New Post

Rss

25 Oktober 2014
Pendidikan & Dunia Kerja

Pendidikan & Dunia Kerja

Yea, update blog lagi.

Sekarang lagi minggu-minggunya UTS ya? Ye-elah, ngapain ikutan UTS? UTS kan bikin stres, mending main PS. Problem?

Gue mau terang-terangan berbagi wawasan tentang sesuatu yang nggak lazim. Tulisan ini gue buat didukung dengan data, sehingga kita bisa meninjau ulang jawaban dari pertanyaan berikut: sebenernya UTS/UAS itu penting nggak sih? Atau bahkan, sebenernya kuliah itu penting nggak sih?

Sebagian besar orang akan mengatakan itu penting, tapi setelah baca tulisan ini, apakah kamu akan berubah pikiran?

Tulisan kali ini bakal menuai kontradiktif, tapi perlu gue sampaikan di awal, gue nggak bermaksud memprovokasi sebuah perdebatan. Ini murni sudut pandang gue dan sangat mungkin temen-temen punya pendapat lain. Bagi kamu yang nggak kuat, silakan minum iRex.

---

'Education these days'

, gue searching kata kunci ini di Google, dan dapet gambar kayak gini, not disappointed.


Agree with that? Kalo aku sih yes, nggak tau kalau Anang. *anang mana anang

Kalo gue bilang bahwa kuliah itu seperti mesin fotocopy yang mencetak lulusan dengan keahlian dan kemampuan yang sama, apakah temen-temen sepakat atau ngerasa?

Itu adalah pendapat Robert Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, dan gue sepakat, kuliah emang begitu. Dan mungkin ini adalah salah satu sebab kenapa event-event Job Fair selalu membludak dengan pengangguran-pengangguran yang nyari kerja, karena ribuan orang yang punya kemampuan sama tadi, saling bersaing mengisi satu posisi pekerjaan yang sama. Analoginya kayak gini, dalam satu kampus, ada 1000 cowok culun yang suka sama 1 cewek cakep, kemudian mereka semua saling bacok dan saling bunuh buat ngedapetin 1 cewek yang belum tentu cocok sama mereka. Cukup menyakitkan bukan?

Back to the pic,
Kalo ngeliat gambar di atas, kuliah jaman sekarang digambarkan persis kayak gitu, di mana setiap orang pada awalnya punya kreatifitasnya masing-masing, tapi ketika masuk ke sistem yang disebut universitas, kreatifitas mereka di-setting dan 'dibentuk' dengan shape yang sama untuk setiap orang. Gue jenius ya?

Dan entah kenapa, ketika kreatifitas mahasiswa tanpa sadar sudah dikotak-kotak-kan oleh mereka, dosen-dosen meminta kita untuk berpikir out of the box. Jebakan betmen banget nggak sih?

---
"Sam, besok UTS, ke perpustakaan yuk?"
"Ngapain? Belajar? Gue belajar di kosan aja deh."
"..."
"Sam, main futsal yuk?!"
"HAYUK!!"
*gue disepak
Gue adalah tipe mahasiswa yang ketika besok ada UTS, di saat bersamaan ada ajakan futsal, kemudian temen ngajakin main FIFA, dan gebetan ngajak belajar bareng, maka hal yang gue lakukan adalah: nyari gebetan baru, ngajak temen yang ngajakin main FIFA untuk main futsal, dan bersikap seolah-olah besok nggak ada ujian. Okesip.

Sorry to say, gue nggak pernah memprioritaskan UTS sebagai pilihan pertama ketika dihadapi pilihan sulit. Bahkan ketika besok gue harus sidang skripsi, malemnya gue main futsal. Gue seriusan. Gue serius udah sidang.

Futsal atau FIFA itu mengajarkan team work dan berpikir strategis, sedangkan ujian/skripsi mengajarkan kerja individu yang bikin stress, padahal untuk mencapai kesuksesan di masa depan, team work dan berpikir strategis itu jauh lebih dibutuhkan. Dan orang pintar, tau kesimpulannya apa.

Bagi yang belum percaya karena belum ngalamin, percayalah, nilai di atas kertas nggak jauh lebih penting daripada persahabatan.

Banyak yang bilang, networking itu lebih penting daripada nilai atau IPK, kurang lebihnya -itu betul, dan dengan begitu, sebaik-baiknya networking adalah persahabatan. Kenapa bisa begitu? Karena besar kemungkinan, satu atau dua dari banyak temen kita, di kemudian hari akan berhasil, dan jika kita bisa menjalin persahabatan yang baik dengan mereka, tentunya kita juga kecipratan kesuksesannya, entah itu rekomendasi kerja, atau sekedar ngutang duit, okesip. Dan selalu ingat, sahabat yang baik nggak pernah menjerumuskan satu dengan yang lainnya, tapi sepakat untuk menjerumuskan teman yang lain sama-sama. Iya, emang nggak nyambung.

Oke, lupakan sejenak bahasan gue di atas, balik lagi ke perihal UTS,

Entah siapa pertama kali yang nemuin metode UTS/UAS ini. Seandainya saat ini mesin waktu berhasil ditemukan, pasti gue akan pake mesin waktu itu untuk pergi ke masa lalu nyari penemu UTS/UAS, kemudian setelah ketemu, gue bakal ngajakin dia main FIFA, pasti dunia saat ini akan jauh lebih baik.

Kuliah itu seperti memperjuangkan cinta yang belum tentu terbalas, kalaupun berhasil, kemungkinannya kecil. Mmm, maksudnya begini,

Ada sebuah penelitian di Harvard, yang meneliti secara kualitatif tentang presentasi materi kuliah yang berhasil dipahami oleh mahasiswa, angka rata-ratanya adalah hanya 15%. Jadi, ketika kita belajar selama 4 tahun standar kuliah, dalam waktu selama itu, dari semua diktat kuliah yang kita pelajarin, dari semua bahan kuliah yang kita fotocopy, dari semua uang SPP yang kita bayarkan, ternyata cuma berefek 15% meningkatkan pemahaman kita terhadap ilmu pengetahuan. Sisa 85%-nya kemana? Ngebul bersama stres yang kita alami. (Data ini gue peroleh dari membaca buku di sebuah toko buku, yang sayang sekali nggak gue inget judul bukunya apa dan pengarangnya siapa. Bagi pembaca yang menemukan data ini dengan sumber yang lebih akurat, silakan sampaikan ke gue.)

Risetnya masih berlanjut, di dunia pasca kuliah, dari angka 15% materi yang kita pahami di atas, ternyata cuma 20% yang kepake saat kerja atau usaha.

Sekarang silakan ambil kalkulator, kemudian timpuk dosen pembimbing, eh maksudnya itung, dan kamu akan mendapatkan sebuah angka yang menunjukkan bahwa materi kuliah yang bakal bener-bener kepake di dunia kerja, ternyata cuma 3%. Wew, by all this time, we screwed up, right?

Mungkin alasan Bill Gates dan Mark Zuckenberg memilih DO dari Harvard, karena nggak sengaja membaca riset di atas di perpustakaan kampus mereka sendiri.
"Anjrit, jadi selama ini gue dikibulin?", kata Mark ngomong sendiri di perpus.
"Elo baca buku apaan, Mark?", tanya temennya.
"Oh kagak. Hehehe."
Mark kemudian meminjam buku riset itu, dia bawa pulang, kemudian dia bakar biar nggak ada orang yang tau, besoknya dia DO, dan jadi orang kaya. Beberapa tahun kemudian, ternyata buku tersebut nggak semua bagian hangus terbakar, tapi menyisakan beberapa lembar berisi riset seperti yang dibahas di awal.
"Oh, DAMN!", Mark menggerutu. TAMAT.
Sumpah! Cerita di atas kalo dibuat film, bakal box office abis. Semoga CAK The Movie juga box office, hehe.

Nah, kita udah tau ada data begituan, orang-orang sukses juga banyak yang bilang, dan kecenderungan orang dengan IPK tertentu, juga banyak membuktikan kalo:
1) Sarjana ber-IPK > 3,5 biasanya jadi dosen atau saintis.
2) Sarjana ber-IPK 2,8-3,5 biasanya jadi pegawai, dan
3) Sarjana ber-IPK < 2,8 biasanya jadi CEO. 
Itu adalah data subjektif, tapi coba kamu amati sekeliling kamu, temen-temen kamu, saudara-saudara kamu, tokoh-tokoh inspiratif kamu, dan lain-lain. Kebanyakan kayak gitu nggak? Kalo gue, iya.

Melihat kenyataan itu, gue masih ngerasa nggak habis pikir, tetep aja masih banyak mahasiswa yang menganggap IPK itu di atas segalanya, dan masih banyak yang menganggap mengejar nilai bagus pas ujian itu lebih baik daripada mengejar passion-nya. Dan jika kamu adalah orang seperti ini, atau kamu bertemu dengan temen yang seperti ini, bisa dipastikan kamu/mereka adalah mahasiswa yang kurang gaul, dan kurang wawasan.

Itulah kenapa gue mengibaratin kuliah seperti memperjuangkan cinta yang belum tentu terbalas. Maksudnya, daripada memperjuangkan sesuatu hal yang kamu nggak senang dengan itu, mending memperjuangkan sesuatu yang kamu senang dan kamu bahagia untuk itu. Ngerti nggak? Gue juga nggak.

---

Setelah lulus kuliah, kita akan diperlihatkan dengan berbagai kenyataan-kenyataan pahit. Mata kita akan benar-benar terbuka bahwa, apa-apa yang dulu kita perjuangkan, ternyata nggak penting.

Temen gue yang dulu lulus dengan nilai tinggi, setelah lulus pendapatannya masih lebih tinggi temen gue yang nilainya jongkok. Pesan moral: IPK nggak usah gede-gede, kalo penghasilannya kecil kan nyesek. 

Jaman sekarang juga masih banyak orang yang mendewakan gelar, kuliah macem-macem buat manjangin nama, tapi pas di dunia kerja, dia digaji sama besar kayak orang yang punya satu gelar. Kesian dia. Seandainya Mak Erot masih hidup, mungkin dia nggak perlu manjangin nama dengan segitunya. Kesian.

Gue nggak pernah bilang bahwa IPK itu nggak penting, IPK itu penting untuk mendaftar beasiswa atau melamar pekerjaan, karena IPK itu syarat yang susah ditoleransi. Tapi ketika kita nggak bisa mencapai IPK yang kita harapkan, nggak perlu membuang waktu atau uang untuk memperjuangkan, karena kalo kita berpikir bahwa IPK itu segalanya, itu termasuk syirik kecil, men-Tuhan-kan angka, dosa, tsah.

Selalu ingat, Tuhan udah menciptakan manusia sepaket dengan kelebihan dan kekurangan, dan tugas kita sebagai manusia di dunia, bukan untuk memperbaiki kekurangan, tapi mengoptimalkan kekuatan.

Sebentar, sebentar, mau batuk keren dulu, uhuk.

Saran: banyak-banyak baca buku yang menyenangkan dan bermanfaat, gue juga mau lakukan hal yang sama, kemudian jauhi perdebatan, karena berdebat adalah ciri-ciri orang yang kurang wawasan.

Ow yea,  I'll give you something, it tells everything, 



Happy learning! Selamat ujian, sukses selalu :)
17 Oktober 2014
3 Doa Mahasiswa Tingkat Akhir

3 Doa Mahasiswa Tingkat Akhir

Pernah tau nggak gimana rasanya kalo gebetan kita lulus duluan?

Gue pernah. Rasanya parno banget.

Bagi yang pernah ngerasain hal kayak gini, pasti ngerti keparnoan yang gue alami. Bagi yang belum ngerasain, buruan dukung gebetan kamu lulus, sementara kamu lama-lamain aja di kampus, okesip.

Semasa gue jadi mahasiswa tingkat akhir, selain takut gebetan lulus duluan, gue lebih takut lagi ketika kebayang sebuah pikiran yang 'nggak-nggak', apalagi ketika ada orang yang manas-manasin kayak gini,


Nggak dipungkiri, seseorang yang lulus duluan punya peluang yang lebih besar segera mapan daripada mereka yang nggak lulus-lulus. Karena peluang kemapanan yang tinggi, otomatis peluang untuk ngelamar orang juga akan sebanding lurus. Ini udah diteliti oleh cowok-cowok yg akhirnya bunuh diri setelah ditinggal nikah. (ANOVA <0,05)

Ketika dulu pas jadi mahasiswa tingkat akhir, ada tiga doa yang selalu gue panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yaitu: 1) Ya Tuhan, luluskan aku segera, 2) Ya Tuhan, lindungi dia dari lamaran pria mapan, dan 3) Ya Tuhan, kalo dia udah dilamar orang, semoga jodohku Chelsea Islan. *troll

Anyway, ada sebuah siklus setan yang sering terjadi di kalangan mahasiswa tingkat akhir,


Siklus di atas ini bahaya banget kalo nggak diantisipasi, karena akan sangat berdampak buruk bagi kesehatan badan, psikologi, juga dompet. Nah, bagi kamu yg nggak ngerti gambar di atas, setelah paragraf ini, gue akan ngetik "pembahasan dari siklus setan di atas."

"pembahasan dari siklus setan di atas."

Ngerti nggak pembahasannya?

Mungkin ada benarnya ketika orang yang bilang, "1 hari menunda skripsi, 1 hari juga menunda menikah." Ya, walau beberapa orang bilang kalo kata-kata itu nggak benar, tapi satu yg bisa dipastikan benar, yaitu, orang yg ngomong begitu, pernikahan dia pasti udah ketunda-tunda. Kesian dia, kesian.

Intinya, siklus setan di atas itu sangat perlu di antisipasi biar kebanyakan mahasiswa tingkat akhir bisa lepas dari belenggu kegalauan yg nggak produktif. Nah, ada beberapa cara nih untuk memutus siklus setan di atas, antara lain: 1) buruan kerjain skripsi, lulus -terus mapan, 2) banyak-banyak berdoa biar gebetan nggak dilamar-lamar, 3) move on, dan 4) lompat monas.

Dan karena pilihan pertama dan ketiga itu terlalu susah, juga yg keempat itu kurang menantang, akhirnya, gue cuma bisa ngelakuin pilihan yang kedua. Tapi ketika kita harus pasrah dengan gebetan kita yang akhirnya dilamar orang duluan, setidaknya ada sisi positifnya, yaitu, kita menjadi pribadi yg lebih relijius.

Kita sama-sama tau, semua doa kita nggak selamanya dikabul oleh Tuhan (di dunia), tapi Tuhan selalu kasih pengganti yg lebih baik. Mungkin ketika di akherat nanti, saat disidang oleh Tuhan,
"Sam, sebenernya kamu itu ditakdirkan masuk neraka, tapi karena kamu sering berdoa kepada-Ku, kamu akan Ku-masukkan ke surga."
"Memang, doa apa yg bisa membawaku ke surga-Mu, Ya Tuhan?"
"Doa ketika kamu memohon supaya gebetan kamu nggak dilamar-lamar."
"Alhamdulillah. Terima kasih Ya Tuhan."
-udah ah, semoga postingan ini nggak ada manfaatnya/

Oiya! CAK The Movie lagi on-progress siap-siap buat shooting di bulan November, kepoin info updatenya dgn follow twitter @CAKTheMovie ya.
22 September 2014
Pekerjaan dengan Gaji Tinggi

Pekerjaan dengan Gaji Tinggi

Beberapa hari yang lalu, buruh-buruh mendemo pemerintah untuk menaikkan UMR sampe 3,7 juta per bulan. Buset, terus gimana nasib S1 yang digaji 2 juta per bulan ya?

Tapi jangan khawatir, kalo kamu punya persiapan yang matang sebelum menghadapi dunia kerja, kamu pasti bisa memilih pekerjaan yang gajinya cocok sama kepentingan perut kamu.

Well, beberapa perusahaan di bawah ini akan menggaji kamu dengan gaji yang sangat tinggi, penasaran? Let's check this out!

1. Perusahaan pertambangan emas
Sarjana pertambangan perlu berbangga diri, karena prospek title kamu akan sangat cerah.

Banyak perusahaan tambang yang menawarkan insentif tinggi per bulannya, salah satunya perusahaan tambang emas.

Perusahaan ini akan menggaji kamu mulai dari 10 - 100 juta per bulannya. Selain gaji yang tinggi, perusahaan akan menfasilitasi kamu dengan berbagai hal yang akan membuat kamu nyaman dalam bekerja. Kamu juga nggak perlu khawatir dengan hari tua, karena perusahaan akan menunjang kamu dengan bayaran pensiunan. Uwwwoh!

Kerjaannya ngapain aja sih? Kerjaannya cukup menantang, kamu tinggal duduk manis di depan meja sambil melototin besi rongsok sampe jadi emas. *gantung diri

2. Team perawatan lapangan bola
Kamu pernah tau nggak gaji pemain bola internasional setiap minggunya. Misalnya Cristiano Ronaldo, tau gak gajinya berapa? APA?! Nggak tau!? Gue juga.

Tapi, team management lapangan bola menawarkan gaji yang nggak kalah heboh dibandingkan atletnya. Fasilitas dan tunjangannya juga oke. Tiap bulan dapet liburan ke Hawaii dan dapet treatment pemijatan gratis kelas dunia. Kalo dikonversi jadi angka, mungkin insentif yang diterima mencapai 75 juta per bulan.

Kerjaannya hanya butuh kesabaran dan keuletan, ngapain? Cuma motong rumput lapangan bola... pake gunting kuku. *jari pegel-pegel

3. Team sirkuit MotoGP
Pada seneng donk sama performa Marquez di lintasan MotoGP? Tapi pas di sirkuit San Marino kemaren, dia terjatoh gitu ya? (Kemudian nyanyi lagu Chakra Khan).

Setelah diteliti sama team penyelenggara balapan, ternyata jatohnya Marquez itu disebabkan karena motornya yang terlambat ngerem.

Nah, untuk mengatasi masalah itu, kemaren management MotoGP membuka lowongan pekerjaan gitu. Ini pas banget buat anak teknik otomotif kalo mau ngelamar. Intensifnya gede, sekitar 100,000 poundsterling sebulannya. Gede banget kan? Beberapa bulan kerja udah bisa ngebeli motornya Rossi tuh.

Kerjaannya cukup gampang bagi anak teknik, yaitu membuat gimana caranya biar lintasan bisa mendukung pembalap untuk mengerem secara efektif, nggak usah ribet, pake teknologi yang sederhana aja, cukup jadi polisi tidur di lintasan balap.


4. Co-Pilot Helikopter
Buat kamu yang tertantang dengan pekerjaan eksklusif seperti pilot helikopter, sebuah perusahaan Ternama sedang membutuhkan tambahan armadanya untuk menjadi co-pilot helikopter. Intensifnya gede, dan kamu akan difasilitasi dengan sebuah apartemen mewah. Tapi yang lebih menarik, dengan cicilan beberapa bulan saja, kamu bisa ngedapetin helikopter kamu sendiri yang harganya sampe milyaran. Lumayan lah, setelah kamu bosen jadi co-pilot, kamu bisa buka jasa rental helikopter, karena jasa rental mobil udah terlalu mainstream.

Kerjaannya cukup menguras energi, tapi kalau kamu cukup sabar, pasti bisa. Ngapain sih? Niupin baling-baling helikopter sampe terbang.

5. CEO Perusahaan
Meniti karier profesional ada yang sebentar, ada juga yang lama banget. Biasanya sih, seseorang udah berada di posisi manager di usia 35 tahunan. Terus di posisi direksi sekitar usia 45 tahunan. Waktu yang cukup lama bukan?

Tapi tenang aja, ada sebuah perusahaan yang lagi mencari CEO muda, nggak perlu persyaratan IPK, nggak perlu punya banyak sertifikat, yang penting punya kemauan dan kerja keras yang tinggi, jiwa managerial, dan kemampuan komunikasi yang baik.

Perusahaan ini akan menfasilitasi kamu dengan fasilitas berupa ruang kantor sendiri, rumah dinas sendiri, pabrik sendiri, manager sendiri, karyawan sendiri, digaji sendiri, bonus sendiri. Lah semuanya sendiri? Iya, wirausaha cui, pft.

***

Udah ah,
Info pekerjaan di atas cuma buat fun-fun aja. Bagi kamu yang lagi masa pencarian kerja, semoga segera dapet yang cocok buat kamu. Dibuat enjoy aja.

Kamu punya info pekerjaan sesat kayak di atas? Silakan tambahin di comment box di bawah, siapa tau ada yang butuh, pft.
20 September 2014
Jadi Karyawan Bergaji Tinggi atau Jadi Pengusaha dengan Bisnis Sendiri?

Jadi Karyawan Bergaji Tinggi atau Jadi Pengusaha dengan Bisnis Sendiri?

Kemaren, gue lewat Jalan Jend. Sudirman Jakarta, abis pulang ngadu FIFA sama temen gue yang rumahnya di bilangan Senen Jakarta.

Setelah puas ngebantai temen gue pake stick PS, gue pulang dari sana sekitar jam 4 sore. Gue pikir jam pulang kantor di daerah itu sekitar jam 6, tapi kenyataannya di jalanan udah macet banget. Mobil-mobil udah kayak parkir di tengah jalan. Gila!

Seandainya gue hidup seperti di game GTA, pasti gue udah turun dari motor, kemudian nge-cheat bazooka, dan gue tembak-tembakin mobilnya biar pada minggir.


Suntuk nungguin suasana jalanan yang masih macet, gue pun berhenti di sebuah shelter. Duduk di sana, sambil ngeliatin pegawai-pegawai kece yang mondar-mandir di trotoar. "Aduh Mbak, wajah mulusmu itu loh.", seandainya gue bisa menghampiri dia sambil mengusap debu di pipinya ... aaah, hmmm, romantis nggak?

Lama-lama bosen juga, gue pun membuka smartphone, dan terlihat ada message yang masuk. Pesan itu berisi sebuah link artikel. Awalnya males banget gue ngebaca ginian, tapi berhubung nggak ada kerjaan, gue buka, dan gue baca artikel itu.

Dan isi artikelnya, WOW BGTZ! Demi perdamaian dan kebaikan dunia, artikel ini gue share ke kamu-kamu, monggo!

***

"Bagaimana kacaunya hidup saya setelah keluar dari perusahaan bergengsi dan memilih mendirikan startup"

Cerita pribadi Mese Ali.

SMS masuk:
“Besok jam 5 pagi, penerbangan nomor AZ610 dari Roma ke New York.”
Sebuah SMS yang masuk di BlackBerry saya pada hari Minggu sore dulu selalu menjadi rutinitas yang menentukan di mana tujuan dan siapa klien saya untuk minggu mendatang.

Saya dulu bekerja di salah satu dari tiga perusahaan konsultasi strategi bisnis terbesar di dunia. Sebuah kehidupan di dalam sebuah koper. Sebuah kehidupan konsultasi dimana Anda ketinggalan update tentang segala sesuatu dan semua orang dalam hidup Anda, kecuali spreadsheet Excel. Sebuah pekerjaan impian yang, menurut sekolah-sekolah bisnis ternama, ideal.

Setelah beberapa jam tidur, supir pribadi membawa saya ke bandara Roma Fuimicino dimana saya akan melakukan perjalanan ke New York dengan penerbangan kelas bisnis yang mewah. Setelah tiba, saya akan check-in ke sebuah hotel bintang lima mewah dan menuju ke kantor klien saya setelah itu.

Gaji? Luar biasa. Perusahaan tempat saya bekerja merasa bangga telah menjadi salah satu perusahaan bergaji tinggi di ranah konsultasi bisnis.

Namun, ada sesuatu yang salah dengan kehidupan konsultasi ini. Saya tidak tahan dengan segala kemewahan yang penuh dengan kepalsuan ini dan suatu hari menelepon orang tua saya:
Ayah, Ibu, aku baru keluar dari pekerjaanku. Aku mau mendirikan startup sendiri.

Ibu saya hampir mengalami serangan jantung. Tentu saja kabar tersebut bukanlah hal yang ingin didengar oleh seorang ibu perfeksionis yang mendorong saya untuk lulus dari sekolah bisnis top dunia dengan nilai yang top pula. Saya mencoba menenangkan beliau. Namun mustahil.
Bu, aku benci pekerjaanku. Semua konsultan ini berpura-pura bahagia dan mereka mengkonsumsi pil kebahagiaan. Aku hanya bisa tidur 3-4 jam sehari. Semua keuntungan yang dijanjikan perusahaan tidak pernah ada. Hotel bintang lima mewah? Aku bekerja hampir 20 jam sehari dan aku bahkan tidak menikmatinya. Sarapan mewah? Kami tidak pernah punya waktu untuk itu. Makan siang dan makan malam mewah? Hanya sandwich di depan spreadsheet Excel kami.
Oh, ngomong-ngomong, bukannya menikmati segelas sampanye, aku malah memandangi spreadsheet selama penerbangan. Gaji tinggi? Aku tidak pernah punya waktu untuk menghabiskannya.
Aku benci kehidupanku, Bu. Seperti kehidupan para pecundang. Aku bahkan jarang melihat pacarku. Aku sudah tidak bisa membohongi diri lagi. Aku ingin memulai bisnisku sendiri.
Orang tua saya sudah pensiun dari pekerjaan rutin mereka sebagai PNS dengan dengan gaji yang aman namun membosankan.

Datang dari keluarga yang tidak mempunyai latar belakang entrepreneurship, saya tahu bahwa sulit untuk menjelaskan situasi ini ke mereka. Namun, saya tidak menduga mendapatkan telepon keesokan harinya.

Ibu saya menelepon:
”Jaaadiii, bagaimana bisnismu?! Sudah tumbuh?!”
Tidak peduli apa yang saya katakan, saya tidak bisa menjelaskan kepadanya bahwa bisnis membutuhkan lebih dari satu hari untuk bertumbuh. Pacar, teman, dan lingkaran sosial.

Saya memiliki pacar yang sangat mendukung saya. Sekarang saatnya memberitahu teman-teman saya yang tengah sibuk memanjat tangga karir mewah di dunia bisnis yang mewah pula.

Saya memberitahu semua orang bahwa saya baru keluar dari pekerjaan untuk mewujudkan mimpi startup saya. Beberapa teman berangsur-angsur berhenti menemui saya, mungkin karena mereka berpikir ada sesuatu yang salah dengan saya, karena ini adalah pekerjaan “mewah” kedua yang saya tinggalkan dalam waktu singkat.

Sedangkan teman-teman saya yang lain mendukung. Bagaimanapun, tampaknya masih ada sesuatu yang salah dengan hubungan kami: Saya segera sadar bahwa saya mulai menarik diri dari lingkaran sosial.



Setiap kali saya bertemu dengan teman-teman, saya tidak memiliki banyak update untuk menjawab pertanyaan mereka yang itu-itu saja, seperti, “Jadi, bagaimana keadaan startup-mu? Kamu akan jadi Mark Zuckerberg berikutnya, kan?” “Oh man, kami sangat bangga padamu dan kami sangat yakin kamu akan segera menerima investasi besar.”

Menjalankan sebuah startup adalah sebuah perjalanan panjang dan saya membuat diri saya tertekan dengan terlalu peduli terhadap apa yang dipikirkan orang lain.

Hari demi hari, saya semakin merasa kesepian dan lebih depresi karena saya menghindari acara-acara sosial. Kemajuan startup saya tidak secepat yang dibayangkan lingkaran sosial saya. Dan saya sudah muak untuk memberitahu orang-orang bahwa butuh bertahun-tahun bagi startup untuk menjadi seperti Facebook dan Twitter.

Satu-satunya tempat yang nyaman adalah berada di sekitar beberapa teman entrepreneur saya. Memang benar, hanya seorang entrepreneur yang bisa memahami seorang entrepeneur. Uang, uang, uang.

Seolah tekanan sosial dan kesepian yang saya alami belum cukup, saya menghadapi “ibu dari semua tekanan”: uang habis lebih cepat dari yang saya bayangkan.

Ini membunuh produktivitas dan kemampuan saya untuk membuat keputusan yang tepat. Saya panik dan ingin cepat-cepat menjadi sukses serta menghasilkan uang.

Suatu hari, saya bahkan meminta uang receh kepada pacar saya karena saya tidak punya uang untuk membeli air mineral kemasan. Saya tidak tahu bahwa itu hanya awal dari sebuah kehidupan sulit yang penuh dengan pasang surut.

Kini
Oke, cukup dengan drama menyedihkan tersebut: lebih dari dua tahun telah berlalu sejak masa-masa itu. Saya sekarang menulis artikel ini di sebuah resort yang indah di Phuket, Thailand, sambil menikmati mojito.



Tunggu, saya tidak menjual mimpi. Tidak, saya belum menjadi seorang founder startup miliarder.

Bagaimanapun, bisnis saya memiliki aliran uang yang konstan, yang memungkinkan saya untuk berkeliling dunia dan bekerja dari mana pun selama ada wifi.

Meskipun demikian, ada lima hal yang saya harap telah saya tanyakan pada diri saya sendiri sebelum memulai perjalanan yang menyakitkan ini. Lima pertanyaan yang saya yakin harus ditanyakan oleh setiap entrepreneur kepada dirinya sendiri sebelum terjun ke dunia entrepreneurship:

1. Apakah Anda siap dengan tekanan sosial?
Jika Anda memiliki teman dan keluarga yang bukan entrepreneur, mereka tidak akan benar-benar memahami apa yang ingin Anda capai dan tekanan akan menjadi lebih tinggi.

Saya sangat peduli tentang apa yang orang lain pikirkan tentang saya, saking pedulinya hingga menghancurkan hidup saya.

Saya begitu keras pada diri saya sendiri dan menghukum diri dengan lebih banyak pekerjaan sehingga saya bisa mengumumkan kesuksesan saya sesegera mungkin. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada yang peduli tentang saya. Jadi, kenapa saya harus peduli pendapat mereka?

Anda tidak lebihnya ibarat sebuah status di Facebook yang hanya diperhatikan selama sesaat. Pada tahun 2014, tidak ada yang memiliki waktu untuk mempedulikan orang lain di dunia yang ramai ini.

Jika Anda terlalu peduli tentang apa yang orang lain pikirkan, Anda akan menghabiskan waktu untuk membuktikan bahwa Anda sukses, alih-alih berfokus pada startup Anda.

Nikmati hidup Anda. Saya sendiri telat melakukannya.

2. Apakah Anda single atau mempunyai pasangan yang sangat mendukung?
Ketika dewasa, kita menghabiskan lebih banyak waktu kita dengan pasangan dibanding dengan teman atau keluarga. Meskipun saya beruntung memiliki pacar yang luar biasa, saya sedih melihat banyak teman entrepreneur putus dengan pacar mereka.

Melakukan bisnis Anda sendiri adalah hal yang sulit – lebih sulit daripada yang saya bayangkan. Pikiran Anda akan terus-menerus kacau dengan sejuta hal dan tidak ada orang lain, termasuk pacar Anda, yang memahaminya.

3. Apakah Anda memiliki uang yang cukup untuk bertahan setidaknya satu tahun?
Jika ya, bagus. Kemudian kalikan jumlah itu setidaknya tiga kali lipat karena Anda akan kehabisan tabungan Anda lebih cepat dari yang Anda bayangkan. Sepanjang jalan, akan ada banyak biaya tak terduga, biaya akuntan, biaya untuk urusan legal, iPhone atau PC yang rusak, dan sebagainya.

Bersiaplah untuk sebuah rumah kontrakan kecil, porsi makanan yang lebih sedikit, atau menghitung uang receh Anda, yang mungkin tidak pernah Anda pedulikan sebelumnya.

Beberapa bulan sebelum Anda benar-benar kehabisan uang adalah masa yang sangat sulit, dan tekanan akan semakin berat hingga Anda tidak akan dapat tidur dengan nyenyak.

Sukses akan datang dengan lambat, dan uang akan cepat habis. Anda harus cerdas untuk merencanakan semua hal dari hari pertama.

4. Apakah Anda siap hanya tidur beberapa jam per hari?
Setelah keluar dari dunia perusahaan konsultansi, saya berpikir akhirnya bisa mewujudkan mimpi saya dengan bekerja dimanapun saya mau – sampai akhirnya saya membaca kutipan dari Lori Greiner berikut:
Entrepreneur rela bekerja 80 jam per minggu untuk menghindari bekerja 40 jam per minggu.Semuanya dimulai dengan bangun di tengah malam. Pada awalnya, saya terlalu bersemangat tentang ide-ide saya yang begitu banyak. Saya tidak bisa menunggu sampai pagi tiba.
Kemudian datang fase melebih-lebihkan. Saya bekerja terlalu banyak karena saya merasa tidak pernah cukup mengerjakan ide saya dan saya ingin berbuat lebih banyak lagi. Namun, semakin lama saya bekerja dan semakin larut saya tidur, saya semakin sulit tertidur dan semakin rendah kualitas tidur saya.

Hasilnya, dua hingga tiga hari per minggu kinerja saya menjadi tidak produktif.

Jangan tertipu oleh berita investasi tentang founder startup yang menjadi miliarder. Ada cerita yang menyakitkan di balik itu semua, malam tanpa tidur, dan penolakan terus-menerus serta kegagalan. Perjalanan menuju kesuksesan sangatlah panjang, bahkan seringnya, terlalu panjang.

5. Bagaimana Anda mendefinisikan sukses?
Setiap orang memiliki daftar prioritas yang berbeda dalam hidup. Bagi kebanyakan orang, uang adalah prioritas nomor satu dalam daftar mereka, sementara yang lain lebih mementingkan keseimbangan kehidupan pribadi dan kerja. Akibatnya, setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda.

Tergantung pada definisi sukses Anda, kesulitan perjalanan entrepreneurship Anda akan berbeda juga. Jika uang dan ketenaran adalah hal yang paling penting bagi Anda, perjalanan entrepreneurship Anda mungkin akan lebih sulit.

Ingat kata-kata bijak Ernest Hemingway:
Memang baik untuk memiliki akhir dari sebuah perjalanan; tapi pada akhirnya, perjalanannya lah yang penting.Entrepreneur sukses tidak selalu orang-orang yang mendapat investasi jutaan dollar. Jangan lupa, mereka adalah satu dari sejuta.
Bagaimanapun, ada ribuan pemimpi di luar sana yang berhasil menjalankan startup mereka secarabootstrapping atau hidup dengan baik secara mandiri, tapi bahkan mereka tidak diliput di berita teknologi.

Tidak peduli seberapa kacau hidup Anda karena entrepreneurship atau sebera sulit nantinya, nikmati perjalanannya dan terus ikuti passion Anda. Seperti kata Tony Gaskin:
Jika Anda tidak membangun mimpi Anda, seseorang akan mempekerjakan Anda untuk membangun mimpi mereka.
Artikel ini pertama kali dirilis di Medium. Diterjemahkan oleh yahoo.co.id

***
Gimana? Keren kan? :)
18 September 2014
Biar Hidup nggak makin Sulit

Biar Hidup nggak makin Sulit

Setelah kita lulus nanti, kita bakal ngerasain gimana senengnya ngeliat pencapaian temen-temen kita. Liat aja sekeliling, beberapa temen ada yg study lagi, ada yg jadi profesional, ada yg usaha, ada yg udah jadi manager, jadi PNS, dan lain-lain.

Seandainya mereka semua nggak lupa sama temen-temennya, ini jadi bukti kalo rejeki ada Tuhan Yang Mengatur :)

Eits! Nanti dulu. 

Enggak semua temen bisa begitu, banyak juga hal-hal memilukan yang sering gue temui setelah lulus. Ya, bagi sebagian orang, hidup ini sulit. Dan akan makin sulit kalo kita stupid.


***

Gue mau mengajak pembaca untuk flashback dulu,

Sama seperti yang kita tau, mahasiswa itu bisa dibedain menjadi: 1) kupu-kupu, 2) kura-kura, 3) kunang-kunang, 4) kurapan, 5) panuan, dan 6) bisulan.

Percayalah, kebiasaan mahasiswa yang bertipe kayak di atas akan menjadi tolak ukur -jadi seperti apa- mereka setelah lulus. 

Oke, biar lebih detil, gue share satu-satu,

1) Kupu-kupu, kuliah pulang, kuliah pulang
Ini adalah tipe mahasiswa yang paling banyak ditemukan. Kira-kira 70% temen-temen kita adalah tipe mahasiswa yang begini. Sebenernya nggak ada masalah kalo kerjaan mahasiswa kayak gitu. Kuliah pulang adalah aktifitas yg sangat normal, kecuali kalo abis kuliah kemudian pulang ke rahmatullah

Yang gue amati, mahasiswa kayak gini kebanyakan adalah mahasiswa yg soliter, sangat individual, ngapa-ngapain sendiri, kemana-mana sendiri, bahkan kalo mau pup juga sendiri. 

Mereka terkesan nggak mau bergaul dengan mahasiswa atau ikut aktifitas yg ada di kampus. Mungkin mereka punya motivasi sendiri, entah mau konsentrasi belajar, biar dapet nilai bagus, dan kerja di perusahaan bagus, atau mungkin pemikiran mereka bahwa jadi mahasiswa cukup dengan kuliah aja. Nggak ada yang salah. Setiap orang punya prinsip. 

Temen-temen gue yang tipe begini setelah lulus kuliah, jadi apa mereka? 

To be honest, kebanyakan mereka akan sulit mencari pergaulan dan berimbas bingung mencari kesibukan. Pun ketika mereka udah dapet pekerjaan, sikap bawaan kupu-kupu mereka nggak akan gampang hilang. Masuk kerja, pulang, akhir bulan gajian, begitu aja terus sampe ubanan.

Yea, walau sekuper-kupernya temen gue yang kerjaan-nya cuma kuliah pulang - kuliah pulang, pas masih mahasiswa, dia tetep nyempetin nyari info beasiswa atau program pasca sarjana, dan sekarang, dia kuliah di Eropa. 

Sayangnya, beberapa temen gue yang tipe kupu-kupu, karena sikapnya yg soliter (nggak mau bergaul) dan hidup sedatar-datarnya, ke depan malah jadi susah sendiri. Dengan sendirinya mereka akan tersadar, kalo kuliah yang mulus kayak paha JKT48, itu sangat jauh dari cukup. 

Pesan moral: Ospek itu cuma nyusahin mahasiswa, orang tua dan saudara. Emang nggak nyambung. Diklik deh linknya, baca artikel tentang ospek. 

2) Kura-kura, kuliah rapat, kuliah rapat
Gue adalah mantan aktifis, yang dulu kerjaannya ngedemo kampus biar spot Wifi diperbanyak untuk menunjang kegiatan kuliah. Setelah Wifi di mana-mana, kerjaan gue malah ngedownload film-film bajakan, terus kuliahnya? Jam kuliah selalu gue pake buat nonton film-film download-an tadi. Okesip. 

Beberapa bulan kemudian, gue ngedemo kampus lagi lewat surat petisi, menuntut reformasi agar kurikulum kuliah mendukung mahasiswa biar lulus lebih cepat. Setelah permintaan gue dikabul, aturan lulus 7 tahun, sekarang jadi 5 tahun. *gue dibakar massa

Mahasiswa kura-kura, jujur aja, alasan gue ikutan organisasi: gue pikir dengan ngikutin banyak organisasi, gue akan punya CV (curiculum vitae) yang panjang juga dapet banyak sertifikat, dan dengan itu, gue akan lebih mulus nyari kerja. 

Setelah berlembar-lembar CV dan berkerdus-kerdus sertifikat gue kumpulin, gue pun ngelamar pekerjaan dengan PD, kemudian pernah terjadi sebuah percakapan seperti ini,
"Dengan bapak Sam?"
"Iya betul, Ibu."
"Wah pengalaman organisasinya banyak sekali ya? Jadi ketua ini, jadi ketua itu."
"Hehe, begitulah Bu. Jadi saya bisa diterima?"
"Maaf bapak, saya khawatir jabatan saya akan direbut sama bapak, jadi bapak nggak bisa saya terima. Kita temenan aja yach?"
"..."
Gue ditolak.

Ini true story abis, setiap kali gue ngelamar kerja, user (manager divisi yg akan jadi mid-boss kita) terlihat seperti berpikir berulang kali, "Orang ini akan mengancam karier gue, gue harus menyelamatkan dompet ini.", mungkin tampang gue mirip tukang copet.

Ya, kebanyakan temen gue yang mahasiswanya aktifis, nggak sedikit yang mengalami kesulitan mengawali karier. Nggak sedikit juga yang idealismenya luntur. Salah beberapa contoh temen gue yang dulu sangat memerangi profesi sebagai bankir (karena nggak sesuai jurusannya), belakangan gue ketemu dan bertanya, "Kerja di mana?", malu-malu kucing mereka menjawab, "Di.. ba.. bank, Sam."

Bagi tipe mahasiswa begini yang bisa survive dengan keadaan, biasanya mereka akan tersesat menjadi pengusaha. Tergantung mahasiswanya sendiri, gampang nyerah atau nggak. Tapi bagi mahasiswa yg niatnya lurus mau ikut organisasi, mental survival-nya otomatis akan terlatih. 

Pesan moral: Ikut organisasi nggak usah berlebihan, yg penting dapet pengalaman dan networking yg cukup. Terus, bagi kamu yang ikutan BEM atau organisasi cuma mau dapet sertifikat atau jaket, luruskan niat kamu, lebih baik kamu jualan donat. 

3) Kunang-kunang, kuliah nangkring, kuliah nangkring
Culun-culun begini, pas dulu masih mahasiswa baru, gue termasuk mahasiswa yang gaul. Setiap pulang kuliah, gue sempet-sempetin nongkrong di mall sambil bawa kaleng, ngemis. Minum-minum di cafe, ngobrol-ngobrol di lounge, maen PS berjam-jam, dan lain-lain. Kerjaannya nge-hedon mulu. 

Nggak dipungkiri, itu semua pengaruh dari pergaulan. Untungnya, pas tingkat kedua gue beralih menjadi kura-kura, seenggaknya itu lebih baik. Tapi, gimana nasib temen gue yang tetep istiqomah nangkring-nangkring? 

Nggak dibuat-buat, temen gue yang kerjaannya begitu, lulusnya yang paling belakangan, beberapa juga di-DO, kehidupan pasca kuliahnya jadi nggak jelas, yah... bisa dibayangkan sendiri. 

Pesan moral: Nggak banyak yg gue mau bahas tentang tipe mahasiswa begini. Kalo mau mengubah sikap, nasib akan berubah. Kalo dulu nongkrongnya di mall atau club, nongkrong-lah di WC masjid. 

4) Kurapan, 5) Panuan, 6) Bisulan
Kalo tipe mahasiswa begini, jelas emang jarang mandi. 

[end]
3 September 2014
Mau kemana setelah Wisuda?

Mau kemana setelah Wisuda?

"Mau kemana setelah wisuda, Men?"
"Hah? Duh, gue nggak mikir sejauh itu."
"Mau kemana setelah wisuda, Bro?"
"Hmmm. Ng..ngak tau."
"Mau kemana setelah wisuda, Sob?"
"Mau dilamar pengusaha kaya aja."
"Mau kemana setelah wisuda, Sam?"
"Mau ke akherat."
Begitulah kira-kira jawaban temen-temen ketika gue tanya ke mereka setelah wisuda mau gimana. Nggak usah protes, emang patut disadari dan diterima, keadaan kita saat kuliah itu kira-kira kayak gini: we study, we pass exams, we graduate, then we dont know what we have to do.

Bagi sebagian besar mahasiswa dan lulusannya, kuliah itu cuma jadi sarana buat gengsi-gengsian, alias cuma berpikir sebatas 'aman nyari kerja dengan ijazah kuliah'. Sayang banget, iya sayang banget sama mantan. Padahal, ijazah nggak bisa dijadiin persiapan yang cukup buat bisa survive di pasca kuliah. We already know that. Degree only enters you at interview section.

Cuma nggak perlu khawatir, rejeki udah ada yang ngatur. Teruslah berusaha setelah wisuda, yakin sampai ke cita-cita, asik.

---

Kuliah itu banyak mengajarkan tentang kemandirian, apa-apa sendiri: masuk kuliah sendiri, bayar SPP sendiri, bikin skripsi sendiri, lulus ngurus sendiri, nyari kerja sendiri.

Setelah wisuda, bersiap-siaplah mendapat pertanyaan, "Kapan kerja?"
Brace yourself.

Kemandirian dan kengenesan selama kuliah bisa dijadiin sebagai modal berguna untuk menentukan pilihan di kehidupan. Walau pun pendidikan tinggi nggak menentukan kesuksesan di masa depan, seenggaknya, ketika kita kuliah, mental dan pengetahuan kita punya kualitas yang lebih baik ketimbang yang nggak kuliah, seharusnya begitu.

Banyak tontonan atau bacaan yang inspiratif yang membuat diri sendiri selalu melihat diri gue di usia pensiun nanti, gue nggak mau ketika tua nanti hanya bisa menyesali kehidupan, terbaring sendiri di atas kasur sambil meratap, "Kenapa waktu muda gue nggak memperjuangkan cita-cita?"

"Gak papa salah jurusan, asal jangan salah pekerjaan.", mungkin penghasilan nggak akan sebesar orang yang memaksakan diri bekerja di bidang yang nggak disuka, cuma, kita bekerja kan nggak selamanya untuk uang.

Gue masih inget kalimat yang keluar dari mulut Farhan, salah satu karakter di film 3 idiots, katanya,
"Gak papa saya cuma digaji sedikit, punya mobil kecil, rumah sempit, tapi dengan pekerjaan ini, I will be truely happy."

"..."

"Ya nggak gitu juga keles.", kata gue.

Sebisa mungkin, kita bisa kaya dan bahagia dari pekerjaan yang kita suka. Yah, semua orang pengennya begitu. Cuma gimana cara mengawalinya, gue rasa nggak semua orang bisa sabar dan bertahan memperjuangkan impiannya.

Gue melihat sendiri, temen-temen gue, mau dulunya aktifis, agamis, idealis, bagi yang nggak kuat, ujung-ujungnya mereka akan terperangkap dengan desakan kebutuhan, "Kerja di mana dan apa aja, yang penting bisa makan."

Hidup ini emang nggak mudah, banyak di antara kita memilih menyerah, padahal bisa jadi esok hari jadi cerah. Kalo kita masih galau dengan urusan rejeki, artinya kita kurang yakin ada Tuhan Yang Maha Memberi.

Ganteng banget.


30 Agustus 2014
Early Teaser CAK The Movie

Early Teaser CAK The Movie

Beberapa bulan lalu, gue hanyalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang ngejar-ngejar dosen pembimbing buat minta tanda tangan. Tapi pas kemaren gue ikutan open casting CAK The Movie di Bandung, gue kena karma, gue yang dicari buat diminta tanda tangan tagihan kas bon. Aduh jadi nggak enak gini.

Kemaren saat reece lokasi buat shoting di kampus juga sama, dulu gue yang dipandang sebelah mata sama dosen, pas kemaren gue mampir ke kampus, gue dipandang pake sedotan.

Anyway, mau update info nih, ada beberapa penampakan open casting di Bandung kemaren, orangnya banyak banget, kayak mahasiswa yang mau daftar wisuda. Alhamdulillah ya, semoga CAK The Movie laris dipasaran kayak bukunya, hehe.





Pihak Dari Hati Films bilang, kita bakal ngadain open casting di beberapa kota lain, so, update info kamu di twitter-nya @CAKTheMovie. Oiya, early teasernya juga udah keluar nih,


Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved