New Post

Rss

26 Mei 2015
Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Solusi Kelulusan Sarjana selain Skripsi

Kabar gembira. Kata Menristek, skripsi nantinya bukan menjadi syarat wajib lulus jadi sarjana. Ke depan wacananya, untuk jadi sarjana, mahasiswa nggak harus bikin skripsi, tapi dikasih pilihan lain seperti bunuh diri atau lompat dari gedung rektorat. Maksudnya milih antara skripsi, laporan penelitian, atau pengabdian masyarakat.

Denger-denger alasan kenapa skripsi nggak diwajibin nantinya karena banyak oknum jual beli skripsi, jadi skripsi yang kalian liat setiap hari di perpus, bisa jadi bukan bikinan mahasiswa, tapi bikinan dukun.

Selain itu, mungkin ada evaluasi kalo bikin skripsi itu yang tujuan awalnya untuk menambah wawasan ilmiah, nggak terlalu ngefek sebagai solusi secara langsung atas masalah yang ada di masyarakat. Bahkan mungkin semakin memicu pemasanan global, secara makin banyak skripsi, makin banyak pohon tereksploitasi. BAKAR!

Bagi gue pribadi -yang udah lulus, skripsi itu nggak ada efek nyata dan langsung untuk kita setelah lulus kuliah, kecuali bagi mereka yang pengin kuliah lagi di bidang yang sama atau bekerja di bidang yang sama -jadi dosen atau praktisi. Dan sangat tidak ngefek bagi mereka yang kemudian kerja di bank, atau jadi agen asuransi.

Kalo nggak percaya, coba tanya kakak kelas kamu yang udah lulus dan bekerja, apa ketika mereka interviu kerja ditanyakan skripsinya apa? Jawabannya pasti nggak, karena gue juga yakin, pewawancaranya pasti nggak mau ngungkit-ngungkit dirinya sendiri pas dulu ngerjain skripsi. HINA!

Skripsi bagi institusi tentunya bermanfaat selain untuk ngisi pajangan di rak-rak buku, juga untuk menambah kekhasanahan dunia ilmiah. Tapi dari sisi mahasiswa, skripsi itu lebih banyak sia-sianya gue rasa, dan kayaknya yang membaca ini 90% setuju, bagi yang nggak setuju, coba cek diri kamu sendiri, jangan-jangan kamu zombie.

Walaupun memang, secara bawah sadar bagi orang yang membuat skripsi, mereka akan lebih pintar berpikir analitik. Seenggaknya salah satu sisi positifnya itu, yang lainnya salah semua.

Balik lagi soal wacana oleh Menristek, ada yang sepakat, ada juga yang nggak sepakat ketika skripsi bakal nggak diwajibin bagi yang mau jadi sarjana. Kalo mahasiswa pada sepakat, itu udah lumrah. Cuma gue rada curiga sama mahasiswa atau orang yang nggak sepakat dengan usulan skripsi yang bakal diganti ini. Mungkin kalo skripsi udah nggak diwajibin, mereka bakal kehilangan bisnis perdukunan skripsi-nya.

Tapi gue nggak mau suudzon, siapa tau mereka emang pengin mempertahankan sistem skripsi sebagai syarat lulus, karena orang yang nggak bisa bikin skripsi, nggak bisa dibilang 'gentle', katanya. Bener memang, pressure makes you stronger.

---

Gimana donk solusi terbaiknya?

Kebayang kalo gue jadi rektor, gue akan lebih santai meluluskan mahasiswa-mahasiswanya, "Kalo lulus ya lulus aja, kenapa harus gue yang repot?!", kemudian lompat dari rektorat.

Seandainya kejadian mahasiswa yang mau lulus dikasih pilihan skripsi, penelitian, atau pengabdian masyarakat; gue rasa jatohnya akan jadi sama aja, yaitu mahasiswa yang lulusnya karena terpaksa.

Selama selalu ada patokan untuk lulus, akan ada aja cara mahasiswa untuk ngakalin jalan pintasnya, mahasiswa kan jenius. Dan ada alasan kenapa mahasiswa bisa berperilaku seperti ini, yaitu karena desakan.

Logikanya, mahasiswa kuliah sendiri, biaya sendiri, ngurus lulus sendiri, setelah lulus nyari kerja sendiri. Apa nggak gila?! Belum lagi ketika mereka harus dihadapi dengan kenyataan hidup: 12 tahun sekolah, 4 tahun kuliah, kemudian kerja seumur hidup.

Nah, harus ada solusi win-win antara mahasiswa dengan kampus sebagai pintu terakhir untuk bisa berkarier dalam hidup, salah satunya adalah mahasiswa dikasih kebebasan untuk milih jalan kelulusannya sendiri: sesuai dengan minatnya apa, passionnya apa, dan potensinya apa.

Instagram: @maulasam

Karena nggak semua mahasiswa seneng penelitian atau pengabdian, ada aja mahasiswa yang suka bisnis, arahin lah mahasiswa itu untuk bikin bisnis plan dengan modal kecil. Ada juga mahasiswa yang suka jurnalis, bisa diarahin ke dunia jurnalistik. Ada juga mahasiswa yang seneng main game, bikinin mereka kompetisi game: yang menang lulus - yang kalah ngulang. Ini baru kompetisi sehat!

Hmm, jadi kepikiran. Kenapa dulu sekolah siswa-siswi masuknya bareng dan lulusnya bareng, sedangkan kuliah mahasiswa masuknya bareng tapi lulusnya sendiri-sendiri? Ini kan hal simple tapi ajaib. Satu alasannya, karena guru sekolah itu lebih perhatian sama murid-muridnya, lah kalo kuliah, jangankan perhatian, dosen yang inget nama mahasiswanya aja udah terancam punah.

Jangankan wacana skripsi yang dijadi pilihan, sebenernya -imho, sistem yang dipake saat ini pun masih bisa efektif, asalkan peran dosen sebagai 'pengganti orang tua di kampus' bisa dimaksimalin. Dimana mereka mampu memprioritaskan mahasiswa bimbingannya di atas semua kesibukan dan project-project mereka: mahasiswanya dibimbing dengan sabar dan asik, ramah dan baik, untung-untung SPP mahasiswanya dibayarin, dibayarin juga uang bulanannya, atau dijodohin sama anaknya yang cakep.

Gue rasa, apapun syarat kelulusan seorang sarjana, seandainya dosen bisa lebih perhatian, semuanya akan baik-baik aja. Ya gak?

Itu pendapat gue, gimana pendapat kamu? Tulis di komen ya, untung-untung kamu bisa kasih opini sendiri di blog kamu, kemudian share link-nya ke gue dan @bentangpustaka di twitter, selain opini kamu dibaca ribuan orang, kamu juga berkesempatan menangin hadiah dari Bentang lewat Kompetisi Bercerita. Yuk ikutan, posternya bisa dicek di bawah.


22 Mei 2015
Dilema Aksi Mahasiswa

Dilema Aksi Mahasiswa

Temen-temen udah ikutan Kompetisi Bercerita dari Bentang? Kalo kalian punya opini atau cerita tentang dunia kuliah dan kerja, boleh tuh diikutsertakan di Kompetisi Bercerita, liat posternya ya,


---

Oke, lanjut ke tulisan kali ini, gue mau beropini tentang aksi mahasiswa yang kemarin ramai diperbincangkan.

Langung aja ya. Gue, yang dulu juga aktifis kampus, punya pendapat bahwa aksi mahasiswa itu lebih banyak absurdnya daripada konkretnya, mengatasnamakan suara rakyat, alih-alih cuma sekedar enggak enak sama temen organisasi, nggak sedikit yang bikin macet sana-sini, penginnya mencuri hati rakyat, tapi malah melukai hatinya -lah kok melow.

Beberapa mahasiswa juga nggak ngerti apa yang mereka aksi-in. Beberapa yang lain udah mantep motivasi ikut aksi, berteriak mengkritisasi kebijakan pemerintah, tapi minim gagasan solusi yang progesif. Nggak ngerti kan? Sama, gue juga.
"Sam, ikut Aksi yuk, massa-nya kurang nih. Wah gak sohib lo!?"
"Duh, gimana ya. Gue ada kelas nih, gue juga gak ngerti aksi."
"Jadi elu lebih milih kuliah daripada nasib bangsa ini?! Udah ikut aja!"
Kemudian gue make almamater dan ngasah bambu runcing.
Gue juga yakin, salah satu motivasi mahasiswa yang menggerakkan aksi itu juga karena pengaruh tradisi, "Masa', tahun-tahun lalu ngadain aksi besar-besaran, di angkatan gue nggak ada aksi?", makanya ketika mereka 'disenggol' tentang aksi mereka, mereka selalu ngungkit-ngungkit yang lalu-lalu (move on donk), berambisi banget biar bisa dikenang kayak mahasiswa angkatan 98 yang menurunkan presidennya, alih-alih gagal, yang turun malah IPK-nya.

Nah biar fair, gue juga nggak sependapat dengan beberapa kebijakan pemerintah, well, sering kali gue juga menjadi pihak yang dirugikan, seperti BBM naik, harga pangan naik, harga ongkos angkutan naik, harga pomade naik, sedangkan IPK nggak naik-naik. Iya gue curhat.

Tapi, apakah respond kita sebagai kaum intelek harus selalu dengan cara berteriak di jalan tanpa aksi nyata? Seakan-akan aksi itu menjadi cara paling mudah untuk mengatasi masalah bangsa. Ehem.

Anyway, gue nggak mau membahas pro kontra aksi/gerakan mahasiswa saat ini, udah banyak yang ngebahas, karena gue juga sepakat bahwa mahasiswa itu bertugas sebagai kontrol pemerintah.

Tapi jaman sekarang, aksi mahasiswa itu udah kayak MLM, gue yakin keduanya punya niat baik, tapi stereotip di masyarakat, keduanya udah punya makna yang kurang positif, mahasiswa harus cari cara kreatif lain untuk menyuarakan suara rakyatnya, dan tentunya didampingin dengan aksi nyata yang berkelanjutan.

After effect.

Di sini inti tulisan gue, yaitu bagaimana kehidupan mahasiswa yang suka aksi setelah menghadapi kehidupan pasca kuliah? Jeng-jeng. Serius ini seru, dan gue harus buka-bukaan soal ini. *buka baju

Gue masih tergabung dalam komunitas sesama teman organisasi, kita sering chit-chat banyak hal di grup WhatsApp, ngebahas ini dan itu. Dan kemaren saat aksi mahasiswa marak di media, terjadi percakapan kayak gini,
"Liat deh mahasiswa sekarang, masa aksinya kayak gitu."
"Hello guys!? Dulu kita juga kayak gitu keles."
"Hah? Iya ya? Hahaha.", kita semua ketawa dan ngebanting hape masing-masing.
Bagi temen-temen mahasiswa, seriusan, mungkin ini sebab kenapa sedikit rakyat yang bersimpati dengan gerakan mahasiswa, padahal simpati itu penting untuk meraup masa rootgrass agar sebuah gerakan makin berpengaruh. Semakin berpengaruh, semakin besar efeknya.

Dilema.

Beberapa temen mahasiswa gue yang dulu nggak pernah absen ketika aksi, dulu sangat anti dengan Amerika, setelah lulus dan berhadapan dengan kejamnya dunia, sekarang dia ngejualin produk MLM dari Amerika, niat banget lagi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan kebijakan pemerintah tentang eksploitasi sumber daya alam, sekarang kerja di perusahaan eksploitasi.

Ada juga yang dulu sangat anti dengan pemerintah, sekarang nggak pernah ketinggalan ikutan CPNS. Belum lagi yang kerja di bank, lebih lebih lagi. Malah mereka nawarin gue pinjaman nasabah.

Ini gimana?! Posisi gue saat ini ada di antara pengin nangis dan ketawa. Ketika gue bertanya ke mereka, mereka menjawab, "Ini rejeki dari Tuhan.", segampang itu kah bawa-bawa nama Tuhan.

Ini memberikan citra general bagi diri gue sendiri kepada mahasiswa saat ini, bahwa apa yang mahasiswa lakukan sekarang, yang begitu idealis, begitu keras, begitu panas, hanya sekedar membawa paradigma yang sporadis dan pragmatis. Sedangkan konsistensi dan komitmen masih dipertanyakan.

Intinya, apakah idealisme mahasiswa akan terus dibawa setelah lulus nanti? Bicara soal idealisme, jangan menjadi orang yang naif. Toh sangat mungkin sekali, petinggi-petinggi negara ini yang mahasiswa kritisasi, dulunya juga mahasiswa yang ikut beraksi. Bagi gue, aksi itu bukan hanya berdemo di jalanan, aksi itu lebih kepada kemantapan pola pikir yang konsisten dengan diiringi aksi nyata positif yang walaupun sedikit, tapi berkelanjutan. Gue juga nggak ngerti lagi ngomong apa.

---
Tulisan ini untuk memperingati HARI KEBANGKITAN NASIONAL. Semoga kita menjadi pribadi yang konsisten antara mulut dan aksi nyatanya. Sorry for this late post.
2 Mei 2015
Catatan Akhir Kuliah 2.0

Catatan Akhir Kuliah 2.0

HORE!

Alhamdulillah, Buku Pertama gue Catatan Akhir Kuliah 1.0, udah terbit satu tahun lalu, dan sekarang Catatan Akhir Kuliah 2.0 ikutan terbit lagi!


Penerbitnya tetep sama, Bentang Pustaka. Terima kasih Bentang, udah sudi menerbitkan buku yang hina ini. Tapi tetep keren kan? Ya kan?

Anyway, langsung aja bercerita sedikit tentang CAK 2.0. Bisa dikatakan isi cerita dari buku kedua ini adalah sequel dari buku pertama. Kamu akan tau cerita kelanjutan gue dengan Kodok, nasib tiga sahabat idiot: Sam, Sobari, dan Ajeb setelah mereka lulus kuliah. IYA, KITA UDAH LULUS?!

Bagi kamu yang masih kuliah dan pengin banget lulus, gue sarankan membaca buku kedua ini, karena apa? Karena kalian pasti akan mengurungkan niat untuk lulus buru-buru, dan segera mendaftarkan diri ke komunitas KB, Kuliah Berencana: Hindari kelulusan dini, IPK 2 lebih baik.

Alhamdulillah, karya yang kedua ini gue mendapat apresiasi yang bagus banget dari beberapa pembaca, dan tentunya editor gue sendiri di Bentang, "Tulisan kamu berkembang Sam. Buku kedua ini jauh lebih baik secara konten dan teknik menulis. Kamu juga makin ganteng."

Terima kasih sekali lagi kepada Bentang yang terus men-support, bisa kali royaltinya dinaikin? Pft.

Okedeh, nggak berlama-lama. Bagi kamu yang mau tau kehidupan seorang fresh graduated yang baru aja lulus kayak gimana, atau bagi kamu yang mau adu apes-apesan sama gue, kamu wajib beli buku ini.

Tersedia di Gramedia, Gunung Agung, Togamas, dan mas-mas bertoga lainnya. :)

--

APA? KAMU NGGAK PUNYA DUIT BUAT BELI!?

Santai, karena gue dan Bentang Pustaka anak yang baik, kami lagi bikin Kompetisi Bercerita Catatan Akhir Kuliah 2.0 nih, bagi kalian yang mau ikutan, buruan ikutan dan menangin hadiah kece dari Bentang Pustaka dan Ositmen, lagi-lagi Ositmen! Iyalah, kaos-nya keren-keren, kamu bisa cek IG-nya di @ositmen.

Ini dia ketentuannya, happy quiz-ing.


7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

7 Alasan Kenapa Kamu Harus Telat Lulus

Siapa bilang telat lulus itu aib pribadi? Telat lulus itu bukan aib pribadi ... tapi aib keluarga.

Galau ya kalo kuliah kelamaan lulus? Iya, rasanya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. Kan bete.

Banyak yang nanya ke gue, "Kak Sam, gimana caranya ngatasin perasaan ketika banyak temen yang lain udah lulus duluan?" Sebenernya jawabannya simple, siapa bilang orang yang lulus duluan itu lebih bahagia, siapa juga yang bilang kalo orang yang nikah duluan menjamin bahagia. Bahagia itu sederhana, nggak usah terlalu mikirin kehidupan orang. Iya, sesimple itu. Rasa cuek itu penting.

Ambil sisi positif dari pengalaman yang ditinggal wisuda duluan, karena wisuda telat itu mengajarkan kita membedakan mana yang sekedar teman, mana yang mengaku sahabat, dan mana yang bener-bener sahabat, karena sahabat setia wisuda bersama.


Sebagai motivasi, mungkin sebagian dari kalian masih sulit melihat sisi positif dari pengalaman wisuda yang telat. Beberapa udah dijabarkan di atas, detailnya seperti berikut,

1) Status
Status mahasiswa itu lebih bergengsi dari pengangguran, banyak calon sarjana jaman sekarang yang ngebet mau lulus, tapi nggak siap bekerja. Mumpung masih mahasiswa, ada baiknya kita belajar gimana bekerja, biar ketika lulus nanti, kita punya alasan yang tepat. Karena lulus tepat waktu dan di waktu yang tepat, akan kalah sama lulus yang dipersiapkan dengan tepat.

Kebanyakan sarjana salah kaprah, mendaftar kerja cukup bermodal IPK, padahal pengalaman kerja itu jauh lebih dibutuhkan. Coba kita liat dari sudut pandang pemilik usaha; misal kamu pengusaha, dan lagi butuh pegawai, mana yang akan kamu pilih sebagai recruitment:
a) IPK gede tapi kerjanya nggak bener.
b) IPK seadanya tapi terampil bekerja.
c) IPK gede, kerja terampil, dan cakep.

Kalo gue, gue akan pilih (b) untuk jadi pegawai, dan (c) untuk dijadiin istri.

2) Nggak punya beban
Nyebelin itu ketika temen yang baru aja wisuda atau wedding, kemudian mereka ngepost moment-moment bahagia mereka di facebook. Bolehlah sekali dua kali, tapi ini sebulan ngeposting begituan terus.

Coba amatin, posting pertama yang ngelike dan ngecomment akan banyak banget, tapi seiring berjalannya waktu, jumlah likes and comments akan berkurang. Hal ini disebabkan, karena kita semua tau, bahwa sikap mereka itu bikin eneg, atau jangan-jangan, jumlah likes dan comments yang banyak itu adalah mereka sendiri yang bikin akun cloning. Ngelikes posting sendiri, comment posting sendiri. Gila.

Ini kok gue curhat.

Anyway, tau kah kalian perasaan temen yang wisuda duluan tapi nggak kunjung dapet kerja, mereka itu kayak kemakan omongan sendiri, mereka punya beban sendiri, dan rasanya itu nggak enak, ibaratnya itu kayak kamu kebelet pup, WC lagi ngantri, kamu sakit perut, pas antriannya beres, kamu jongkok, eh pup-nya nggak keluar. KOK UMPANYA KAYAK DI ATAS!?

Intinya, lulus nggak usah cepet-cepet, kalo nggak cepet dapet kerja kan nyesek.

3) Terkenal
Telat lulus itu akan membuat kamu terkenal. Selain terkenal oleh mahasiswa, kamu juga akan dikenal dosen-dosen, mba-mba warteg, satpam, tukang parkir, tukang fotokopi, dst. Nah, kalo kamu terkenal, follower twitter dan instagram kamu akan bertambah, nanti kalo udah banyak, kamu bisa jualan. Kamu akan kaya sebelum wisuda, kamu akan KAYA! KAMU AKAN KAYA!

4) Banyak yang ngedoain
Jangan remehin doa-doa orang yang ter-aamiin-i, waktu gue telat lulus dulu, banyak orang yang prihatin, jadi banyak orang yang ngedoain.
"Lama banget lulusnya Kak? Cepet lulus ya, Kak?" Aamiin.
"Semoga segera nyusul, Sam. Sukses ya?" Aamiin.
Walaupun mereka cuma berkata-kata, tapi gue yakin bahwa kata adalah doa. Kalo mereka niatnya ngejekin atau gimana, selama kata-kata mereka positif, aamiin-in aja. Siapa tau kekabul.

5) Gampang nyari jodoh
Telat lulus itu asyik, karena adek kelas mahasiswa baru setiap tahun akan bertambah. Ini asyik banget ketika kamu udah berhasil nggak terpengaruh dengan 'keharusan lulus tepat waktu'. Karena apa? Mungkin kita bosen dengan wajah temen-temen seangkatan, untuk itu, Tuhan menurunkan rahmat-Nya dengan mendatangkan wajah-wajah baru berupa maba-maba.

Kalo wajah kamu termasuk yang nggak terlalu terlihat tua, anggaplah menjadi senior di kampus sebagai kesempatan mencari jodoh, ini hadiah dari Tuhan, tapi bbagi kamu yang emang tampangnya udah ketuaan, saran gue sebelum ngedeketin maba, kalian beli krim anti-aging satu kontainer, tuangkan di kolam renang, dan mandilah di sana 3 kali sehari.

6) Downline semakin banyak
Ini khusus bagi kamu yang menggiati aktifitas MLM, menjadi terlalu tua di kampus bisa dijadikan ajang mencari network yang lebih luas, biasanya maba-maba tuh gampang dipengaruhi, terutama mahasiswi-nya. Cobalah dekati mereka, tawarkan produk kecantikan dan pembalut. KAMU AKAN KAYA!

7) Kamu akan mendapat pahala yang besar
Pernah nggak ngebayangin, ketika kamu nggak kunjung lulus, tanpa sadar kamu sedang mendukung pembangunan kampus kamu. Kamu bayar SPP untuk fasilitas kampus dan gaji dosen, fasilitas kampus bermanfaat untuk ribuan orang, dosen punya keluarga yang dikasih makan, begitu terus siklusnya, betapa bermanfaatnya mahasiswa yang telat lulus. Enak kan? Iya, emang enak ...


Seperti biasa, setiap ada postingan baru, akan ada #QuizChallenge berhadiah t-shirt keren dari Ositmen, caranya gampang: 1) Kasih komentar kamu di blog ini, komentar terbaik yang akan menang. 2) Follow IG @Ositmen di instagram.com/ositmen karena pemenang akan diumumkan di sana.

Jangan lupa sertakan email kalian di akhir komentar ya :)

Copyright © 2012 Sam & Catatan Akhir Kuliah-nya All Right Reserved