New Post

Rss

22 Mei 2015
Dilema Aksi Mahasiswa

Dilema Aksi Mahasiswa

Temen-temen udah ikutan Kompetisi Bercerita dari Bentang? Kalo kalian punya opini atau cerita tentang dunia kuliah dan kerja, boleh tuh diikutsertakan di Kompetisi Bercerita, liat posternya ya,


---

Oke, lanjut ke tulisan kali ini, gue mau beropini tentang aksi mahasiswa yang kemarin ramai diperbincangkan.

Langung aja ya. Gue, yang dulu juga aktifis kampus, punya pendapat bahwa aksi mahasiswa itu lebih banyak absurdnya daripada konkretnya, mengatasnamakan suara rakyat, alih-alih cuma sekedar enggak enak sama temen organisasi, nggak sedikit yang bikin macet sana-sini, penginnya mencuri hati rakyat, tapi malah melukai hatinya -lah kok melow.

Beberapa mahasiswa juga nggak ngerti apa yang mereka aksi-in. Beberapa yang lain udah mantep motivasi ikut aksi, berteriak mengkritisasi kebijakan pemerintah, tapi minim gagasan solusi yang progesif. Nggak ngerti kan? Sama, gue juga.
"Sam, ikut Aksi yuk, massa-nya kurang nih. Wah gak sohib lo!?"
"Duh, gimana ya. Gue ada kelas nih, gue juga gak ngerti aksi."
"Jadi elu lebih milih kuliah daripada nasib bangsa ini?! Udah ikut aja!"
Kemudian gue make almamater dan ngasah bambu runcing.
Gue juga yakin, salah satu motivasi mahasiswa yang menggerakkan aksi itu juga karena pengaruh tradisi, "Masa', tahun-tahun lalu ngadain aksi besar-besaran, di angkatan gue nggak ada aksi?", makanya ketika mereka 'disenggol' tentang aksi mereka, mereka selalu ngungkit-ngungkit yang lalu-lalu (move on donk), berambisi banget biar bisa dikenang kayak mahasiswa angkatan 98 yang menurunkan presidennya, alih-alih gagal, yang turun malah IPK-nya.

Nah biar fair, gue juga nggak sependapat dengan beberapa kebijakan pemerintah, well, sering kali gue juga menjadi pihak yang dirugikan, seperti BBM naik, harga pangan naik, harga ongkos angkutan naik, harga pomade naik, sedangkan IPK nggak naik-naik. Iya gue curhat.

Tapi, apakah respond kita sebagai kaum intelek harus selalu dengan cara berteriak di jalan tanpa aksi nyata? Seakan-akan aksi itu menjadi cara paling mudah untuk mengatasi masalah bangsa. Ehem.

Anyway, gue nggak mau membahas pro kontra aksi/gerakan mahasiswa saat ini, udah banyak yang ngebahas, karena gue juga sepakat bahwa mahasiswa itu bertugas sebagai kontrol pemerintah.

Tapi jaman sekarang, aksi mahasiswa itu udah kayak MLM, gue yakin keduanya punya niat baik, tapi stereotip di masyarakat, keduanya udah punya makna yang kurang positif, mahasiswa harus cari cara kreatif lain untuk menyuarakan suara rakyatnya, dan tentunya didampingin dengan aksi nyata yang berkelanjutan.

After effect.

Di sini inti tulisan gue, yaitu bagaimana kehidupan mahasiswa yang suka aksi setelah menghadapi kehidupan pasca kuliah? Jeng-jeng. Serius ini seru, dan gue harus buka-bukaan soal ini. *buka baju

Gue masih tergabung dalam komunitas sesama teman organisasi, kita sering chit-chat banyak hal di grup WhatsApp, ngebahas ini dan itu. Dan kemaren saat aksi mahasiswa marak di media, terjadi percakapan kayak gini,
"Liat deh mahasiswa sekarang, masa aksinya kayak gitu."
"Hello guys!? Dulu kita juga kayak gitu keles."
"Hah? Iya ya? Hahaha.", kita semua ketawa dan ngebanting hape masing-masing.
Bagi temen-temen mahasiswa, seriusan, mungkin ini sebab kenapa sedikit rakyat yang bersimpati dengan gerakan mahasiswa, padahal simpati itu penting untuk meraup masa rootgrass agar sebuah gerakan makin berpengaruh. Semakin berpengaruh, semakin besar efeknya.

Dilema.

Beberapa temen mahasiswa gue yang dulu nggak pernah absen ketika aksi, dulu sangat anti dengan Amerika, setelah lulus dan berhadapan dengan kejamnya dunia, sekarang dia ngejualin produk MLM dari Amerika, niat banget lagi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan kebijakan pemerintah tentang eksploitasi sumber daya alam, sekarang kerja di perusahaan eksploitasi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan pemerintah, sekarang nggak pernah ketinggalan ikutan CPNS. Belum lagi yang kerja di bank, lebih lebih lagi. Malah mereka nawarin gue pinjaman nasabah.

Ini gimana?! Posisi gue saat ini ada di antara pengin nangis dan ketawa. Ketika gue bertanya ke mereka, mereka menjawab, "Ini rejeki dari Tuhan.", segampang itu kah bawa-bawa nama Tuhan.

Ini memberikan citra general bagi diri gue sendiri kepada mahasiswa saat ini, bahwa apa yang mahasiswa lakukan sekarang, yang begitu idealis, begitu keras, begitu panas, hanya sekedar membawa paradigma yang sporadis dan pragmatis. Sedangkan konsistensi dan komitmen masih dipertanyakan.

Intinya, apakah idealisme mahasiswa akan terus dibawa setelah lulus nanti? Bicara soal idealisme, jangan menjadi orang yang naif. Toh sangat mungkin sekali, petinggi-petinggi negara ini yang mahasiswa kritisasi, dulunya juga mahasiswa yang ikut beraksi. Bagi gue, aksi itu bukan hanya berdemo di jalanan, aksi itu lebih kepada kemantapan pola pikir yang konsisten dengan diiringi aksi nyata positif yang walaupun sedikit, tapi berkelanjutan. Gue juga nggak ngerti lagi ngomong apa.

---
Tulisan ini untuk memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Semoga kita menjadi pribadi yang konsisten antara mulut dan aksi nyatanya. Sorry for this late post.
2 Mei 2015
Catatan Akhir Kuliah 2.0

Catatan Akhir Kuliah 2.0

HORE!

Alhamdulillah, Buku Pertama gue Catatan Akhir Kuliah 1.0, udah terbit satu tahun lalu, dan sekarang Catatan Akhir Kuliah 2.0 ikutan terbit lagi!


Penerbitnya tetep sama, Bentang Pustaka. Terima kasih Bentang, udah sudi menerbitkan buku yang hina ini. Tapi tetep keren kan? Ya kan?

Anyway, langsung aja bercerita sedikit tentang CAK 2.0. Bisa dikatakan isi cerita dari buku kedua ini adalah sequel dari buku pertama. Kamu akan tau cerita kelanjutan gue dengan Kodok, nasib tiga sahabat idiot: Sam, Sobari, dan Ajeb setelah mereka lulus kuliah. IYA, KITA UDAH LULUS?!

Bagi kamu yang masih kuliah dan pengin banget lulus, gue sarankan membaca buku kedua ini, karena apa? Karena kalian pasti akan mengurungkan niat untuk lulus buru-buru, dan segera mendaftarkan diri ke komunitas KB, Kuliah Berencana: Hindari kelulusan dini, IPK 2 lebih baik.

Alhamdulillah, karya yang kedua ini gue mendapat apresiasi yang bagus banget dari beberapa pembaca, dan tentunya editor gue sendiri di Bentang, "Tulisan kamu berkembang Sam. Buku kedua ini jauh lebih baik secara konten dan teknik menulis. Kamu juga makin ganteng."

Terima kasih sekali lagi kepada Bentang yang terus men-support, bisa kali royaltinya dinaikin? Pft.

Okedeh, nggak berlama-lama. Bagi kamu yang mau tau kehidupan seorang fresh graduated yang baru aja lulus kayak gimana, atau bagi kamu yang mau adu apes-apesan sama gue, kamu wajib beli buku ini.

Tersedia di Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dan mas-mas bertoga lainnya. :)

--

APA? KAMU NGGAK PUNYA DUIT BUAT BELI!?

Santai, karena gue dan Bentang Pustaka anak yang baik, kami lagi bikin Kompetisi Bercerita Catatan Akhir Kuliah 2.0 nih, bagi kalian yang mau ikutan, buruan ikutan dan menangin hadiah kece dari Bentang Pustaka dan Ositmen, lagi-lagi Ositmen! Iyalah, kaos-nya keren-keren, kamu bisa cek IG-nya di @ositmen.

Ini dia ketentuannya, happy quiz-ing.


7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

Siapa bilang telat lulus itu aib pribadi? Telat lulus itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga.

Galau ya kalo kuliah kelamaan lulus? Iya, rasanya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. Kan bete.

Banyak yang nanya ke gue, "Kak Sam, gimana caranya ngatasin perasaan ketika banyak temen yang lain udah lulus duluan?" Sebenernya jawabannya simple, siapa bilang orang yang lulus duluan itu lebih bahagia, siapa juga yang bilang kalo orang yang nikah duluan menjamin bahagia. Bahagia itu sederhana, nggak usah terlalu mikirin kehidupan orang. Iya, sesimple itu. Rasa cuek itu penting.

Ambil sisi positif dari pengalaman yang ditinggal wisuda duluan, karena wisuda telat itu mengajarkan kita membedakan mana yang sekedar teman, mana yang mengaku sahabat, dan mana yang bener-bener sahabat, karena sahabat setia wisuda bersama.


Sebagai motivasi, mungkin sebagian dari kalian masih sulit melihat sisi positif dari pengalaman wisuda yang telat. Beberapa udah dijabarkan di atas, detailnya seperti berikut,

1) Status
Status mahasiswa itu lebih bergengsi dari pengangguran, banyak calon sarjana jaman sekarang yang ngebet mau lulus, tapi nggak siap bekerja. Mumpung masih mahasiswa, ada baiknya kita belajar gimana bekerja, biar ketika lulus nanti, kita punya alasan yang tepat. Karena lulus tepat waktu dan di waktu yang tepat, akan kalah sama lulus yang dipersiapkan dengan tepat.

Kebanyakan sarjana salah kaprah, mendaftar kerja cukup bermodal IPK, padahal pengalaman kerja itu jauh lebih dibutuhkan. Coba kita liat dari sudut pandang pemilik usaha; misal kamu pengusaha, dan lagi butuh pegawai, mana yang akan kamu pilih sebagai recruitment:
a) IPK gede tapi kerjanya nggak bener.
b) IPK seadanya tapi terampil bekerja.
c) IPK gede, kerja terampil, dan cakep.

Kalo gue, gue akan pilih (b) untuk jadi pegawai, dan (c) untuk dijadiin istri.

2) Nggak punya beban
Nyebelin itu ketika temen yang baru aja wisuda atau wedding, kemudian mereka ngepost moment-moment bahagia mereka di facebook. Bolehlah sekali dua kali, tapi ini sebulan ngeposting begituan terus.

Coba amatin, posting pertama yang ngelike dan ngecomment akan banyak banget, tapi seiring berjalannya waktu, jumlah likes and comments akan berkurang. Hal ini disebabkan, karena kita semua tau, bahwa sikap mereka itu bikin eneg, atau jangan-jangan, jumlah likes dan comments yang banyak itu adalah mereka sendiri yang bikin akun cloning. Ngelikes posting sendiri, comment posting sendiri. Gila.

Ini kok gue curhat.

Anyway, tau kah kalian perasaan temen yang wisuda duluan tapi nggak kunjung dapet kerja, mereka itu kayak kemakan omongan sendiri, mereka punya beban sendiri, dan rasanya itu nggak enak, ibaratnya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. KOK UMPANYA KAYAK DI ATAS!?

Intinya, lulus nggak usah cepet-cepet, kalo nggak cepet dapet kerja kan nyesek.

3) Terkenal
Telat lulus itu akan membuat kamu terkenal. Selain terkenal oleh mahasiswa, kamu juga akan dikenal dosen-dosen, mba-mba warteg, satpam, tukang parkir, tukang fotokopi, dst. Nah, kalo kamu terkenal, follower twitter dan instagram kamu akan bertambah, nanti kalo udah banyak, kamu bisa jualan. Kamu akan kaya sebelum wisuda, kamu akan KAYA! KAMU AKAN KAYA!

4) Banyak yang ngedoain
Jangan remehin doa-doa orang yang ter-aamiin-i, waktu gue telat lulus dulu, banyak orang yang prihatin, jadi banyak orang yang ngedoain.
"Lama banget lulusnya Kak? Cepet lulus ya, Kak?" Aamiin.
"Semoga segera nyusul, Sam. Sukses ya?" Aamiin.
Walaupun mereka cuma berkata-kata, tapi gue yakin bahwa kata adalah doa. Kalo mereka niatnya ngejekin atau gimana, selama kata-kata mereka positif, aamiin-in aja. Siapa tau kekabul.

5) Gampang nyari jodoh
Telat lulus itu asyik, karena adek kelas mahasiswa baru setiap tahun akan bertambah. Ini asyik banget ketika kamu udah berhasil nggak terpengaruh dengan 'keharusan lulus tepat waktu'. Karena apa? Mungkin kita bosen dengan wajah temen-temen seangkatan, untuk itu, Tuhan menurunkan rahmat-Nya dengan mendatangkan wajah-wajah baru berupa maba-maba.

Kalo wajah kamu termasuk yang nggak terlalu terlihat tua, anggaplah menjadi senior di kampus sebagai kesempatan mencari jodoh, ini hadiah dari Tuhan, tapi bbagi kamu yang emang tampangnya udah ketuaan, saran gue sebelum ngedeketin maba, kalian beli krim anti-aging satu kontainer, tuangkan di kolam renang, dan mandilah di sana 3 kali sehari.

6) Downline semakin banyak
Ini khusus bagi kamu yang menggiati aktifitas MLM, menjadi terlalu tua di kampus bisa dijadikan ajang mencari network yang lebih luas, biasanya maba-maba tuh gampang dipengaruhi, terutama mahasiswi-nya. Cobalah dekati mereka, tawarkan produk kecantikan dan pembalut. KAMU AKAN KAYA!

7) Kamu akan mendapat pahala yang besar
Pernah nggak ngebayangin, ketika kamu nggak kunjung lulus, tanpa sadar kamu sedang mendukung pembangunan kampus kamu. Kamu bayar SPP untuk fasilitas kampus dan gaji dosen, fasilitas kampus bermanfaat untuk ribuan orang, dosen punya keluarga yang dikasih makan, begitu terus siklusnya, betapa bermanfaatnya mahasiswa yang telat lulus. Enak kan? Iya, emang enak ...


Seperti biasa, setiap ada postingan baru, akan ada #QuizChallenge berhadiah t-shirt keren dari Ositmen, caranya gampang: 1) Kasih komentar kamu di blog ini, komentar terbaik yang akan menang. 2) Follow IG @Ositmen di instagram.com/ositmen karena pemenang akan diumumkan di sana.

Jangan lupa sertakan email kalian di akhir komentar ya :)

10 April 2015
Kapan?

Kapan?

Cewek,

Mungkin kalo ada mahasiswa yang membuat topik skripsi tentang 'mengerti perempuan', maka mahasiswa itu akan dipastikan lulus ratusan tahun.

Btw, rasanya nggak fair kalo misal cuma Ada Band yang menyanyikan lagu Karena Wanita Ingin Dimengerti, karena pada dasarnya laki-laki juga pengin dimengerti. Tapi dari zaman lagu Ada Band itu keluar sampe tahun sekarang, belum ada lagi yang nyanyiin tentang perasaan cowok yang kayak gini.

Makanya gue sempet berpikir, mungkin setelah CAK The Movie rilis, gue akan banting setir jadi penyanyi, dengan debut single yang berjudul 'Emang Cuma Wanita Doank yang Ingin Dimengerti, Laki-laki juga Keles", nanti video klip-nya ada seorang cowok yang lagi sidang skripsi dan tiba-tiba gila kesurupan minta lulus, karena nggak ngerti sama skripsinya sendiri. "Lulusin AKU! LULUSIN AKU GAK!? WOOOH!"

Anyway, jelek-jelek begini, gue sering ditolak cewek. Secara kebetulan, dosen pembimbing gue juga cewek. Udah dosen pembimbing, cewek lagi. Lengkap. Dosen cewek itu sama halnya kayak cewek kebanyakan, penginnya dimengerti, penginnya di-SMS duluan, penginnya dicariin duluan, kalo nggak digituin dia bakal ngambek. Persis. Sering kali juga, ketika kita SMS dengan seksama, mereka suka ngebales dengan kata sesingkat-singkatnya. Ini SMS Bu, bukan proklamasi.
"Kapan mau bimbingan?"
, dosen pembimbing nggak pernah seperhatian ini, jangankan nanyain kapan mau bimbingan, masih untung mereka inget kalo punya bimbingan. Di sisi lain, justru temen sendiri yang kelewatan perhatian dengan nanyain, "Kapan lulus? Kapan wisuda? Kapan bayar utang? Kapan nraktir gue? Kapan? Kapan?", dan pertanyaan kapan lainnya. Temen yang kayak gini emang susah dihadepin, bisa jadi mereka emang bener-bener perhatian, atau bisa jadi mereka emang pengin mulutnya disumpel pake pembalut.

Bener kata orang, hidup ini ujian, dan soalnya kebanyakan pertanyaan "Kapan", orang yang lulus ujian adalah orang yang berani menjawab dan membuktikan pertanyaan kapan.

--

Ngomong-ngomong soal kapan, gue ada cerita,

Beberapa waktu lalu, gue mendapatkan kehormatan untuk memberikan pidato kelulusan untuk para wisudawan, tepatnya wisuda bulan Maret kemarin sebagai perwakilan alumni. Udah lama nggak ngasih pidato di acara formil seperti itu, gue tegang, entah bagian yang mana.

Karena permintaan memberi pidato ini datang sehari semalam sebelum hari-H, gue nggak ada persiapan banyak, kaos kaki aja beda sebelah, bau lagi, hanya orang jenius yang bisa mencium keharuman kaos kaki gue. Gue sempat menciumnya, dan wangi, gue emang jenius, sedangkan temen gue, jarak 2 meter, dia terlihat mengeluarkan busa dari mulutnya, dia nggak jenius. Ini kok ngebahas kaos kaki yang bau.

Seperti biasa, pidato dari alumni datang setelah pidato pertama dari lulusan terbaik. Mengawali pidatonya, dia berpuisi, puisinya seperti ini ...

Oke sorry, gue lupa.

Setelah berpuisi, dia berterima kasih kepada dosen dan orang tua, institusi, dan kemudian memberikan motivasi bersama untuk mengamalkan ilmu untuk masyarakat, nusa dan bangsa. Applause.

Berikutnya, gue.

Gue berjalan menuju podium, di depan ratusan audience, di depan dosen gue dulu, di depan adik kelas, dan di depan temen sendiri (yang kelewatan lama lulusnya). Gue hanya membawa sebuah buku catetan, yang saat tadi lulusan terbaik lagi mengoceh, gue sempet membuat beberapa bahan untuk jadi pembicaraan.

Gue perlahan membuka catatan itu, sialnya nggak gue tandain, bahan materi gue bolak-balik nggak ketemu, yang ada catetan utang di warteg. Apalah daya, gue pun mulai bicara materi yang absurd. Biar nggak terlalu canggung, gue membuka pidato juga dengan puisi, seperti ini ...
"IPK tinggi jangan tinggi hati, IPK rendah jangan menyerah, udahgituaja."
Audience bengong, merasa aneh, kemudian tertawa, ada beberapa yang tepuk tangan, gue sambut,
"Yang mau tepuk tangan, gak usah setengah-setengah.", tepuk tangan mereka makin kenceng. 
Pidato gue lanjutkan dengan menyambut dosen, guru besar, orang tua, dan wisudawati yang gue cintai, semoga dibalas cinta gue, sedangkan wisudawan-nya gue lupakan, biarin aja.

Berpikir mau bicara apa, akhirnya gue menceritakan perjuangan gue ketika wisuda dulu, "Bahagia ya, akhirnya temen-temen bisa menjawab dengan lantang kalo masih ada yang nanya 'Kapan wisuda?', padahal pertanyaan itu dulu, rasanya sakit banget.", wisudawan tersenyum.
"Saat mahasiswa dulu, saya aktif di organisasi, saya mengikuti program KB, kuliah berencana, hindari kelulusan dini, IPK 2 lebih baik.", sambil menunjuk 2 jari. Audience tertawa. 
Gue menyampaikan pula bagaimana perjuangan seorang fresh graduate dalam dunia kerja, "Bagi yang ber-IPK tinggi jangan seneng dulu ya, karena IPK tinggi tidak menentukan kesuksesan... apalagi IPK rendah.", wisudawan yang tadinya kesenengan, kemudian terlihat keluar dan melompat dari gedung.

Iya memang, pidato formil ini malah jadi stand up comedy. Tapi bodo amat, gue nggak suka dengan aturan yang kaku, pula wisudawan-wisudawan ini terlihat haus hiburan. Gue pun melanjutkan.
"Jangan pula berbangga diri dengan status sarjana terbaik kalian, karena bagi saya, sarjana terbaik itu adalah sarjana yang ketika ditanya setelah wisuda mau ngapain, mereka nggak bingung.", mereka semua terenyuh.
--

Banyak hal yang gue sampaikan saat itu, dengan keadaan kikuk karena masih ada rasa takut ketika dipandangi oleh dosen-dosen dengan tatapan sinis, jelas gue salah tempat membawa materi ini, tapi gue hanya mencoba jujur, bahwa memang akademik tidak selalu menjadi kunci keberhasilan di dunia pekerjaan. Maksud gue hanya ingin menyampaikan bahwa semua orang punya kesempatan sukses yang sama.

Tapi sering kali, institusi hanya mengikuti pola dan tradisi dari waktu ke waktu, yang secara implisit memberikan wawasan bahwa, raihlah IPK bagus, biar bisa kerja di perusahaan bagus. Selalu begitu, padahal nggak selalu benar, dan nggak semua lulusan selalu punya kemampuan dan potensi yang sama.
"Saya sebenernya nggak sepakat kalau misal mahasiswa berprestasi selalu identik dengan IPK tinggi. Ini deskriminasi."
Ruangan membisu, audience hening, ini adalah hal yang sensitif. Beberapa orang (terutama dosen) mengernyitkan mata mereka, beberapa wisudawan ada yang terlihat mengangguk sepakat. Gue pun melanjutkan,
"... lulusan terbaik yang identik dengan IPK itu nggak fair, seakan-akan IPK makin tinggi itu makin baik, kasian yang IPK-nya nggak tinggi, sedangkan mereka punya skill, potensi, passion yang berbeda-beda, bagi saya, predikatisasi ini semacam discouragement. Seharusnya biar fair, mahasiswa terbaik ada versi keduanya, yaitu dengan jumlah semester yang paling tinggi, itu baru antimainstream.", audience makin menggila. *) discouragement: semacam pematah semangat
"... terlepas terbaik atau tidak, kalian semua adalah lulusan terbaik kampus ini, berbanggalah.", semua wisudawan tersenyum.
"... berbanggalah hari ini, karena mungkin besok kalian akan galau berbulan-bulan.", mereka nggak jadi senyum. 
"Nah, bagi bapak-ibu orang tua, saya menyarankan, jangan terlalu sering nanya kapan kerja ya? Sakitnya tuh di sini... ", wisudawan tertawa lagi. 
"Berbahagialah dengan waktu kosong kalian nanti, karena banyak orang yang sudah bekerja merindukan waktu libur. Welcome to the jungle, have a dream, make it come true, and never give up. Oiya, silakan para wisudawan bisa berdiri sejenak...", mereka seperti termotivasi, dan kemudian berdiri.
"Sekarang kalian boleh tepuk tangan. Terima kasih standing applause-nya."
Gue pun mengacir ke bangku tamu, sambil ditimpukin snack tentunya. Tak disangka, gue melihat ke arah bangku dosen dan guru besar, mereka memberikan senyuman ke gue, entah karena melihat mahasiswanya yang begitu membanggakan, atau mungkin mereka mulai ada rasa.


Silakan temen-temen share artikel ini di twitter dengan mention @maulasam & @ositmen, juga tinggalin komentar di bawah ya, komentar terbaik bakal dapet 1 buat t-shirt dari Ositmen, free! (Cantumin email kamu di akhir komentar)Wajib juga follow instagramnya di instagram.com/ositmen. Info: 08567777039 (Whatsapp), 2B1B0B80 (PIN).

Quiz ditutup! Pemenang udah diumumkan di instagram.com/ositmen. Silakan berpartisipasi di kesempatan berikutnya ya.
5 Februari 2015
Menganggur itu bukan Aib

Menganggur itu bukan Aib

Ceritanya kemarin gue baru baca koran Lampu Merah, iseng-iseng nyari info job fair, gue mau ikutan kalo ada. Niatnya bukan nyari lowongan kerja sih, tapi mau berdiri di depan meja registrasi sambil nampangin spanduk bertulis,
"SITU NGANGGUR? MALU SAMA NEGARA WOI!", kemudian gue dikejar-kejar, ketangkep, dibakar massa,
...

Ehem,
Begitulah, menganggur setelah melalui masa study yang lama memang menjadi salah satu masa sulit dalam hidup, kita akan menghadapi tekanan dari berbagai sudut: teman, saudara, bahkan orang tua, tapi yang paling menekan diri kita saat itu adalah diri kita sendiri, yaitu ego. Ngerti nggak? Gue nggak.

Jadi, bagi kamu yang lagi berbangga hati karena belum lama wisuda, selamat, kamu baru aja melewati fase hidup yang paling mudah,


Anyway, ketika kita melihat ada fresh graduate yang hanya baru beberapa hari wisuda kemudian mendapat kerja, kita selalu menganggap mereka adalah orang-orang yang beruntung, atau bisa jadi mereka main dukun.

Gue pribadi, harus cukup bersabar menanti panggilan interview berminggu-minggu dengan mengandalkan pencarian kerja online --gue nggak mau menyebut namanya, sebut saja jobstreet.com--, yang membuat gue makin envy dan emosi dengan orang-orang yang lebih cepat mencari kerja.

Memang agak menyulitkan ketika lulus, IPK kita nggak sampe minimal 3,00. Karena nggak bohong, gue tinggal serumah dengan sepupu yang kuliah diploma dengan lulus IPK di atas 3,00., setiap hari kerjaannya pergi interview kerja,
"Mau ke mana lo?"
"Interview."
"Buset, tiap hari interview?"
"Iya, sampe bingung nih banyak panggilan."
"Ada yang keterima nggak?"
"Nggak."
"Pfftt.", gue ketawa, dan kemudian digeplak pake ijazahnya.
Hampir setiap hari gue melihat dia pergi menggunakan blazer dan ijazahnya untuk pergi wawancara, sedangkan gue, hanya bisa duduk di depan TV main video game sambil ngemil membuncitkan perut.

Entah kenapa, ini aneh banget, walaupun berpuluh-puluh lamaran kerja udah gue masukin ke setiap perusahaan, kagak ada satupun panggilan wawancara, sedangkan sepupu gue, seperti tanpa perlu susah payah, dengan mudah dia dapet panggilan kerja, dan dengan semena-mena pula dia menolak tawaran itu.
"Bagaimana Mba dengan tawaran kami?"
"Maaf ya Mas, aku gak bisa, kita teman aja yah."
"Ta..tapi tapi... Mba."
"<tut tut tut tut>"
Begitulah sepupu gue, sudahlah, balik ke topik.

Hal berat lainnya ketika tak kunjung bekerja, adalah nggak nyamannya kuping dengan pertanyaan, "Kapan kerja?", "Kok masih nganggur?", "Tetangga udah kerja loh.", "Saudara kita baru lulus langsung kerja loh.", "Kok masih di rumah.", "Kapan kamu bahagiain orang tua?"

Lama-lama denger begituan, kuping gue jadi panas (siram paracetamol). Gue nggak rela kalo dipanggil pengangguran, dan nggak ada orang yang rela dipanggil begitu, kesannya terlalu negatif. Makanya setiap kali ada yang sewot sama gue -terutama orang tua, gue akan bilang,
"Heh, kapan kerja? Nganggur mulu."
"Mak, ini bukan nganggur, tapi lagi libur."
"...", dilempar ulekan.
Orang tua gue dan mungkin orang tua kalian, mereka punya ekspektasi lebih baik ketika kita bisa sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang tua, itu adalah prestasi. Mungkin dulu kita sering dielu-elukan orang tua, jadi kebanggaan mereka. Namun, ketika keadaan di mana kita menganggur begini, prestasi-prestasi itu udah nggak dianggap mereka lagi. Bagi mereka itu masa lalu, mereka udah move on.

Makanya, ketika orang tua melihat keponakan atau orang lain lebih mudah mencari pekerjaan dibanding anaknya sendiri, mereka seakan menganggap bahwa membiayai kita kuliah adalah hal sia-sia.

Menyedihkan memang, tapi seandainya orang tua tau, walau pun kita belum mendapat kerja dan lebih sering main video game, kita ini sangat berkontribusi bagi dunia dalam memproduksi gas CO2 yang sangat bermanfaat untuk tumbuhan. Mereka harus tau, kalau anak-anak mereka sangatlah go green dan peduli terhadap pemanasan global. Nggak penting juga sih.

Tapi gak papa, rasa galau sedikit terobati ketika tau kabar kalo temen gue yang lulus cumlaude, belum juga dapet kerja. Pffftt. Mungkin penderitaan dia lebih besar dari gue. Hari itu gue sadar, makanya, punya IPK nggak usah gede-gede, kalo susah nyari kerja kan ngenes. 

***

Kemarin gue membaca sebuah data, ternyata di tahun 2010, angka pengangguran nasional mencapai 8,3 juta orang (BPS). Dan di tahun 2012, data dari asisten deputi Bidang Kepeloporan Pemuda Kemenpora, angka pengangguran terdidik mencapai 41,81% dari total pengangguran nasional, yang tiap tahun terus bertambah. Nggak heran, bisnis job affair ada di mana-mana. "Ikut buka stand yuk?"

Gue nggak tau siapa yang harus bertanggung jawab atas masalah ini, tapi setelah gue pikir-pikir, orang yang paling bertanggung jawab atas masalah ini bukanlah Pak Jokowi, karena "Itu bukan urusan saya", melainkan para Sarjana Bisnis. Kenapa sarjana bisnis? Karena mereka bukannya buka bisnis, malah ikutan nyari kerja. Makanya, tolong bilangin anak BEM, jangan beraninya ngedemo presiden doank, coba itu sarjana bisnis yang lagi kerja dan juga sarjana pertanian yang kerja di bank tolong didemo juga.

Haduh, haduh,
Begitulah ya kondisi anak muda jaman sekarang, mereka lebih serius sama hal yang nggak penting, tapi susah serius sama hal yang penting.

Bukannya sok-sok ngoreksi sih, tapi ada benernya juga ketika paradigma orang untuk kuliah adalah biar mudah mencari kerja, padahal fakta udah ada di mana-mana. Dan makin parah ketika mereka berpikir, wisuda tepat waktu, kuliah semua mudah, skripsi tanpa revisi, lulus nilai bagus, nilai bagus kerja mulus.  

Hidup tidak sebercanda itu. (Eyang Sudjiwotejo).

Nah, bagi kamu yang belum bekerja, semoga segera dapet pekerjaan ya? Salah jurusan itu gak papa, asal jangan salah pekerjaan. Dan selalu ingat dalam diri bahwa, menganggur itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga, ppffttt.

*kabur

Kasih komentar menarik di kolom komentar untuk artikel ini, dan jangan lupa share artikel ini di twitter kamu dengan mention @CAKthemovie dan @joejuhdy untuk dapetin hadiah mulai dari merchendise menarik, tiket premier nonton bareng actress dan actor pemeran CAK The Movie, dan hadiah menarik lainnya.
31 Januari 2015
Pidato Mahasiswa Lulusan Terbaik

Pidato Mahasiswa Lulusan Terbaik

Ketika ada orang yang bilang, "IPK itu nggak penting",
Bisa dipastikan, mahasiswa yang setuju dengan kata-kata itu adalah mahasiswa yang IPK-nya nangkring. Iya kan? Udah ngaku aja lo?! Dasar cemen.

Sedangkan orang-orang yang nggak setuju dengan statement di atas, di antaranya; 1) Mahasiswa yang IPK-nya terlanjur gede, 2) Mahasiswa yang lagi berjuang nge-gedein IPK-nya, 3) Dosen, 4) Tukang fotocopy -yaiyalah.

Pun ketika ngebaca banyak artikel yang ngebahas tentang IPK dan persaingan di dunia kerja, kebanyakan artikel juga membahas bahwa, minimal untuk bisa bekerja di perusahaan bonafit seenggaknya IPK dijaga jangan kurang dari 3,00.

Terus gimana nasib sarjana yang IPK-nya kurang dari itu? Berarti sarjana-sarjana yang nganggur itu adalah sarjana yang IPK-nya kurang dari 3,00?

Dari statement begitu, muncullah keparnoan di lubuk hati para mahasiswa, yang berujung pada kerjaan mereka di kampus yang cuma kuliah, dapet nilai bagus, biar kerja di perusahaan bagus.

Hehe,
Bagi gue, mereka nggak salah, tapi kasian aja, kesannya mereka nggak bisa menikmati masa-masa indah di kuliah, hoek.

Gimana nggak, di kampus kerjaannya kuliah terus, nggak ada waktu untuk mengembangkan diri, nggak sempat punya cerita 'catatan-catatan kuliah'. Belum lagi kalo mahasiswanya salah jurusan -terus aja maksain diri berjuang di bidang yang nggak disuka. Mereka bukanlah mahasiswa yang pintar, tapi mahasiswa yang ketakutan.

---

Beberapa minggu lalu, gue menghadiri undangan kampus sebagai alumnus, di acara wisudaan adik kelas. Lumayan dapet snack gratis, nggak lupa gue bawa gerobak buat angkut nasi box yang nggak kemakan.

Hari itu, gue melihat wajah-wajah wisudawan yang begitu ceria dan bahagia, mereka begitu polos. Walau udah ketebak, paling besok udah pada melakukan praktek bunuh diri karena ditanya terus, "Kapan kerja?"

Seperti biasa, dalam acara seremonial seperti itu, selalu ada pidato dari mahasiswa lulusan terbaik. Biasanya isi pidato mereka seputar ucapan syukur, terima kasih, dan motivasi. Sangat formalitas. Mahasiswa lulusan terbaik, selalu mereka yang punya IPK paling tinggi. Entah penilaiannya memang hanya sekedar IPK, atau memang ada penilaian secara khusus dari kampus.

Apa yang disampaikan mereka selalu sama setiap tahun. Jarang ada yang berkesan, atau yang bisa bikin audience nangis-nangis kayak abis nonton pelem Korea. Padahal, di setiap undangan serupa, gue pengin ada mahasiswa lulusan terbaik yang lebih 'berani' dan 'jujur' tentang perasaan mereka yang sesaat lagi akan berhadapan dengan realita.

Saat-saat kayak gini, gue selalu menyesali diri, dan mulai berandai-andai.

Seandainya waktu wisuda dulu gue yang dikasih kesempatan berpidato, gue akan berusaha mewakili semua perasaan para wisudawan, gue akan berusaha lebih jujur tentang apa yang gue rasa, daripada hanya sekedar menyampaikan pidato formal belaka.

Mungkin pidato gue akan seperti ini,

"Yang terhormat, Dekan beserta jajarannya, dosen yang saya cintai dan tidak saya cintai, untuk temen saya, sahabat saya, dan mantan-mantan saya... oiya, saya nggak punya mantan,  

Assalamualaikum wr wb, dan salam sejahtera bagi kita semua. 

Hari ini saya berdiri di hadapan ratusan orang, di mana biasanya mahasiswa yang punya kesempatan berbicara seperti ini, pasti akan menyampaikan 3 hal umum, 1) terima kasih kepada dosen, orang tua dan kampus, 2) suka cita selama berkuliah, 3) dan kalimat motivasi, yang saya tau pasti dia copy-paste dari kata-kata Mario Teguh. 

Yang sayang sekali mereka lupa, kalau Google dan Wikipedia, lebih banyak membantu daripada dosen-dosen mereka, dan indomie telor lebih sering menemani saat skripsi daripada temen mereka sendiri. Dasar tidak tau terima kasih. 

Kali ini, saya akan mencoba lebih jujur pada diri saya sendiri, walau sebenarnya saya takut menyampaikan ini, bisa-bisa saya batal wisuda. Tapi saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa hal ini perlu dan penting saya sampaikan. Saya ingin menyampaikan tentang apa yang saat ini benar-benar saya rasakan.

Saya melakukan banyak hal untuk mempersiapkan diri ketika lulus nanti, terima kasih untuk dosen dan kampus yang mengajarkan saya banyak hal, saya menjadi pribadi yang rajin menulis, menghitung, merangkum, membuat laporan, dan hal lain yang bisa saya kerjakan agar nilai saya baik dan bagus untuk melamar pekerjaan bagus nantinya. 

Saya tidak berbeda dengan teman-teman yang lain, kita diajarkan pelajaran yang sama, kita punya skill yang sama, walau mungkin angka prestasi kita yang berbeda. Namun dari kesamaan itu, saya berpikir jika kita semua berkompetisi untuk satu bangku lamaran pekerjaan yang sama, apa bedanya kita seperti orang kelaparan yang berebut sepiring nasi, saya tidak suka kompetisi seperti itu, saya lebih mengharapkan agar saya diajarkan untuk saling merangkul. Tapi saat ini, saya bingung harus bagaimana.

Sejak awal saya kuliah, dosen, teman, orang tua, alumni, selalu mewanti-wanti saya agak mempertahankan nilai di batas standar tertentu untuk menjamin pekerjaan yang baik setelah wisuda. Seakan memaksa saya untuk berpikir bahwa, tidak ada karier yang baik apabila saya lulus dibawah nilai standar, yang membuat saya menjadi semakin takut, dan semakin giat masuk kuliah dan menghafal. 

Apakah nilai kuliah yang bagus itu menandakan kita lebih pintar? Tidak, karena ujian kuliah saat ini tidak berhubungan dengan kepintaran, tapi daya ingat.

Setiap kali saya menerima transkrip nilai saya, selalu muncul pertanyaan dalam benak, "Apakah angka ini adalah hal yang benar-benar harus saya perjuangkan?", saya mencoba acuh, saya harus belajar lebih giat lagi, agar aman mencari pekerjaan. Tapi sayang, sampai saat ini, rasa takut itu tidak hilang.

Mungkin perasaan yang saya alami saat ini, akan sama seperti kejujuran Erica Goldson saat dia berpidato dalam moment wisudanya, dia adalah lulusan terbaik di sekolahnya. Dia begitu menginspirasi saya sehingga saya berani berkata jujur seperti ini. Dan hal lain yang membuat saya kagum adalah, dia berpidato saat lulus SMA, masih sangat muda. 

Di akhir pidato saya kali ini, saya berharap kita semua sebagai wisudawan, bisa berpikir kembali di luar batasan pemikiran kita, bahwa keberhasilan tidak ditentukan dengan batasan angka, saya pun tidak akan menyerah, karena selalu ada harapan bagi yang berjuang. Itu saja. Maafkan atas kejujuran saya. Terima kasih. Wassalamualaikum wr wb.

Oiya, serius amat?"

---

Saat kemarin gue ngeliat mahasiswa berpidato, kasian banget dia karena audience -termasuk dosen-dosennya sendiri malah asik sendiri. Mahasiswa yang dicuekin begini nggak akan bisa marah, walaupun sering dimarahin ketika mereka juga cuek ketika dosen nerangin saat kuliah. Nggak adil ya.

Tapi gue yakin, seandainya gue (atau ada mahasiswa) yang berpidato kayak di atas, pasti orang-orang di auditorium yang tadinya ngobrol, main gadget, atau ngemilin snack, akan berhenti sejenak, hening dan focus mengamati gue yang berpidato dengan hikmat. Dan ketika selesai berpidato, gue yakin, mereka akan berdiri sambil memberikan standing applause (sebuah penghormatan tertinggi), dan tentunya juga ngelemparin gue dengan snack box. "Ngomong apa lo? Mati aja lo!?"

Tapi beneran, gue sangat berharap kepada mahasiswa yang ditunjuk sebagai mahasiswa lulusan terbaik nantinya, jangan sampaikan pidato yang biasa-biasa aja, karena udah terlalu hambar, tapi agar bisa mengeluarkan semua uneg-uneg tanpa ada rasa nggak enakan, sehingga menyampaikan pesan yang lebih jujur, tanpa dibuat-buat.

Bukankah negara ini sudah banyak yang berprestasi? Tapi sedikit yang berani jujur?

Ah udah ah,

28 Januari 2015
Catatan Akhir Kuliah The Movie Cooming Soon

Catatan Akhir Kuliah The Movie Cooming Soon

Mengutip sebuah kalimat yang juga gue tulis di novel (sampe sekarang gue nggak tau bedanya novel dan buku, yang jelas Catatan Akhir Kuliah itu bukan skripsi),

"Setiap mahasiswa yang mau jadi sarjana, pasti punya catatan masing-masing. Dan skripsi, hanyalah sebuah catatan akhir kuliah."

Alhamdulillah, jadi inget setahun yang lalu, tanpa disangka, baru satu bulan novel CAK rilis di toko buku -terima kasih untuk Bentang Pustaka, gue langsung dihubungi oleh produser film (DariHati Films) via facebook messanger.

"Dengan Sam? Pengarang novel Catatan Akhir Kuliah?"
"Iya, ada yang bisa saya bantu?"
"Sam.. mau nggak.."
"Sorry Mas, kita temenan aja yach."
"..."

So, lewat komunikasi yang hangat, gue pun diundang oleh pihak Production House (PH) untuk ketemuan dan berdiskusi perihal kontrak kosan yang belum dibayar. Gue ketemu sama Produser, Sutradara, dan Scriptwriter-nya. Setelah kita sepakat, proses shoting perdana pun dilakukan pada bulan November sampai selesai dengan lancar.

Bagi yang belum tau, CAK The Movie ini mengadaptasi cerita dari novel gue. Kalo kamu udah membaca, pasti kalian sudah mengimajinasikan kehidupan Sam (Muhadkly Acho) dalam aktifitas di perkuliahannya, tentang persahabatan dengan dua temen idiotnya: Sobari (Ajun Perwira) dan Ajeb (Abdur Arsyad), juga cerita komedi-romansa dalam mengejar pujaan hatinya: Kodok (Anjani Dina).

Dan cerita-cerita itu divisualisasikan dalam sebuah film.

Ngomong-ngomong soal novel yang difilemin, pengalaman kita ketika ada film yang based on novel, kebanyakan orang akan berkomentar, "Yah, kok ceritanya beda sama novelnya ya?", "Loh kok gantengan Sam yang asli daripada yang di film ya?", "Loh kok gue ada di sini ya?", atau "Loh kok gue lupa pake celana dalem ya?"

Komentar-komentar begitu pasti akan datang silih berganti, tapi kali ini (setelah kemarin diajak nonton rough preview-nya CAK The Movie), gue ngerasa sangat envy, karena secara jujur gue menyampaikan bahwa penyajian Mas Jay selaku sutradara dan Joe sebagai scriptwriter-nya telah membuat gue sangat terpesona sama film ini.

Baru aja beberapa hari lalu, CAK The Movie (yang masih dalam tahap editing), sudah lock-pic (Istilah dalam perfeleman kalo potongan-potongan scene sudah diedit menjadi rangkaian cerita, kira-kira gitu, gue juga nggak tau ngomong apa.)

PH pun mengundang gue ke studio editing untuk preview watch hasil edit scene-scene tersebut. Gue datang sekaligus mengajak salah satu temen gue, namanya Sastro. Temen gue ini kampret, gue suruh beli dan baca buku gue, tapi yang dia beli malah buku kama sutra.

Kita pun menonton preview tersebut, durasinya xxx menit, gue menonton dari jam 23 malam, dan selesai kira-kira jam 1.30 dini hari. Gue ngantuk banget. Karena undangan untuk nonton itu jam 19 malem, tapi baru bisa nonton jam 23, kampret juga nih orang pelem. Dan, kebetean gue makin menjadi setelah di akhir film ini selesai diputar, "Duh, kalo lebih laku pelem ini daripada novelnya gimana nih?", gue dalam hati, makin bete.

Preview tersebut adalah rangkaian scene yang belum ditambahin efek digital lain seperti soundtrack, CGI, transisi, dan lain-lain, tapi hasilnya udah membuat gue AMAZED banget. Yang tadinya gue ngantuk, setelah nonton itu malah jadi nggak bisa tidur, (ini solusi resolutif buat dosen ketika mereka menghadapi mahasiswa yang tidur di kuliah, yaitu nonton film CAK di kelas). (Terima kasih buat Mas Ryan, editor film-nya, yang juga ngedit film Assalamualaikum Beijing. Keren banget!)



Udah nonton mini teasernya?
Oke lanjut,

Baik dari cerita, karakter, acting, alur, dan lain-lainnya udah mantep banget. Kira-kira 60 menit pertama, gue nggak berhenti ketawa dengan ulah karakter Ajeb (Abdur) yang memang diposisikan sebagai orang gila di sini (aslinya emang udah gila sih), satu studio itu penuh dengan ketawa ngakak orang yang nonton, sampe-sampe gedungnya mau roboh karena gempa. Iya ini lebay.

Acho yang memerankan Sam (gue) juga keren banget, gue nggak tau, mungkin selama proses shooting, dia dengan diam-diam mengamati kehidupan keseharian gue untuk mendalami karakter, "Ja-jangan jangan pas gue mandi ... ", tapi di sini, mungkin ini hasil konspirasi Mas Jay dan Joe, Sam dibuat menjadi karakter yang ngenes banget kehidupannya, jelas gue nggak terima, kan aslinya lebih ngenes -lah?

Ajun sebagai Sobari juga memainkan perannya dengan mantap, yaitu sahabat Sam yang kutu buku dan selalu memberikan motivasi kepada Sam biar jangan menyerah dalam skripsi dan cintanya.

Arrg, nggak ada abisnya kalo gue ceritain satu per satu di sini, gue juga nggak mau ngasih spoilers, cukup sedikit sinopsis singkat aja biar kalian penasaran, penasaran kan? Penasaran donk, plis. Sastro aja (temen gue yang kagak beli dan baca buku gue), dalam perjalanan pulang kami dari studio, kagak berhenti ngasih komentar positif untuk film ini,

"Anjrit, keren banget filmnya. Itu beneran kisah elo, Sam? Gila juga."
"Serius keren?"
"Iya, gue aja nonton sekali masih pengin nonton lagi."
"Gitu?"
"Iya, tapi ada yang kurang."
"Apaan?"
"Elu kurang ganteng."
"...", setir mobilnya gue banting. 


Cooming Soon di bioskop kesayangan kamu. Follow twitter @CAKthemoive dan instagram-nya @Cakthemovieofficial untuk info, snapshots, promo, dan quiznya,

Kasih komentar menarik di kolom komentar untuk artikel ini, dan jangan lupa share artikel ini di twitter kamu dengan mention @CAKthemovie dan @joejuhdy untuk dapetin hadiah mulai dari merchendise menarik, tiket premier nonton bareng actress dan actor pemeran CAK The Movie, dan hadiah menarik lainnya.
Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved