zombie.

Walaupun memang, secara bawah sadar bagi orang yang membuat skripsi, mereka akan lebih pintar berpikir analitik. Seenggaknya salah satu sisi positifnya itu, yang lainnya salah semua.

Balik lagi soal wacana oleh Menristek, ada yang sepakat, ada juga yang nggak sepakat ketika skripsi bakal nggak diwajibin bagi yang mau jadi sarjana. Kalo mahasiswa pada sepakat, itu udah lumrah. Cuma gue rada curiga sama mahasiswa atau orang yang nggak sepakat dengan usulan skripsi yang bakal diganti ini. Mungkin kalo skripsi udah nggak diwajibin, mereka bakal kehilangan bisnis perdukunan skripsi-nya.

Tapi gue nggak mau suudzon, siapa tau mereka emang pengin mempertahankan sistem skripsi sebagai syarat lulus, karena orang yang nggak bisa bikin skripsi, nggak bisa dibilang 'gentle', katanya. Bener memang, pressure makes you stronger.

---

Gimana donk solusi terbaiknya?

Kebayang kalo gue jadi rektor, gue akan lebih santai meluluskan mahasiswa-mahasiswanya, "Kalo lulus ya lulus aja, kenapa harus gue yang repot?!", kemudian lompat dari rektorat.

Seandainya kejadian mahasiswa yang mau lulus dikasih pilihan skripsi, penelitian, atau pengabdian masyarakat; gue rasa jatohnya akan jadi sama aja, yaitu mahasiswa yang lulusnya karena terpaksa.

Selama selalu ada patokan untuk lulus, akan ada aja cara mahasiswa untuk ngakalin jalan pintasnya, mahasiswa kan jenius. Dan ada alasan kenapa mahasiswa bisa berperilaku seperti ini, yaitu karena desakan.

Logikanya, mahasiswa kuliah sendiri, biaya sendiri, ngurus lulus sendiri, setelah lulus nyari kerja sendiri. Apa nggak gila?! Belum lagi ketika mereka harus dihadapi dengan kenyataan hidup: 12 tahun sekolah, 4 tahun kuliah, kemudian kerja seumur hidup.

Nah, harus ada solusi win-win antara mahasiswa dengan kampus sebagai pintu terakhir untuk bisa berkarier dalam hidup, salah satunya adalah mahasiswa dikasih kebebasan untuk milih jalan kelulusannya sendiri: sesuai dengan minatnya apa, passionnya apa, dan potensinya apa.

Instagram: @maulasam

Karena nggak semua mahasiswa seneng penelitian atau pengabdian, ada aja mahasiswa yang suka bisnis, arahin lah mahasiswa itu untuk bikin bisnis plan dengan modal kecil. Ada juga mahasiswa yang suka jurnalis, bisa diarahin ke dunia jurnalistik. Ada juga mahasiswa yang seneng main game, bikinin mereka kompetisi game: yang menang lulus - yang kalah ngulang. Ini baru kompetisi sehat!

Hmm, jadi kepikiran. Kenapa dulu sekolah siswa-siswi masuknya bareng dan lulusnya bareng, sedangkan kuliah mahasiswa masuknya bareng tapi lulusnya sendiri-sendiri? Ini kan hal simple tapi ajaib. Satu alasannya, karena guru sekolah itu lebih perhatian sama murid-muridnya, lah kalo kuliah, jangankan perhatian, dosen yang inget nama mahasiswanya aja udah terancam punah.

Jangankan wacana skripsi yang dijadi pilihan, sebenernya -imho, sistem yang dipake saat ini pun masih bisa efektif, asalkan peran dosen sebagai 'pengganti orang tua di kampus' bisa dimaksimalin. Dimana mereka mampu memprioritaskan mahasiswa bimbingannya di atas semua kesibukan dan project-project mereka: mahasiswanya dibimbing dengan sabar dan asik, ramah dan baik, untung-untung SPP mahasiswanya dibayarin, dibayarin juga uang bulanannya, atau dijodohin sama anaknya yang cakep.

Gue rasa, apapun syarat kelulusan seorang sarjana, seandainya dosen bisa lebih perhatian, semuanya akan baik-baik aja. Ya gak?

Itu pendapat gue, gimana pendapat kamu? Tulis di komen ya, untung-untung kamu bisa kasih opini sendiri di blog kamu, kemudian share link-nya ke gue dan @bentangpustaka di twitter, selain opini kamu dibaca ribuan orang, kamu juga berkesempatan menangin hadiah dari Bentang lewat Kompetisi Bercerita. Yuk ikutan, posternya bisa dicek di bawah.


22 Mei 2015
Dilema Aksi Mahasiswa

Dilema Aksi Mahasiswa

Temen-temen udah ikutan Kompetisi Bercerita dari Bentang? Kalo kalian punya opini atau cerita tentang dunia kuliah dan kerja, boleh tuh diikutsertakan di Kompetisi Bercerita, liat posternya ya,


---

Oke, lanjut ke tulisan kali ini, gue mau beropini tentang aksi mahasiswa yang kemarin ramai diperbincangkan.

Langung aja ya. Gue, yang dulu juga aktifis kampus, punya pendapat bahwa aksi mahasiswa itu lebih banyak absurdnya daripada konkretnya, mengatasnamakan suara rakyat, alih-alih cuma sekedar enggak enak sama temen organisasi, nggak sedikit yang bikin macet sana-sini, penginnya mencuri hati rakyat, tapi malah melukai hatinya -lah kok melow.

Beberapa mahasiswa juga nggak ngerti apa yang mereka aksi-in. Beberapa yang lain udah mantep motivasi ikut aksi, berteriak mengkritisasi kebijakan pemerintah, tapi minim gagasan solusi yang progesif. Nggak ngerti kan? Sama, gue juga.
"Sam, ikut Aksi yuk, massa-nya kurang nih. Wah gak sohib lo!?"
"Duh, gimana ya. Gue ada kelas nih, gue juga gak ngerti aksi."
"Jadi elu lebih milih kuliah daripada nasib bangsa ini?! Udah ikut aja!"
Kemudian gue make almamater dan ngasah bambu runcing.
Gue juga yakin, salah satu motivasi mahasiswa yang menggerakkan aksi itu juga karena pengaruh tradisi, "Masa', tahun-tahun lalu ngadain aksi besar-besaran, di angkatan gue nggak ada aksi?", makanya ketika mereka 'disenggol' tentang aksi mereka, mereka selalu ngungkit-ngungkit yang lalu-lalu (move on donk), berambisi banget biar bisa dikenang kayak mahasiswa angkatan 98 yang menurunkan presidennya, alih-alih gagal, yang turun malah IPK-nya.

Nah biar fair, gue juga nggak sependapat dengan beberapa kebijakan pemerintah, well, sering kali gue juga menjadi pihak yang dirugikan, seperti BBM naik, harga pangan naik, harga ongkos angkutan naik, harga pomade naik, sedangkan IPK nggak naik-naik. Iya gue curhat.

Tapi, apakah respond kita sebagai kaum intelek harus selalu dengan cara berteriak di jalan tanpa aksi nyata? Seakan-akan aksi itu menjadi cara paling mudah untuk mengatasi masalah bangsa. Ehem.

Anyway, gue nggak mau membahas pro kontra aksi/gerakan mahasiswa saat ini, udah banyak yang ngebahas, karena gue juga sepakat bahwa mahasiswa itu bertugas sebagai kontrol pemerintah.

Tapi jaman sekarang, aksi mahasiswa itu udah kayak MLM, gue yakin keduanya punya niat baik, tapi stereotip di masyarakat, keduanya udah punya makna yang kurang positif, mahasiswa harus cari cara kreatif lain untuk menyuarakan suara rakyatnya, dan tentunya didampingin dengan aksi nyata yang berkelanjutan.

After effect.

Di sini inti tulisan gue, yaitu bagaimana kehidupan mahasiswa yang suka aksi setelah menghadapi kehidupan pasca kuliah? Jeng-jeng. Serius ini seru, dan gue harus buka-bukaan soal ini. *buka baju

Gue masih tergabung dalam komunitas sesama teman organisasi, kita sering chit-chat banyak hal di grup WhatsApp, ngebahas ini dan itu. Dan kemaren saat aksi mahasiswa marak di media, terjadi percakapan kayak gini,
"Liat deh mahasiswa sekarang, masa aksinya kayak gitu."
"Hello guys!? Dulu kita juga kayak gitu keles."
"Hah? Iya ya? Hahaha.", kita semua ketawa dan ngebanting hape masing-masing.
Bagi temen-temen mahasiswa, seriusan, mungkin ini sebab kenapa sedikit rakyat yang bersimpati dengan gerakan mahasiswa, padahal simpati itu penting untuk meraup masa rootgrass agar sebuah gerakan makin berpengaruh. Semakin berpengaruh, semakin besar efeknya.

Dilema.

Beberapa temen mahasiswa gue yang dulu nggak pernah absen ketika aksi, dulu sangat anti dengan Amerika, setelah lulus dan berhadapan dengan kejamnya dunia, sekarang dia ngejualin produk MLM dari Amerika, niat banget lagi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan kebijakan pemerintah tentang eksploitasi sumber daya alam, sekarang kerja di perusahaan eksploitasi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan pemerintah, sekarang nggak pernah ketinggalan ikutan CPNS. Belum lagi yang kerja di bank, lebih lebih lagi. Malah mereka nawarin gue pinjaman nasabah.

Ini gimana?! Posisi gue saat ini ada di antara pengin nangis dan ketawa. Ketika gue bertanya ke mereka, mereka menjawab, "Ini rejeki dari Tuhan.", segampang itu kah bawa-bawa nama Tuhan.

Ini memberikan citra general bagi diri gue sendiri kepada mahasiswa saat ini, bahwa apa yang mahasiswa lakukan sekarang, yang begitu idealis, begitu keras, begitu panas, hanya sekedar membawa paradigma yang sporadis dan pragmatis. Sedangkan konsistensi dan komitmen masih dipertanyakan.

Intinya, apakah idealisme mahasiswa akan terus dibawa setelah lulus nanti? Bicara soal idealisme, jangan menjadi orang yang naif. Toh sangat mungkin sekali, petinggi-petinggi negara ini yang mahasiswa kritisasi, dulunya juga mahasiswa yang ikut beraksi. Bagi gue, aksi itu bukan hanya berdemo di jalanan, aksi itu lebih kepada kemantapan pola pikir yang konsisten dengan diiringi aksi nyata positif yang walaupun sedikit, tapi berkelanjutan. Gue juga nggak ngerti lagi ngomong apa.

---
Tulisan ini untuk memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Semoga kita menjadi pribadi yang konsisten antara mulut dan aksi nyatanya. Sorry for this late post.
Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved